Surabaya jarang dan nggak perlu sampai jual diri. Kota ini tidak membangun menara ikonik setinggi langit untuk memikat perhatian. Tidak pula menggelar kampanye besar-besaran agar masuk daftar kota paling layak untuk hidup dan pensiun.
Surabaya memilih pekerjaan yang tidak menghasilkan sorotan. Ia mengebor saluran air, menambah rumah pompa, menempatkan tenaga kesehatan di balai RW, dan mengajak ketua RW mengurus lansia di gang-gang sempit.
Pilihan itu masuk akal. Semua pekerjaan semacam itu baru berbuah ketika seseorang menginjak usia 50, 60, 70 tahun. Saat itulah orang mulai menghitung ulang arti sebuah kota. Misal, seberapa dekat rumah sakit, seberapa murah transportasi, seberapa cepat air hujan surut dari halaman, seberapa ramah tetangga, dan seberapa tenang hati menitipkan masa tua.
Kompas, Detik, Tempo, dan Radar Surabaya sebagai jaringan Radar Jatim di bawah Jawa Pos Group selama satu dekade terakhir merekam pola yang konsisten. Surabaya membangun infrastruktur yang menyentuh tubuh warga, bukan hanya memasang wajah kota. Berikut 10 alasan yang membuat kota ini layak kamu pertimbangkan untuk hidup dan menghabiskan sisa usia.
#1 Surabaya memelihara kebersihan sebagai kebiasaan, bukan sebagai proyek musiman
KLHK menyerahkan Adipura Kencana kepada Surabaya 8 kali berturut-turut hingga 2023. Tempo mencatat momen lebih awal. Pada 22 Juli 2016, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerahkan Adipura Paripurna kepada Wali Kota Tri Rismaharini di Siak, Riau, dan saat itu Surabaya sudah 7 kali beruntun meraih Adipura.
KLHK kala itu menyoroti satu hal yang membuat Surabaya menonjol, yaitu keberaniannya mengubah TPA Benowo menjadi pembangkit listrik. Ini sebuah langkah yang kemudian membuat banyak kota meniru Surabaya.
Kompas mencatat pada 14 Januari 2019 bahwa Surabaya menjadi satu-satunya kabupaten/kota peraih Adipura Kencana periode 2017–2018. Ini sekaligus membawa pulang penghargaan Kinerja Pengurangan Sampah dan Nirwasita Tantra dalam satu sore.
Menariknya, pada 2025, Surabaya justru turun kelas. KLHK memutuskan tidak ada satu pun daerah yang layak menyandang predikat “Kota Bersih”, dan Surabaya hanya memperoleh Sertifikat Menuju Kota Bersih.
Namun, Surabaya tetap menempati peringkat pertama nasional dalam pengelolaan sampah dengan nilai 74,92, di atas Balikpapan (74,55) dan Ciamis (74,68). Artinya, kota ini memimpin meski standar penilaiannya naik. Bagi orang yang akan menua di sini, artinya sederhana. Lingkungan bersih bukan janji kampanye, melainkan hasil kerja yang berulang setiap tahun.
#2 Uang pensiun kamu bertahan lebih lama karena rumah di Surabaya jauh lebih murah
Inilah alasan paling membosankan sekaligus paling menentukan. Data portal properti Rumah123 menunjukkan harga rumah di Surabaya sekitar 37% lebih murah ketimbang Jakarta. Sementara itu, biaya sewa tempat tinggal sekitar 34% lebih murah. Harga properti rata-rata di Surabaya berada di kisaran Rp12 juta per meter persegi, sedangkan Jakarta mendekati Rp25 juta per meter persegi.
Pada saat yang sama, Surabaya mencatat upah minimum kabupaten/kota tertinggi di Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menetapkan UMK Surabaya 2026 sebesar Rp5.288.796, naik dari Rp5.032.635 pada 2025.
Kombinasi ini menciptakan ruang bernapas yang jarang muncul di kota metropolitan sebesar Surabaya. Pendapatan mendekati Jakarta, harga tempat tinggal jauh di bawah Jakarta.
BPS juga mencatat konsumsi rumah tangga menyumbang 59,97% dari PDRB pada 2025. Ini tanda bahwa warga benar-benar membelanjakan uangnya di kota ini, bukan sekadar melintas untuk bekerja lalu pulang ke kota lain.
Tentu tidak semuanya ringan. Survei Biaya Hidup BPS mencatat pengeluaran rata-rata satu rumah tangga menembus Rp13,36 juta per bulan. Angka ini penting untuk kamu hitung serius sebelum memutuskan pindah. Namun, bagi pasangan yang sudah lunas cicilan rumah, biaya hidup di sini menjadi sangat bersahabat.
#3 Tenaga kesehatan menunggu di balai RW, bukan di kota seberang
Pada 17 Juli 2024, Wali Kota Eri Cahyadi meluncurkan program Satu RW Satu Nakes. Pemkot menempatkan sedikitnya satu tenaga kesehatan di 1.177 balai RW.
