MOJOK.COTeman kantor yang suka menindas harus dilawan. Berikut tiga tips untuk melawannya.

Tanya

Mau curhat dong, Kak Audi.

Sebut saja aku Bona. Jadi saat ini itu aku kerja di suatu instansi. Baru aja sih, baru beberapa tahun lalu. Nah perlahan aku bisa membaca iklim kerjaku. Ada beberapa hal yang membuatku senang, tapi banyak juga yang membuatku empet.

Tempat kerja kan selalu kita temui setiap hari, bahkan ada orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja daripada di rumah. Terus dulu kata dosenku waktu aku kuliah, iklim kerja teramat mempengaruhi kerasan tidaknya seorang itu bekerja. Kalau nggak kerasan, salah satu akibatnya ya pasti pindah kerja kan ya. Tapi kalau nemuin hal yang bikin nggak kerasan, masak iya pindah kerja terus?

Nah sekarang aku mau curhat tentang masalah yang mengganggu suasana tempat kerjaku. Ada satu teman kantor yang sangat otoriter. Misalnya, ketika instansiku mau memutuskan seragam kami.

Kami semua sudah memutuskan seragamnya warna ini, motif ini, dan udah kebeli juga barangnya serta udah dibagi. Eh, si ibu teman kantorku itu tahu-tahu bilang, kok dia nggak diajak diskusi? Komen banyak dong si ibu itu. Mulai dari nggak setuju lah, nggak bagus lah, ini lah, itulah. Padahal, Kak, bahasan seragam itu udah diutarakan waktu rapat lo.

Hampir semua kejadian di kantor seperti ini terus. Instansi sudah punya keputusan, ibu yang terhormat itu kemudian menjelek-jelekkannya.

Terus sekarang ya, Kak, bahkan pejabat di instansiku kalau ada apa-apa, pasti tanya dulu ke ibu yang sok jadi dewa itu. Nggak ngerti karena apa. Mungkin karena males juga tiap udah punya keputusan, selalu disangkal.

Lagi nih, Kak, tentang pekerjaan juga. Jadi si ibu dewa itu selalu menganggap orang lain itu buruk. Entah pekerjaannya nggak sesuai lah, nggak bisa ngelakuin kerjaannya, pekerjaannya nggak beres, klien nggak suka, dan dia bisa sampai bilang bahwa teman kantornya nggak pantes dapat pekerjaan itu. Halo, dia emangnya udah sempurna?

Baca juga:  Dia Diam Saja Saat Saya Tembak

Aku sebel banget nih, Kak. Tiap dia cerita panjang lebar gitu, aku pasti males dengerin gitu. Soalnya kalau nggak jelek-njelekin orang, ya ngunggulin diri sendiri.

Terus ada sebuah kegiatan di instansiku yang menurutku ini memang salah komunikasi. Masak iya waktu kegiatan berlangsung, si pengisi acara belum datang, yang mana orangnya adalah rekan kerja si ibu itu, terus waktu ibu itu ditanya, dia malah nyalahin orang gitu. Lah, padahal dari awal juga yang kontak-kontakan dia lo. Aku sampai males sendiri pas ngurus acara itu. Aku pikir, semua kan udah ada bagian-bagian tugasnya sendiri.

Tanpa si ibu itu sadar, di kantor itu hampir semua sebel sama dia. Tapi yang aku herankan. Kalau semua sebel, kenapa teman-teman kantor masih mengijinkan dia untuk menjadi dewa dan pada nurut-nurut aja gitu sama dia? Bahkan minta pertimbangan dan keputusan pun juga ke dia. Termasuk aku sih. Hehehe. (Kan anak baru.) Kenapa kami nggak nyusun kekuatan sendiri gitu lo untuk instansi yang lebih baik.

Aku sebel kenapa aku kayak nggak punya kekuatan gitu buat mendobrak hal-hal yang diinginkan dia. Terus, aku harus gimana bersikap ke ibu sang dewa itu? Masak iya semua harus nurut-nurut gitu sampai pejabat instansiku juga nurut ke dia? Bisa jadi karena dia dianggap sebagai sesepuh kali ya? Iya sih ibu itu sudah tua.

Waaa… aku harus gimana, Kak? Aku jadi takut kalau punya ide terus ditebas habis sama ibu itu.

Jawab

Halo, Bona yang sedang direpresi oleh teman kantor. Berhubung Au sedang cuti persiapan pernikahan, saya di sini yang akan gantian menjawab curhat kamu.

Menurut saya, cara efektif untuk melawan orang yang suka mendebat adalah dengan mendebat balik. Debat aja terus sampai dia kalah. Pokoknya tetap didebat terus meski kamu sadar argumen debatmu nggak mutu.

Baca juga:  Ditinggal Menikah karena Hape Rusak

Atau bahkan poin debatmu justru harus dibikin nggak mutu. Kalau kamu sering main media sosial, kamu akan tahu, tak ada yang mengalahkan rasa kesal ketika menghadapi orang ngeyel yang goblok.

Itu kuncinya: jadi ngeyel dan goblok.

Ini saya namakan sebagai trik jujitsu. Yakni teknik membalikkan kekuatan musuh untuk mengalahkannya.

Tapi kalau kamu takut tampak goblok sendirian, masih ada stok cara lain untuk melawan si ibu, yakni dengan mengerahkan people power. Mobilisasi teman-teman kantormu lewat mekanisme penggalangan solidaritas di forum-forum gibah dan gosip. Agitasi kekesalan teman-teman agar bisa di-channeling menjadi gerakan. Beri mereka pendidikan bahwa sesama karyawan punya hak sama dan satu sama lain tidak boleh menihilkan. Kutip pembukaan UUD 1945 agar gerakan kalian punya dasar konstitusional.

Dan lalu, ketika massa sudah terkumpul, gerakkan mereka untuk melakukan rencana aksi yang utama dan terutama…

…yakni beramai-ramai ngadu ke atasan.

Trik ini saya adaptasi dari 3 prinsip klasik gerakan massa, yakni agitate, educate, organize.

Saya harap dua tips di atas sudah bisa memberi pencerahan kepadamu atas apa yang mesti kamu lakukan menghadapi rezim despotik ibu dewa tersebut. Namun, jika pada akhirnya kamu masih saja gentar melaksanakan dua saran saya itu, dengan terpaksa saya harus mengeluarkan stok saran saya yang terakhir.

Mungkin inilah waktunya kamu merenung diri bahwa sebagai orang penakut, mungkin ditindas memang sudah menjadi jalan hidupmu. Kalau sudah begitu, takdirmu memang mentok di level mengeluh dan mengirim curhat ke Mojok saja.

Semoga kamu dianugerahi keberanian dan semoga berhasil.

Salam hangat,
Cik Prim

Punya masalah asmara, kehidupan, dan pekerjaan yang bisa dibagikan dan butuh solusi? Mojok siap menjawab keluhan Anda dengan cara yang Mojok banget. Kirimkan curhat Anda ke [email protected] dengan subjek “CURHAT MOJOK”.

BACA JUGA Ketika Jurusan Kuliah Tak Seperti yang Saya Bayangkan atau artikel rubrik CURHAT lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles