ADVERTISEMENT

Honda Beat adalah motor touring paling ideal untuk jarak menengah, khususnya perjalanan yang masih satu provinsi

Honda Beat, motor touring paling enak buat ngaspal satu provinsi MOJOK.CO

Dulu, pertama kali saya bilang mau touring Jogja–Solo–Semarang pakai Honda Beat, teman-teman saya langsung menyiapkan mental mereka untuk menerima kabar buruk. Sialan memang. Mereka pikir motor saya penyakitan.

Ada yang menawarkan pinjam motornya. Ada yang mengirim tautan bengkel terdekat. Beberapa membalas dengan emoji wajah prihatin di grup WhatsApp.

ADVERTISEMENT

Saya tetap berangkat. Dan saya pulang dengan satu kesimpulan yang sampai hari ini saya pegang. Honda Beat itu enak untuk jadi motor touring. Apalagi untuk jarak menengah, khususnya perjalanan yang masih satu provinsi. Yah, masih di bawah Honda Vario 160, tapi tetap oke.

Jarak menengah selalu jadi zona yang orang lupakan

Semua orang sibuk membahas touring antarpulau yang penuh drama. Padahal, mayoritas perjalanan yang benar-benar kita jalani berjarak 100 sampai 250 kilometer. Sekali duduk, 4 sampai 6 jam, dan kita sudah sampai di kota lain yang masih satu provinsi.

Di rentang jarak itulah Honda Beat bergerak dengan sangat nyaman. Mesin 110cc-nya tidak menuntut jalan yang rada lebar, tidak menuntut jalur mulus, dan tidak menuntut mental pembalap. Honda Beat cukup menuntut satu hal dari pengendaranya. Tahu kapan harus berhenti aja.

Bobot ringan Honda Beat menyelamatkan punggung saya

Honda Beat punya bobot sekitar 90 kilogram. Angka itu terlihat sepele sampai kamu berhadapan dengan tanjakan panjang di jalur alternatif, atau harus memutar balik di jalan sempit gara-gara salah belok.

Motor touring bertubuh besar memang gagah di foto. Tapi begitu masuk kota kecil, berdesakan dengan angkot dan pedagang yang parkir di badan jalan, kelincahan Honda Beat langsung berubah jadi keunggulan. Saya bisa menyelip, berhenti di warung mana saja, dan memarkir motor di sela-sela sempit tanpa perlu mengangkat beban.

Punggung saya juga ikut berterima kasih. Posisi duduk Honda Beat tegak dan setangnya dekat. Untuk perjalanan 3 sampai 5 jam, posisi itu jauh lebih ramah daripada posisi motor touring jenis sport yang memaksa Anda menunduk dan menahan leher.

Iritnya Honda Beat membuat anggaran touring nyaris tidak masuk hitungan

Tangki Honda Beat cuma 4 liter. Banyak orang membaca angka itu sebagai kelemahan. Saya justru membacanya sebagai pengingat supaya berhenti setiap 150 kilometer, yang kebetulan memang yang tubuh saya butuhkan.

ADVERTISEMENT

Konsumsi bensinnya berkisar 45 sampai 55 kilometer per liter. Dengan begitu, sekali isi penuh saya hanya merogoh kantong sekitar Rp20 ribu. Total biaya bensin kalau dari Semarang ke Solo masih lebih murah daripada seporsi nasi goreng kampung overpriced di kafe masa kini itu.

Bandingkan dengan motor touring 250cc yang menuntut bensin lebih rakus, servis lebih mahal, dan ban lebih besar. Untuk perjalanan satu provinsi, selisih biaya itu membuat saya merasa seperti membuang uang demi gengsi.

Sparepart dan bengkel Honda Beat ada di mana-mana

Ini alasan paling membosankan sekaligus paling menentukan. Ketika touring di provinsi sendiri, rute melewati kota-kota kecil yang bengkelnya belum tentu paham motor modern berteknologi rumit.

Honda Beat justru teman akrab semua bengkel. Oli, busi, kampas rem, v-belt, semuanya tersedia, dan harganya bersahabat. Saya pernah kehilangan tekanan angin di tengah jalur pedesaan, dan bengkel tambal ban sederhana langsung menyelesaikan masalah dalam 15 menit.

Motor touring yang ideal bukan motor yang paling kencang. Motor touring yang ideal adalah motor yang bisa kamu perbaiki di kota mana saja tanpa drama.

Kelemahan motor touring ini yang tidak akan saya tutupi

Jok Honda Beat sempit. Setelah dua jam menanjak, bagian dalam paha saya mulai protes. Suspensinya juga kaku, jadi setiap lubang di jalan seperti sengaja mencari saya.

Getaran mesinnya pun tidak pernah hilang sepenuhnya di kecepatan tinggi. Honda Beat paling bahagia di 60 sampai 80 kilometer per jam. Begitu kamu memaksanya lebih, mesinnya berteriak dan bahan bakar mulai boros.

Solusi saya sederhana. Berhenti setiap 60 sampai 80 kilometer, minum, dan menggerakkan badan. Justru ritme itulah yang membuat motor touring untuk satu provinsi ini jadi lebih menyenangkan. Untung, teman-teman saya juga nggak protes. Maklum, mereka adalah para remaja jompo yang daya tahan punggung cuma bertahan dalam hitungan 5, 4, 3, 2, 1 WQWQWQ 

Honda Beat mengubah cara saya memandang motor touring

Honda Beat mengajari saya satu hal yang jarang orang akui. Perjalanan jauh tidak menuntut motor mahal. Perjalanan jauh menuntut motor yang kamu kenal betul, yang mau menyala setiap pagi, dan yang tidak membuat kamu berpikir dua kali soal biaya.

Untuk jadi motor touring menembus satu provinsi, Honda Beat adalah jawaban paling waras yang bisa saya tawarkan. Tapi satu provinsi aja, ya. Kalau udah lintas, sih, risiko kamu tanggung sendiri.

Jadi, motor ini kecil, murah, irit, dan sama sekali tidak keren. Tapi setiap kali saya menyalakan mesinnya untuk berangkat touring, saya tahu satu hal pasti.

Saya akan sampai. Dan saya akan pulang dengan dompet yang masih tersenyum.

BACA JUGA Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.