• 64
    Shares

MOJOK.CO – Menurut Ketum PPP, Romahurmuziy, ada perbedaan aktor yang memproduksi hoaks Jokowi di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Seperti apa?

Tempo hari, Ketua Tim Kampanye Nasional, Erick Thohir, memberi arahan kepada timses Jokowi-Ma’ruf untuk lebih ofensif. Setelah sekian lama bermain bertahan, Erick Thohir ingin kubu petahana lebih agresif menyerang. Erick menggunakan istilah “semut diinjak saja menggigit”. Dan tidak butuh waktu lama, taktik ofensif itu mulai terlihat.

Yang pertama adalah ketika La Nyalla Mattalitti buka-bukaan bahwa dirinya pernah menyebarkan hoaks soal Jokowi.

“Saya sudah minta maaf dan saya sudah mengakui bahwa saya yang sebarkan (isu) PKI itu, saya yang ngomong Pak Jokowi PKI. Saya yang mengatakan Pak Jokowi itu Kristen, agamanya nggak jelas, tapi saya sudah minta maaf karena saya bukan oposisi,” ujarnya.

Pernyataan ini sangat mengejutkan bagi kedua belah pihak, baik petahana maupun oposisi. Secara sekilas, pernyataan La Nyalla ini memang mengutungkan petahana. Jelas dong, apa yang disampaikan secara tidak langsung menampar pihak yang berseberangan.

Gaung bersambut, kali ini Ketua Umum PPP, Romahurmuziy yang membuat perbandingan soal haoks kepada Jokowi di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Perbandingan yang dibuat oleh Rommy–nama panggilan Romahurmuziy–sangat telak menyerang Prabowo, Amien Rais, dan para petinggi kubu oposisi.

Rommy menyebut bahwa saat ini, perbedaanya terletak kepada aktor yang memproduksi hoaks. Jika pada Pilpres 2014 para simpatisan yang bekerja membuat hoaks Jokowi, kali ini para “bos” yang turun langsung untuk memproduksi hoaks.

Baca juga:  4 Cara Agar Lembaga Survei Bisa Unggulkan Elektabilitas Prabowo dari Jokowi

Untuk Pilpres 2014, Rommy mencontohkan waktu itu simpatisan membuat tabloid Obor Rakyat yang menyebut bahwa Jokowi adalah simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan non-muslim.

Obor Rakyat itu simpatisan. Saya ada di tim resmi Prabowo dan saya memastikan itu bukan diciptakan oleh tim resmi. Tetapi sebagai tim resmi saat itu, kami mengetahui,” ungkap Rommy blak-blakan.

Saat itu, Rommy sudah pernah melihat dummy Obor Rakyat, bahkan diminta untuk mengoreksi konten dari tabloid tersebut. “Kemudian, saya sebagai ketua Divisi Staf Strategi Prabowo-Hatta, saya mengatakan saya tidak ikut-ikutan karena ini hoaks. Kalau memang kalah, nanti akan jadi masalah, dan betul jadi masalah,” jelas Rommy.

Hmm…kalau memang tahu ada hoaks, kok diam saja Pak Rommy? Heuheu…

Nah, jika pada Pilpres 2014 yang lalu hoaks dibuat oleh para simpatisan, kali ini, di Pilpres 2019, hoaks justru diproduksi oleh “bos-bosnya” secara langsung.

“Bukan hanya tim Prabowo, tapi Pak Prabowo sendiri saja sudah banyak hoaks yang disampaikan. Seperti Indonesia bubar 2030, kan itu hoaks. Orang adanya dari novel. Ratna Sarumpaet dipukuli, kan itu yang jumpa pers Pak Amien Rais, kan tokoh-tokohnya langsung. Jadi ini sudah menunjukkan penurunan kualitas manuver mereka karena dulu itu kan yang turun kroco-kroco, sekarang sudah bos-bosnya langsung yang turun,” kata Rommy.

Hmm…itu namanya bekerja secara langsung, Pak Rommy. Tidak berpangku tangan, namun produktif demi pemenangan. #ehhh #maafsatire #maafsekadarmengingatkan (yms)

Baca juga:  Membayangkan Rasanya Jadi Mantan Pacar Kahiyang Ayu