Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadan

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
19 Juni 2015
A A
Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadan

Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di kampungnya, Mat Piti sebetulnya orang yang biasa-biasa saja. Tidak melarat dan tidak kaya, tapi orang-orang mengenalnya sebagai dermawan. Suka menyantuni anak yatim. Membantu orang yang kesusahan. Membayari utang orang-orang yang terjerat utang. Mendatangi tetangga yang sakit dan mendoakan, dan sebagainya.

Di bulan Ramadan, setiap hari dia mengirim takjil ke masjid. Di rumahnya yang juga biasa-biasa saja, siapa saja boleh datang untuk menikmati buka puasa bersama-sama, kecuali pada hari pertama puasa. Di hari pertama itu, dia hanya khusus mengundang Cak Dlahom. Tak ada yang lain dan itu bukan tanpa alasan.

Iklan

Cak Dlahom sudah tua. Hidup sendirian.  Istri tak punya, anak entah di mana. Pekerjaannya hanya luntang-lantung. Ke sana ke mari.

Kadang dia dijumpai di pinggir kali, meracau berbicara dengan air. Kadang dia memanjat pohon dan mengaji keras-keras. Kadang dia tidur di kandang kambing milik Pak Lurah, menciumi kambing-kambing lalu menangis. Kadang dia mendatangi masjid, dan hanya berdiri memperhatikan orang-orang yang salat dengan tatapan mata yang bisa menjatuhkan cecak di dinding.

Orang-orang kampung karena itu menyisihkan Cak Dlahom. Dianggap kurang waras. Anak-anak sering menggangu dan menertawakan kelakuan Cak Dlahom. “Dlahom gila… Dlahom gila…”

Orang-orang semacam Cak Dlahom itulah yang diprioritaskan oleh Mat Piti di bulan Ramadan. Dia menganggap Cak Dlahom bukan saja miskin tapi juga fakir. Orang yang serba kekurangan. Dipinggirkan, dilupakan, dan karena itu patut mendapat perhatian dan kasih sayang. Lebih dari itu, Mat Piti suka mendengarkan Cak Dlahom berbicara. Dia merasa sering ada pesan tertentu di balik ocehan Cak Dlahom, yang  tentu tak dipahami oleh hampir semua orang di kampungnya.

Maka seperti bulan-bulan Puasa yang sudah lewat, di hari pertama puasa Ramadan tahun ini, Mat Piti mengundang Cak Dlahom berbuka di rumahnya. Disediakan dan disuguhi aneka jamuan. Ote-ote udang, klepon, serabi, setup pisang , es campur, rawon, krupuk udang, telur asin dan sebagainya. Disiapkan pula sebungkus sarung dan kemeja baru untuk Cak Dlahom, selain amplop berisi beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan.

Cak Dlahom jadi tamu istimewa. Mat Piti dan anaknya, Romlah, menyambut dengan riang gembira. Mereka berbuka bersama. Dan usai sembahyang Maghrib, Mat Piti menemai Cak Dlahom yang duduk di teras, bersantai menikmati klepon, serabi dan minum kopi. Mulutnya terus klebat-klebut merokok kretek.

“Alhamdulillah ya, Cak, kita sudah melewati puasa hari pertama…”

“Puasa Ramadan itu hanya untuk orang Islam loh, Mat.”

“Ya iyalah, Cak, ya memang untuk orang Islam…”

“Kamu Islam, Mat?”

“Insya Allah saya Islam. Sampeyan gimana sih, Cak?”

“Lah aku kan cuma tanya, Mat.”

Iklan

“Iya, tapi pertanyaan sampeyan aneh. Sudah jelas saya Islam, malah ditanya apa benar saya Islam.”

“Jadi benar kamu Islam?”

“Benarlah Cak. Saya Islam. Di KTP tertulis agama Islam. Saya juga sunat. Menikah ya baca syahadat. Saya salat, puasa, zakat, pernah naik haji.”

“Ya, tapi kapan kamu masuk Islam?”

“Ya sejak kecil. Sejak lahir…”

“Syarat masuk Islam itu apa, Mat?”

“Cak, kalau mau ngetes orang jangan kelewatan dong. Syarat masuk Islam ya baca syahadat. Itu ada di Rukun Islam. Rukun yang pertama.”

“Lalu kapan kamu baca syahadat masuk Islam?”

“Setiap salat saya kan baca syahadat, Cak?”

“Pas salat itu, baca syahadatmu apa diniatkan untuk masuk Islam?”

“Apa memang harus diniatkan, Cak?”

“Aku tanya, kamu malah balik nanya…”

“Tapi kan sudah saya jawab: sejak kecil dan di saat salat?”

“Syahadat itu, hal paling dasar dalam Islam, Mat. Pondasi. Itu sebabnya, orang yang masuk Islam, pertama-tama, harus baca syahadat. Disaksikan banyak orang.”

“Jadi maksud sampeyan, saya belum Islam? Lalu tak usah puasa karena belum baca syahadat masuk Islam?”

“Ya terserah kamu. Aku cuma bilang: puasa Ramadan hanya diwajibkan untuk orang Islam. Kamu mau masuk Islam atau ndak, itu urusanmu. Tak ada paksaan dalam beragama.”

“Sampeyan sendiri Islam, Cak?”

“Aku kan tidak puasa, Mat.”

Crot… Satu klepon pecah di mulut Mat Piti. Muncratan gula merah mengenai kaus putihnya. Cak Dlahom cekikikan, lalu meninggalkan Mat Piti yang masih kebingungan dan sibuk membersihkan lelehan gula klepon di bajunya. Cekikikannya terdengar bersamaan dengan azan Isya.

 

*diinspirasi oleh cerita yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #MerconIslamPuasaRamadan
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
1.381 WBP Lapas Yogyakarta Dapat Remisi Lebaran 2026. MOJOK.CO
Kabar

1.381 Napi di Lapas Yogyakarta Berhasil Menang Lawan “Hawa Nafsu” hingga Dapat Remisi Saat Lebaran 2026

21 Maret 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.