MOJOK.CO – Film lucu terbaik menurut saya bisa disematkan kepada film-film slapstick Stephen Chow.

Stephen Chow ditutup matanya dan mulai menampilkan kelihaian melempar pisau.

Syuuut! Pisau dilempar ke arah gadis yang berdiri menempel dinding kayu. Pisau dengan tepat tertancap di sisi kanan wajah si gadis tanpa melukai sama sekali.

Syuuut! Pisau dilempar lagi. Empat pisau yang dilempar berurutan dan semuanya menancap di bagian-bagian riskan: di sisi sebelah kanan dan kiri pergelangan serta pipi si gadis, serta satu di atas kepalanya. Tak satu pun membuat si gadis itu cedera.

Atraksi selesai. Gadis itu bersorak kegirangan dan melangkah riang ke arah pelempar pisau yang sayangnya bukan Stephen Chow. Sedangkan Stephen melangkah gontai ke orang yang sudah mati karena pisau yang ia lempar menancap semua ke tubuh korban.

Saya tak ingat mana yang lebih dulu, membaca Crayon Shinchan atau menonton film Stephen Chow. Saya cuma tahu, Seperti semua film Warkop DKI, saya tak bisa mengingat jalan cerita film-film Stephen Chow yang telah saya tonton. Tapi jangan tanya koleksi ingatan adegan lucu film-filmnya. Saya juga tak banyak ingat.

Mungkin butuh sedikit pancingan. Kebetulan sedang ada Agus Mulyadi di kantor.

“Gus, ada nggak adegan film Stephen Chow paling lucu yang kamu ingat?”

“Ada. Adegan pas dia masukin pedang ke mulutnya. Terus…,” Agus berhenti sebentar karena tertawa, “orang-orang tepuk tangan. Ternyata pedangnya tembus sampai belakang.”

Saya ikut ketawa tapi tak ingat itu adegan di film apa. Saya belum putus asa. Setelah Agus berlalu, saya mengambil telepon, membuka aplikasi Google Duo, dan menanyakan pertanyaan serupa ke pacar saya. Pacar saya adalah orang yang sangat sabar. Saya bilang begitu karena meski kami baru pacaran sebulan, saya sudah ngambek dan bilang putus beberapa kali. Hampir semuanya karena kasus salah paham. Meski saya punya kepribadian yang buruk, pacar saya selalu bilang “Aku mencintaimu” setiap malam tanpa absen dan tidak menagih ATM dan kartu kreditnya yang suatu malam diam-diam saya masukkan ke dompet saya sendiri.

Salah satu bukti kesabarannya terjadi ketika saya dan dia sedang pelesir ke Kafe Batavia di Kota Tua, Jakarta. saya sedang duduk sambil menyesap margarita ketika dia datang. Sekian menit dia duduk di samping saya, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang merusak hari Minggu saya.

“Kalau kamu belum selesai, mending kita nggak usah ngomongin ini.”

Saya langsung marah. Memang itulah yang sering terjadi, kalau ada orang marah kepada saya, saya malah jadi ikutan marah.

“Oke. Kamu nyerah sama aku ya. Kalau begitu kita sampai di sini saja.” Saya menghabiskan margarita di cawan agar tak serupiah pun dari Rp135 ribu harga minuman itu tersia-sia. Sambil membuang muka, saya merampas tas Michael Kors lungsuran orang dan segera berjalan dengan cepat keluar kafe.

Baca juga:  Berapa Perkiraan Honor Iko Uwais sebagai Aktor Internasional?

Pacar saya berjalan di belakang dengan langkah biasa seratus meter di luar kafe karena saya melihatnya demikian ketika saya berhenti di depan Museum Wayang dan menunggu dia mengejar saya. Saya makin kesal. Wajahnya tidak mirip Nicholas Saputra tapi kenapa perilakunya kerangga-ranggaan.

“Kenapa kamu pergi sih?” tanya dia. Dia bernama Edo. Saya memanggilnya Sayang di hari biasa, Suami Masa Depanku ketika suasana hati sedang sangat baik, Sampah Masyarakat ketika sedang kesal, dan tidak memanggil dengan sebutan apa pun kala saya marah sebab WhatsApp-nya saya blok. Tuhan di langit, semoga pria ini masih punya banyak cadangan sabar.

“Katanya kamu nggak mau ngomongin hubungan kalau aku belum selesai dengan perasaanku dengan mantan!”

“Ya, ampun. Maksudnya aku baru mau ngobrolin hubungan kita kalau kamu selesai dengan pekerjaanmu.”

Sewaktu pipi saya memerah karena malu, ingatan saya sekaligus melayang pada kejadian beberapa menit sebelumnya ketika laptop saya terbuka di samping margarita dan saya tak bisa menyimak dengan baik obrolan yang ia buka karena sibuk menyelesaikan pekerjaan.

