Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

Redaksi oleh Redaksi
23 Februari 2026
A A
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Ilustrasi - Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI". (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beasiswa LPDP nyatanya tidak sekadar awardee haru pulang atau tidak ke Indonesia, bertahan menjadi WNI atau beralih menjadi WNA. Tapi ada persoalan-persoalan fundamental yang masih silang sengkarut dan harus dibereskan.

Awardee LPDP memang harus pulang, tanggung jawab sudah pakai pajak rakyat

Merasa berat menjadi WNI sebenarnya beralasan. Gejolak batin itu berangkat dari rasa kecewa dan lelah karena kondisi tidak menentu di tanah air: cari kerja susah, kerja pun dapat gaji rendah, terlalu ribet dengan urusan administratif bahkan untuk urusan kesehatan dan nyawa, dan seabrek kerumitan yang lain. 

Apalagi kabar buruk terus-menerus dikirim oleh aparat negara: terus berulah kepada rakyat sendiri. 

Akan tetapi, sejak awal, dalam aturan yang diberlakukan untuk penerima beasiswa LPDP, ia memang diharuskan untuk pulang kembali ke Indonesia. Memberi kontribusi bagi tanah air. 

Ini sebagaimana tertuang dalam Peraturan Direktur Utama LPDP Nomor PER-9/LPDP/2022 tentang Pedoman Administrasi Pengelolaan Alumni: ditegaskan bahwa alumni wajib berada di Indonesia selambat-lambatnya 90 hari kalender setelah tanggal kelulusan resmi. Selain itu juga harus memenuhi 2 kali masa studi ditambah 1 tahun (2N+1) setelah selesai studi secara berturut-turu.

Jika tidak memenuhi kesepakatan tersebut, maka awardee LPDP akan dikenai sanksi ganti rugi biaya sesuai jumlah yang diterima. 

Sejalan dengan itu, kemarahan publik pada para awardee yang enggan pulang pun beralasan. Apalagi secara berlebihan “pamer” telah memindah kewarganegaraan anggota keluarga menjadi Warga Negara Asing (WNA). 

Sebab, faktanya, beasiswa yang membiayai seseorang hingga bisa kuliah di luar negeri berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di mana pendapatan utamanya bersumber dari penerimaan pajak yang dibayarkan masyarakat.

Kecaman yang kemudian muncul dari publik: “Kami kerja mati-matian, gaji pas-pasan, dipotong pajak buat bayarin kalian kuliah di luar negeri. Kalian malah nyari enak sendiri!”

Maka, pulang, bagi awardee LPDP mencakup beragam dimensi, meliputi: tanggung jawab moral pada rakyat, tanggung jawab pada komitmen kesepakatan pada lembaga penyedia beasiswa, hingga tanggung jawab intelektual-sosial untuk berkontribusi bagi negara sendiri. 

Pasalnya, orang yang kuliah ke luar negeri dengan beasiswa LPDP, ibarat dikirim untuk menyerap ilmu dan keterampilan dari segala kemajuan dari dunia luar. Setelahnya, ilmu dan keterampilan itu dibawa pulang untuk membangun kemajuan di negara sendiri. Tentu beda soal jika bukan merupakan awardee LPDP. Pilihan untuk menjadi WNA rasa-rasanya lebih berkutat pada persoalan personal.

Selain persoalan harus pulang ke tanah air itu, nyatanya beasiswa LPDP memang masih silang sekarut di beberapa sisi, yang memang harus dibenahi:

#1 Ketimpangan yang terpelihara

Penerimaan beasiswa LPDP sudah sarat ketimpangan. Dan ini yang membuat sering kali beasiswa ini tidak tepat sasaran. Sebab, banyak orang yang tidak bisa memenuhi syarat LPDP lantaran persoalan struktural-sistemik.

Gambarannya seperti ini: di antara syarat lolos LPDP adalah harus memiliki nilai TOEFL/IELTS tinggi. Agar bisa mencapai skor sesuai syarat, seseorang harus menyiapkan biaya tidak sedikit dan berulang untuk mengikuti kursus TOEFL/IELTS. Belum kursus-kursus yang lain. 

Iklan

Jelas saja. Orang yang hidup dalam kemudahan ekonomi (keluarga menengah ke atas (kaya)) jauh lebih mudah mendapatkan akses tersebut. Terlebih, mereka sudah memulai start lebih awal: sejak kecil bisa mengakses pendidikan berkualitas. 

Maka, kualifikasi utama penerimaan harusnya pada aspek akademik. Sebab, kemampuan berbahasa Inggris bisa diasah seiring waktu. 

Bahkan ketika LPDP menyediakan jalur afirmasi (untuk penyandang disabilitas, daerah 3T, prasejahtera), nyatanya pun masih belum bisa mengatasi ketimpangan lantaran lebih sering tersandung urusan yang bersifat administratif. 

#2 Awardee LPDP bingung ngapain kalau pulang ke Indonesia

Kebanyakan awardee LPDP enggan pulang ke tanah air karena persoalan pragmatis: setelah balik, memang mau ngapain? 

Kecemasan itu berangkat dari situasi: awardee LPDP tidak terserap secara maksimal di negara sendiri karena infrastruktur penunjang yang belum memadai. Kalau diserap oleh birokrasi pun kadang kala harus bekerja di bawah standar keilmuannya: alih-alih mengembangkan inovasi tertentu, malah disibukkan dengan urusan laporan. 

Sementara di industri nasional, mereka juga kerap tersisihkan lantaran dianggap over-kualifikasi. Dan realitasnya memang struktur ekonomi nasional masih sangat bergantung pada sektor komoditas. Bukan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Yang terjadi kemudian adalah pemborosan talenta (talent wastage). 

Bagian ini juga masih tak kunjung menemukan solusi konkret. LPDP seolah hanya fokus memberangkat orang kuliah ke luar negeri dan menuntut mereka untuk berkontribusi (pulang ke Indonesia), tapi tidak tahu diminta berkontribusi dalam konteks apa? Negara belum pernah “benar-benar siap” menerima kepulangan para awardee LPDP. 

#3 Peta kebutuhan yang tidak begitu jelas

Ketidaksiapan dan kebingungan itu berakar pada masalah tidak adanya peta kebutuhan negara yang jelas atas pengiriman orang untuk kuliah ke luar negeri (melalui beasiswa LPDP). 

Banyak awardee mengambil jurusan-jurusan populer yang sebenarnya sudah jenuh di Indonesia. Sementara bidang-bidang khusus yang harusnya lebih relevan dengan kebutuhan negara sepi peminat atau sulit menembus standar seleksi.

Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan tenaga kerja (manpower planning) yang ketat guna memetakan: negara sedang butuh spesialisasi atau tenaga ahli seperti apa untuk mengembangkan apa? 

Jika tidak begitu, LPDP berisiko hanya menjadi pabrik pencetak “talenta bingung”, tanpa dampak nyata pada pembangunan nasional.

Yang terjadi kemudian adalah lingkaran setan kejadian yang terus berulang: awardee LPDP enggan pulang, dikecam, dituntut pulang untuk berkontribusi, tapi jika pulang sumber daya manusianya tidak terpakai bahkan sampai kelabakan mencari pekerjaan karena over-kualifikasi. 

Redaksi Mojok.co

BACA JUGA: Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2026 oleh

Tags: awardee lpdpbeasiswa lpdpLPDPpilihan redaksiuang lpdpWNI
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)
Edumojok

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.