MOJOK.CO Sebagai orang awam, menghadapi orang terdekat yang dalam kasus ini adalah pacar berulang kali mengancam ingin bunuh diri adalah dilema pelik. Aku kudu kayak mana 🙁

Pertanyaan

Kak 🙁

Kenalin dong, aku Macan. Pengen sambat akutuuu…. Tapi tolong dikasih wejangan sama solusi juga ya.

Jadi aku punya pacar. Udah lama pacaran kan, udah ngerasain banyak up and down gitu. Aku ya tahu kalo pacar akutu kayak diperlakuin beda sama rang tua dia. Secara dia dua bersaudara, rang tua dia sukanya manjain adiknya aja. Pokoknya urusan adiknya selalu prioritas. Urusan pacar aku selalu dinomorduakan. Tahu sendiri kan, apa-apa yang diduain itu gak enak 🙁

Perlakuan rang tuanya bikin pacarku jadi overthinking, depresi, bahkan sampai punya pikiran untuk mengundang malaikat Izrail ke rumahnya gar terbebas dari rasa yang ia derita.

Sebagai pacar, aku selalu berusaha sekuat tenaga menguatkan dan memberi semangat serta motivasi biar dia tetap kuat. Tapi… diatu kalo ada apa-apa sama rang tuanya, sambat ke aku.

Kalau cuma sambat aku oke-oke aja. Masalahnya, ketika aku merespons tidak sesuai keinginan dia, aku langsung diamuk oleh cecaran ucapannya yang pedas bak sambel geprek bensu level paling tinggi. Bahkan dia mengulang-ulang perkataan tentang ingin mengakhiri hidup.

Padahal aku sudah berpikir semenit sampai 5 menit untuk merespon sambatan tersebut. Eh masih salah jugaaa.

Jadi gimana dong? Aku harus meyakinkan dia untuk selalu legawa atas segala perilaku rang tua blio sambil aku menguatkan hati setiap kali dicecar, atau aku harus bilang ke rang tua blio bahwa anaknya menderita semacam gangguan jiwa?

Kumaha ieu kumahaaa? 🙁

Mohon dibantu ya, Kak.

Salam,

Macan

Jawaban

Aduh, habis baca curhatan kamu mah, hal pertama saya pikirin malah kesehatan mental kamu. Setelah itu saya agak mules membayangkan masalahnya sudah gawat karena ada ancaman bunuh diri segala.

Kita sepakat ya, pacar kamu teh korban dinamika keluarga. Kita juga susah mau nge-judge dia lebay lah, punya gangguan jiwa lah, karena kita bukan tenaga psikologi profesional dan kita nggak akan benar-benar tahu apa yang dia rasakan.

Baca juga:  Mengatasi Rasa Takut Membuka Obrolan dengan Gebetan

Tapi… seorang korban (katakanlah dia ini korban kekerasan psikologis dalam keluarga) masih bisa jadi pelaku di kekerasan pada orang lain. Ya ini buktinya kamu tertekan disalah-salahin terus.

Mungkin lebih enak ngomongnya kalo korban dikasih tahu sama stranger. Jadi kalau ada pembaca curhat ini yang merasa punya perilaku sejenis kayak pacarnya Macan, tolong banget sayangi diri sendiri dan sayangi orang yang kamu cintai. Entah temen, pacar, suami, istri, adek, kakak, kenalan asal nemu di medsos, jangan sampe kamu jadikan pelampiasan atas penderitaanmu.

Alias kekerasan psikologis itu perlu dihentikan.

Kalau ditanya solusi, sebagai kawan ngobrol di dunia maya gini, mungkin saya bisa kasih beberapa masukan. Tapi sekali lagi, saya bukan psikolog, jadi boleh didenger, boleh juga diabaikan. Anggap aja saya ini juga cuma teman sambat.

Saran saya adalah…

#1 Jangan perburuk situasi

Kamu udah eneg kali ya sama kelakuan dia. Pake ngancem bunuh diri segala. Kalo sekali dua kali mungkin masih kasihan, kalo diulang-ulang, kadang orang sehat bisa jadi sakit karena ketularan penderitaan orang kayak gitu.

Jadi mending kamu jadi tukang nyimak aja selama kamu kuat. Nggak usah komen apa-apa. Kalau ditanya, pake jawaban aman, “Mending segera kamu selesaikan dengan cara yang menurut kamu terbaik.”

Bisa jadi ada godaan buat bilang, “Kamu tuh nggak pengin ke psikiater apa?” tapi biasanya orang kalo disaranin frontal gitu, bawaannya malah tambah ngamuk (“Kamu udah bosen dengerin curhatan aku ya!?!”).

Jadi, di kasus kayak gini diam adalah emas.

#2 Ngaku aja kalau nyerah

Sejelek-jeleknya kelakuan orang, mestinya ada waktu dia bisa berpikir jernih dan duduk mendengarkan sambatan orang lain. Kamu kalo udah nggak kuat sama kelakuan dia, mungkin perlu ngomong ke dia bahwa dia nggak bisa gitu terus dan nggak boleh mikir untuk bunuh diri. Lama-lama kamu juga bisa ikutan sakit gitu.

Baca juga:  Lucinta Luna dan Noraknya Kita terhadap Mereka yang Transpuan

Kalau kamu cukup tabah dan punya energi berlimpah, kamu bisa pelan-pelan saranin dia untuk konsultasi ke psikolog biar hatinya lebih tenang. Karena kamu nggak bisa negur orang tuanya, yang paling bisa kamu lakukan adalah membantu pacarmu mengubah perasaan negatifnya menjadi perasaan positif.

Kalau dia lagi marah, misalnya, coba kasih tebak-tebakan. Atau sering-sering ajakin nonton film Stephen Chow atau Warkop DKI.

#3 Mending pergi daripada ngasih tahu orang tua

Kalau udah nggak tahan banget, dua cara di atas udah dicoba dan dia nggak berubah juga, mending buruan pergi. Prioritas tugas saya di sini mah untuk nyelametin kamu. Sebab, ketika seseorang punya masalah, sebenarnya yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya adalah orang itu sendiri.

Ketika kita sebagai teman atau orang terdekat merasa perlu menolong dan sudah berusaha semampunya, tapi si orang ini tetap gitu-gitu aja, tugas kita selesai. takutnya kalau kita terusin, dianya makin parah, keselamatan kamunya jadi terancam.

Selain itu, sebaiknya nggak usah ngasih tahu orang tuanya soal kondisi ini. Kamu imbau dia aja untuk ngasih tahu sendiri. Ini masalah keluarga yang kamu kan juga nggak ngerti-ngerti amat. Biasanya orang kalau masalah pribadinya dibocorin ke pihak bermasalah, yang dalam hal ini adalah keluarganya, dia bakal tambah ngamuk.

Kamu juga perlu jaga-jaga kalau skenario terburuk terjadi: Pacar kamu beneran mencoba bunuh diri. Caranya dengan memastikan kamu tahu harus berbuat apa dan mengontak siapa ketika peristiwa paling tidak diinginkan itu kejadian.

Semoga masalahnya cepat kelar ya. Salam.

Mojok

=========

Bantuan profesional untuk orang yang punya pikiran bunuh diri bisa diakses di hotline (021) 500454 dari Kementerian Kesehatan atau layanan LSM Jangan Bunuh Diri yang bisa dihubungi di (021) 06969293 atau email [email protected].

=========

BACA JUGA Cara Mengatasi Teman Kantor yang Suka Menindas atau curhatan lainnya di rubrik CURHAT.