MOJOK.CONajwa Shihab mencecar pertanyaan ke akun resmi Partai Gerindra di Instagram. Wah, lebih serem di medsos ternyata Mbak Nana ini.

Tak biasanya Najwa Shihab beradu argumen di kolom komentar media sosial, lebih-lebih melalui akun Instagram (IG) @najwashihab. Jika biasanya jurnalis senior ini adem-adem saja di akun medsosnya, pada Selasa (8/10) tiba-tiba saja Najwa mencecar pertanyaan serius ke akun IG resmi Gerindra.

Pertanyaan ini muncul di postingan akun @gerindra yang menyinggung Presiden Jokowi soal Perppu UU KPK. Lalu oleh @gerindra postingan tersebut diberi caption, “RUU KPK, Presiden @Jokowi Pilih Partai Pendukung Atau Rakyat?”

 

View this post on Instagram

 

RUU KPK, Presiden @Jokowi Pilih Partai Pendukung Atau Rakyat?

A post shared by Partai Gerindra (@gerindra) on

Tak sampai beberapa jam, Najwa langsung mengomentari postingan tersebut. “Fraksi Anda secara resmi setuju terhadap Revisi UU KPK. Kader Anda Ketua Baleg yang memimpin pembahasan Revisi UU secara kilat dan menolak masukan publik. Lalu publik/rakyat mana yang Anda maksud?” tanya Najwa.

Sudah barang tentu muncul aura-aura intonasi seperti ketika Najwa mencecar pertanyaan narasumbernya di Mata Najwa. Kesan seram dan intimidatif seolah langsung muncul. Benar-benar rangkaian kalimat yang menggetarkan.

Sangat wajar kemudian kalau publik langsung memberi perhatian luas. Sebab, rasanya seperti melihat program Mata Najwa versi media sosial saja. Apalagi dialog ini terlihat tanpa ada rencana sebelumnya. Benar-benar natural dan spontan.

Baca juga:  SBY di Kubu Prabowo JK di Kubu Jokowi Bikin Pilpres 2019 Kayak Reuni Angkatan 2004

Gerindra pun memberi penjelasan bahwa di parlemen mereka kalah kursi, oleh karena itu wajar kalau mereka kalah suara. Akun IG resmi Partai Gerindra ini juga menyebut bahwa cuma fraksi Gerindra dan PKS saja yang menolak soal RUU KPK. Apalagi parlemen didominasi oleh partai pendukung pemerintah.

“Presiden meminta DPR untuk melakukan revisi UU KPK, RUU KPK dirancang dan keluarlah ANPRES dari Presiden dan dibahaslah RUU ini. Berjalannya waktu, Fraksi Gerindra dan PKS jelas menyatakan penolakan, tapi 8 fraksi lain menyetujui dan akhirnya disahkan dengan catatan-catatan yang telah fraksi ini berikan. Salam Indonesia Raya,” ketik @gerindra.

Uniknya, kalah suara yang disebutkan Gerindra justru terdengar sangat aneh menurut Najwa Shihab. Apalagi baru diketahui kalau Fraksi Gerindra selama ini memang tak pernah menolak keseluruhan RUU KPK, melainkan setuju dengan catatan, yang sebenarnya nggak siginfikan-signifikan amat.

“Fraksi Gerindra bukan menolak, tapi menyetujui Revisi UU KPK dengan catatan. Gerindra tidak setuju Dewan Pengawas KPK ditunjuk Presiden, bukan tidak setuju soal Dewan Pengawas,” balas Najwa Shihab kemudian.

“Alasan terpaksa sepakat karena kalah suara menjadi aneh karena kalau memang menolak maka sikap fraksi seharusnya jelas seperti saat Fraksi Gerindra menolak dan walk out hingga kalah voting pada saat pengesahan UU Pemilu. Salam Narasi TV,” tambahnya.

Beberapa jam kemudian komentar Najwa di akun @gerindra ini sudah tidak bisa ditemukan (kemungkinan sudah dihapus).

Baca juga:  Gatot Nurmantyo Kecil Kemungkinan Berlaga di Pilpres 2019

Selama ini Partai Gerindra memang seolah-olah memosisikan diri sebagai fraksi yang menolak UU KPK. Seperti pada 13 September 2019 silam, Wakil Ketum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad pernah akan mempertimbangkan untuk menolak RUU (saat itu masih RUU) KPK.

“Gerindra sedang mengkaji dan mempertimbangkan dengan serius untuk menolak revisi UU KPK,” kata Dasco bulan lalu.

Namun pada praktiknya, Gerindra ternyata juga sama saja dengan partai yang lain. Hanya saja mereka memberi catatan soal persetujuannya. Terutama soal penetapan Dewan Pengawas yang baiknya tidak diserahkan ke Presiden semuanya.

Gerindra menginginkan agar Dewan Pengawas ini penentuannya dibagi rata. Dua dari presiden, dua dari DPR, dan satu ditunjuk oleh Ketua KPK. Satu hal yang pasti, Fraksi Gerindra tak pernah sedikit pun menolak dibentuknya Dewan Pengawas untuk KPK. (K/A)

BACA JUGA Pekerjaan-pekerjaan Lain yang Pas untuk Najwa Shihab atau tulisan rubrik KILAS lainnya.

 



Tirto.ID
Loading...

No more articles