Kuliah saya cuma dua semester. Saya keluar kuliah bukan karena terjerembab dalam lubang hitam narkoba atau pergaulan bebas, atau karena saking sedihnya gak punya pacar. Eh, apa? Saya gak punya pacar? Helooooow. Yang pada jomblo, gak usah sewot gitu kali, selo aja selo. Jadi gini, pada suatu malam, saya didatangi seorang Aki-aki dan ia berbicara, “Ai sia, belegug atau kumaha sih? Elu tuh udah gak cocok ngurusin simplisia kering sama muyerin obat. Kasian pasien lu, sembuh kagak, mati iya.” Singkat cerita, saya keluar dari nguli farmasi.

Saya memang belum pernah resmi jadi anggota ekskul-ekskul keren macem Persma, Mapala, Rohis, Arung Jeram, Pramuka, Paskibra, Karate, Marching Band, Kelompok Memasak Anak Muda, Persatuan Pemudi Penggila Ariel Noah, Badan Perencana Untuk Memaksa Mz Phutut EA Mengkonfirmasi Fesbuk Akuh dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi saya punya kakak perempuan yang patut dijadikan contoh jika tahun depan saya jadi meneruskan kuliah lagi, tentu bukan di farmasi.

Mari samarkan nama Kakak saya menjadi Teteh. Iya, saya biasa memanggilnya Teteh. Si Teteh Akuh ini, dari jaman sekolah TK Aisyah hingga ia jadi lulusan UNY, punya banyak sekali teman yang sangat beragam bobot-bibit-bebetnya. Dan saya gemar memperhatikan apa-apa yang membuat Si Teteh disenangi oleh banyak orang. Kamu tahu apa koentji-nya?

BACA JUGA:  Kita Memang Nggak Kebelet Nikah, tapi Sedihnya Orang Tua yang Jadi Skakmat

Jadilah Independen!

Independen di sini, bukannya kamu malah jadi pemurung yang gemar kemana-mana sendirian, atau momotoran sampai ke Ujung Pandang dengan berbagai atribut geng motor di seluruh pakaian yang kau buat sendiri agar dirimu senang. Bukan, bukan itu. Tapi kalo kamu mau yang itu juga gak apa, bukan urusan saya. Kalo nanti saya kuliah lagi, saya akan masuki semua ekskul yang ada, sampe modar juga gak apalah, atau kalo pun gak mampu karena saya hanya manusia biasa, palingan saya akan sekedar nongkrong sama mereka, ngopi-ngopi di warkop deket kampus, ngobrolin hal yang gak penting, ikut ngecengin cewek seksi yang lewat. Dan memang seperti itulah hubungan pertemanan saya dengan banyak teman lelaki saya sekarang.

Balik lagi, kenapa kita mesti berekspansi ke semua ekskul yang ada. Saya punya beberapa alasan yang telah dipadatkan dari beratus lembar penelitian yang saya lakukan selama kira-kira 43.200 detik lamanya. Dan di daftar ini, Anak Persma hanyalah remah-remah rempeyek.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Band

Saya sudah jutaan kali meyakinkan diri, bahwa banyak sekali perempuan di luar sana, yang terpesona dengan gagahnya laki-laki di atas panggung, terlebih ia yang berdiri di barisan paling depan. Sebut saja Jim Morisson atau John Lennon atau Morissey atau Mick Jagger. Siapa yang tak tergila-gila pada mereka?

Meski ya, tak semua penyanyi laki-laki bisa semenggiurkan mereka. Tapi lihatlah, bahkan Bung Rhoma Irama pun sudah membuktikan kualitasya sebagai vokalis andalan, terbukti anaknya bertebaran dimana-mana.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Rohis

Seperti yang dibilang Mbak Indri, menjadi anak rohis adalah pilihan praktis bagi mereka yang ingin menenangkan orangtuanya. Atau jika orangtuamu adalah jenis orangtua pendapatnya tak bisa diganggu gugat, lalu, kau bisa apa? Kawin lari, hah? Astagfirullah. Lagian, Nak, membaca ayat-ayat suci juga bisa membuatmu cerdas, lho.

BACA JUGA:  Jumatan di Kampus Kristen

Bahagianya Pacaran Sama Anak Tata Boga

Ini adalah solusi bagi kalian para perempuan, termasuk saya, yang tak pandai-pandai amat masak kecuali masak Indomie. Selain daripada itu, tiap hari kamu dijamin gak bakal pernah kelaparan. Kalo gak ada duit buat bayar kosan, tinggal suruh pacarmu itu masak dan makanannya kamu jual di kampus. Luar biasa brilian.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Mapala

Ya, ya, ya. Si Teteh itu anak Mapala sejati yang pada akhirnya mengenalkan saya pada adik tingkatnya, untuk jadi pacar saya sekarang. Kau bisa bayangkan betapa so sweet-nya pacaran di gunung. Telinga kami disumpal lagu yang sama, misal saja lagunya Eddie Vedder, sembari tangan saling menggenggam erat.

Bukannya pengen bikin kalian muntah, tapi emang mesti gitu. Kalo saya jatuh ke jurang, apa kagak digorok itu pacar saya sama Si Bapak? Pas di puncak juga kalian tetep bisa baca novel kesukaan, minimal biar dikata kayak Soe Hok Gie gitulah.

Intinya, kalo saya sih gak perlu banget jadi anggota salah satu ekskul yang pilhannya segitu banyak. Intinya, bertemanlah tanpa peduli ‘elo anak mana, emang?’. Karena saat saya punya teman yang beragam, kita punya banyak pilihan untuk menentukan gebetan. Ini strategi yang saya rahasiakan sebenarnya, tapi yaudahlah, demi Mojok.co yang lebih adil, makmur dan berperikemanusiaan, saya bocorkan saja rahasianya.

Segitu dulu tips en trik dari saya. Mau diaplikasikan dalam kehidupan boleh saja, enggak juga gak apa. Da aku mah apa atuh, hanya butiran belek di pojokan matamu.

No more articles