Pacar saya yang sabar bilang adegan paling lucu di film Stephen Chow adalah ketika ia mempraktikkan jurus bola api. Jurus itu dilakukan dengan cara bergulung-gulung di tangga sampai badan menimpa musuh.

Saya tertawa walau tak tahu sama sekali adegan yang ia maksud. “I love you,” kata saya, lalu menutup telepon.

Sekarang saya ingat, salah satu adegan lucu di film Stephen Chow adalah adegan Kung Fu Hustle ketika ia dikejar sambil dilempari pisau, kemudian pisaunya dijadikan spion. CJ7 selain sedih juga menyimpan banyak adegan lucu. Lalu pembukaan Love on Delivery ketika seorang pelanggan parlente komplain kepada pelayan restoran, yang salah satunya adalah Stephen Chow, bahwa ada lalat dalam supnya.

Pelanggan itu berteriak memanggil pelayan. Beberapa orang pelayan segera menghampirinya dan ikut kaget melihat lalat yang berenang di sup yang tampaknya sup jagung itu. Mereka kemudian segera mengatasi keadaan itu. Ini kejadian yang tidak bisa dimaafkan, kata salah satu pelayan. Juga lalat ini, tak bisa dimaafkan. Kepala pelayan mengambil lalat tersebut dan kemudian bersama-sama menggebuki si lalat.

Beberapa tahun lalu ketika sedang mengerjakan skripsi dan merasa mentok, saya bersama seorang teman membawa hard disk berangkat ke warnet Luxury yang legendaris di Jalan Kaliurang, Jogja untuk mengopi semua film Stephen Chow. Saya tak bisa mengingat akhirnya berapa buah filmnya yang saya tonton, tapi pengalaman menghabis-habiskan waktu sambil rebahan sebelum rebahan menjadi kegiatan populer itu sungguh berkesan.

Baca juga:  Sebelas Film Favorit tentang Makanan yang Paling Ciamik

Selama bertahun-tahun saya mengenang Stephen Chow sebagai referensi filmmaker yang karyanya akan saya tonton saat sedih, terutama Tricky Brains dan King of Comedy. Ia lebih lucu dari Jim Carrey dan lebih saya sayangi ketimbang Jackie Chan atau Jet Li. Orang-orang mengenang tandemnya, yang juga tandem Bo Bo Ho, sang legenda Ng Man Tat yang bisa menjadi apa saja, mulai dari bos Triad, biksu selebor, sampai pecundang tua beranak dua yang selalu bertingkah aneh setiap kali dipanggil “Papa”.

Pembukaan film ini sudah lucu. Tapi, saya rekomendasikan untuk menonton adegan di menit ke 26:26.

Di Hong Kong, Stephen Chow dikenal sebagai raja komedi. Di Indonesia, ia dikenal sebagai Dewa Masak. Pers Hong Kong menganggapnya penyaji terbaik tradisi komedi moi lei tau, frase Bahasa Kanton yang berarti nonsense. Terjemahan Indonesia yang cukup indah untuk kata nonsense adalah ‘omong kosong’. Menurut sebuah video esai di YouTube yang saya tonton, komedi yang ia bawakan menjadi lucu karena logikanya tidak nyambung.

Sebagai contoh, pada adegan Love on Delivery, ketika si pelanggan mengadu supnya kemasukan lalat, yang menandakan restoran tersebut tidak bersih, kita mungkin membayangkan tindakan pemilik atau pelayan restoran ialah dengan mengganti supnya. Di salah satu film Warkop DKI yang ada tikus bernama Omen, adegan ini nampang dan dijadikan cara licik pelanggan untuk bisa menambah makanan tanpa bayar.

Kelucuan di adegan itu, sebagaimana resep komedi umumnya, ialah dengan memberikan adegan tak terduga ketika pelayan restoran ikut marah kepada lalatnya dan kemudian menggebuki si lalat beramai-ramai. Sudah, skip aja penjelasan soal komedi Stephen Chow ini. Bikin bahasan lucu jadi nggak lucu aja.

Kalau Anda mengikuti film-film Stephen Chow, yang di film-filmnya suka memakai nama tokoh “Sing” yang diambil dari nama aslinya sendiri, Anda akan sadar ia selalu jadi orang miskin yang hidup pas-pasan. Misalnya dia jadi anak orang kaya seperti di Sixty Millions Dollar Man, di akhir ternyata dia anak pungut atau apa lah. Kemudian, Stephen Chow juga tidak pernah menjadi orang jahat. Misalnya dia jadi orang jahat pun, di akhir film dia akan tobat.

Jadi, apa adegan lucu film Stephen Chow yang paling Anda ingat?

BACA JUGA AADC 2 Layak Digugat hingga Liang Lahat atau artikel Prima Sulistya lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles