• 714
    Shares

MOJOK.COPerkembangan teknologi membuat jenis pekerjaan makin beragam. Masalahnya, gimana menjelaskan bahwa YouTuber itu juga pekerjaan kepada orang yang nggak paham YouTube itu apa?

Entah tulus atau basa-basi, bukan sekali dua kali saya mendapati kenalan saya menyatakan rasa irinya ketika tahu saya kerja di Mojok.

“Enaknya kerja sama Agus Mulyadi. Pasti ketawa terus.”

“Kerja di Mojok pasti gampang. Bercanda dan dibayar.”

“Kerja di Jogja aja udah enak, apalagi di tempat senyantai Mojok.”

NYANTAI??? BELUM TAHU DIA.

Pernyataan terakhir biasanya diucapkan oleh kawan yang bekerja di Jakarta. Dia nggak tahu, kerja di Raja Ampat sekalipun berpotensi bikin bosan, lebih-lebih cuma di Jogja. Ah, jangankan bekerja, saya pernah mendengar teman saya yang bosan bermalas-malasan. Paling ekstrem, teman sekontrakan saya dulu pernah dengan entengna bilang bahwa dia bosan mengunyah makanan. “Kalau bisa makanan itu langsung ditelan, selesai.” Mungkin di reinkarnasi sebelumnya dia adalah ular.

Hidup memang perkara melihat dan dilihat.

Tanpa bermaksud tidak bersyukur, kerja di start-up dalam lingkungan (((industri kreatif))) sebenarnya sama saja dengan kerja di mana pun. Pasti ada enak dan tidak enaknya. Tapi, kali ini saya ingin cerita tentang kerepotan yang ditimbulkan saban Lebaran gara-gara pekerjaan saya ini.

Ini tentang pertanyaan keluarga dan handai tolan tentang “Kamu kerja di mana?”

“Kerja di media, Tante.”

“Media apa?”

“Media online.” Sumpah, waktu menyebutkan jawaban itu, wajah tak yakin sang tante membuat saya merasa seperti baru bilang kalau saya kerja jadi tukang lem benang teh.

“Oooh, jadi wartawan, ya?”

“Nggak sih, Tante. Saya ngedit, kadang nulis.”

“Nulis berita? Kan sama kayak wartawan.”

“Hmmm, bukan, tempat saya media opini.”

Sampai di situ si tante terdiam beberapa saat. Lalu dia berkata, “Teman Tante ada lho yang kerja di KR (Kedaulatan Rakyat, koran terkenal di Jogja).”

Sebenarnya, pertanyaan seperti itu tidak cuma dijumpai saat Lebaran. Interogasi serupa juga sering terjadi ketika naik Go-Jek.

“Kuliah, Mbak?”

“Sudah kerja, Pak.”

Baca juga:  Menghitung Pendapatan Bulanan Iqbal Aji Daryono

“Di mana?”

“Di web.”

“Oh, kerjanya bikin-bikin website gitu, ya, Mbak?”

Buat orang Jawa, menyalahkan jawaban orang apalagi yang lebih tua itu tidak sopan. Maka sebiasa mungkin saya mengoreksi dugaan Pak Go-Jek tanpa merevisinya.

“Iya, tapi saya yang bagian nulis-nulisnya, Pak.”

Tapi, niat sopan malah bikin saya kena celaka.

“Mbak, kalau saya mau minta tolong bikin website di tempat kerja Mbak, biayanya berapa?”

Modar aku.

Bukan jengah, tepatnya sedih.  Sebab, pertanyaan “kerja di mana” selalu satu paket dengan “kerjanya ngapain” dan kegagalan menjelaskan dengan sesimpel mungkin membuat saya terenyuh sendiri.

Di rumah, bahkan sepertinya ketika saya bilang teknis tugas sehari-hari saya adalah ngedit naskah, orangtua saya masih tidak punya bayangan pekerjaan macam apa ngedit itu.

Tapi, sekarang masih mending. Saya bisa menyebut saya bekerja di mana. Dulu, zaman saya masih jadi kuli lepas, buruh freelance ngedit buku dan ngoreksi bahasa, pertanyaan “kerja di mana” jauh lebih bikin berkeringat dingin.

“Kerja di mana?”

“Nggak ngantor, Budhe.”

“Oh, nganggur.”

*Menangis dalam hati*

Duka serupa pasti dirasakan juga oleh teman-teman penulis (yang sering dikira buruh percetakan), programmer (disangka tukang nge-hack), pelukis (sulit dibayangkan siapa yang memakai jasanya), musisi (apalagi kalau nggak terkenal, fix disangka miskin), desainer (desainer ki opooo?), dan aktivis LSM (memangnya aktivis pekerjaan?). Saya belum tanya-tanya pula, bagaimana trik teman-teman saya yang bekerja sebagai admin media sosial ketika menjelaskan apa pekerjaannya.

“Kerjanya apa, Nak?

“Bikin status Facebook, posting IG, sama ngetwit, Mah.”

“KAYAK GITU DIBAYAR???”

Ya, bayangan saya sesurem itu.

***

Biar nggak penasaran, saya kemudian tanya ke beberapa teman yang kira-kira senasib soal jawaban mereka ketika ditanya kerja di mana/kerjanya apa. Berikut kompilasi jawaban mereka.

U, editor buku dan jurnal agraria: Bikin/nulis buku. Kamu ngapain sih nanya-nanya gini?

A, desainer grafis: Tukang nggambar di media online. Kalau yang nanya bingung, aku pinjem hapenya, terus bukain webnya. Masyarakat Dati 2 dan 3 memang sulit diberi pemahaman kayak begini.

D, editor buku: Di penerbitan. Kalau ditanya kerjanya ngapain, aku jawabnya, benerin tulisan orang.

E, desainer grafis: Pria simpanan.

D, editor media online: Di media. Tergantung sih jelasinnya, ke calon mertua, driver Go-Jek, kernet angkot, atau tukang cukur. Sama mbah lekku, aku malah dikira kerja di rental komputer, tukang ngetik.

A, videografer: Di portal berita. Terus aku bukain Mojok.co.

D, admin media sosial: Kalau yang nanya temen-temen deket, aku jawab, admin sosmed. Kalau nggak kenal-kenal amat, aku pernah jawab, nganggur. Aku pernah juga ditanya driver Go-Jek, aku jawab di website. Terus malah dikira tukang bikin website-nya. Dulu aku pernah jadi desainer grafis, malah dikira tukang offset di percetakan.

L, content writer: Kalau aku jawabnya kerja di Jogja. Kalau dikejar, aku jawabnya kerja di media online, terus yang nanya bilang, ooo. Nggak tahu paham beneran apa nggak. Sebelumnya aku kerja di penerbitan, itu juga susah. Dijawab sama tetangga, malah “Oooh, itu percetakan ya? Yang bisa fotokopi berarti.”

F, admin media sosial: Di media. Titik. Asumsi mereka, wa penulis atau reporter, padahal mah… tim nyampah digital. Uwuwuwuw~

R, guru: Guru honorer. Ada temenku kerja jadi dosen seni rupa, kalau ditanya, jawabnya tukang nggambar atau tukang masang korden. Ya bener, dia kan kadang dapat job desain interior.

A, sekretaris redaksi media online: Di media online.

P, Kepala Suku Mojok: Jual buku online.

Sebenarnya pekerjaan-pekerjaan informan di atas itungannya belum aneh-aneh banget sampai susah jawabnya. Saya baca di Theundercoverrecruiter.com, ada juga orang di belahan dunia lain yang kerjanya jadi tukang tes kenyamanan kasur, tukang nonton serial Netflix sebelum ditayangkan, sampai tukang icip produk makanan anjing.

Baca juga:  Capres Pilihan Pembaca Buku Berdasarkan 41 Penulis Idolanya

Pastinya, di luar sana masih ada banyak pekerjaan “aneh” lain beserta variasi trik menjelaskan pekerjaan itu. Kalian yang mau nambahin, silakan. Kalau butuh tips gimana mengatasi pertanyaan susah semacam ini, mungkin menyetelkan video ini bisa jadi solusi.