Warga cukup berjalan kaki ke balai RW untuk konsultasi, skrining gula darah, dan pemeriksaan kolesterol secara gratis. Dokter langsung menerima hasil pemeriksaan, lalu petugas mengantar obat ke balai RW.
Dua bulan sebelumnya, pada 14 Juni 2024, Pemkot meresmikan 153 Puskesmas Pembantu dengan skema Integrasi Layanan Primer. Lima hari setelah R1N1 berjalan, pada 22 Juli 2024, Pemkot menambahkan program Satu Kelurahan Satu Ambulans yang mengantar-jemput pasien tanpa biaya.
Jaringan rumah sakitnya juga tebal. Pada 2024 Surabaya memiliki 43 rumah sakit umum, 15 rumah sakit khusus, 63 puskesmas, dan 312 klinik. Ini jumlah klinik terbanyak di Jawa Timur.
Sebanyak 226 fasilitas pelayanan kesehatan bermitra dengan BPJS Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Semesta, dan Pemkot mengalokasikan sekitar Rp500 miliar per tahun agar warga miskin berobat gratis. Pada 2026, Pemkot menghubungkan 69 rumah sakit dalam satu sistem Satu Data Kesehatan, termasuk satu rumah sakit terapung.
Pengakuan internasional mengikuti. Pada 27 November 2024, WHO South-East Asia Regional Office menerbitkan Letter of Recognition dan memasukkan Surabaya ke dalam Healthy City Network.
WHO menilai Surabaya memenuhi indikator bahwa setiap kampung memetakan sanitasinya sendiri, cakupan air bersih 99%, sistem saluran air, serta penanganan penyakit melalui R1N1 dan puskesmas pembantu. Sebelum itu, Surabaya sudah 3 kali meraih Swasti Saba Wisatara, penghargaan tertinggi kota sehat tingkat nasional.
Bagi orang tua, jarak menuju pertolongan adalah segalanya. Surabaya memangkas jarak itu sampai sepanjang gang.
#4 Surabaya memperlakukan masa tua sebagai urusan kota, bukan urusan keluarga seorang diri
Ini pembeda paling nyata antara Surabaya dan kota lain. Pada Juni 2024, Pemkot menaikkan anggaran Karang Werda sehingga para lansia bisa berkumpul 4 kali sebulan, dari sebelumnya hanya sekali.
“Dengan banyak bertemu, harapannya para lansia lebih banyak bahagia dan umurnya akan lebih panjang,” kata Eri Cahyadi saat menghadiri pentas seni Karang Werda di Kebonsari, Jambangan.
Pemkot juga menjalankan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) yang menjangkau 31 kecamatan dengan lebih dari 1.000 peserta. Radar Surabaya melaporkan langsung momen wisuda para lansia pada September 2024, dan Pemkot berencana menambah frekuensi sekolah menjadi 3 kali setahun.
Materi Selantang tidak main-main. Mulai dari pengenalan hipertensi, stroke, dan jantung, gizi lansia, terapi kecemasan, hingga keterampilan bertani dan berkebun.
Radar Surabaya juga mencatat bahwa Pemkot membangun Griya Wreda Utama di Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, dengan daya tampung 300 sampai 350 lansia yang tidak lagi punya tempat bergantung. Fasilitas ini menyatukan penanganan yang sebelumnya berpencar di beberapa lokasi.
Dan yang setiap hari menemani warga. Setiap lansia berusia 60 tahun ke atas naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri tanpa membayar sepeser pun. Cukup tunjukkan KTP.
#5 Pemkot membangun rumah pompa alih-alih menunggu hujan berhenti
Surabaya berdiri di pesisir utara Jawa Timur, di atas tanah yang menurun dan menghadapi pasang laut. Tidak ada kota yang bisa menghapus risiko itu. Yang membedakan hanyalah kesediaan menghadapinya.
Pada Oktober 2024, Pemkot mengaktifkan 76 rumah pompa dan menormalisasi 306 saluran menjelang musim hujan. Setahun kemudian, jumlah rumah pompa mencapai 81 unit.
Sepanjang 2025, Pemkot menuntaskan 5 rumah pompa baru berkapasitas 3,5 meter kubik per detik di Dukuh Menanggal, Karah Agung, Ketintang Madya, Margorejo Indah, dan Amir Mahmud; membangun saluran drainase di 233 titik sepanjang 56,36 kilometer; serta mengaspal 24 ruas jalan. Hasilnya, jumlah titik genangan berkurang 38 lokasi. Kawasan Pakal yang puluhan tahun menjadi langganan banjir kini jauh lebih aman.
Memasuki 2026, 3 rumah pompa berkapasitas 6,5 meter kubik per detik beroperasi sejak Januari di Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Masing-masing membawa tiga unit pompa dan penyaring sampah.
Kini, total rumah pompa Surabaya mencapai 90 unit, dan Wali Kota Eri memasang target bebas genangan pada November 2026. Rumah pompa besar di Greges dan Kalisari sanggup mengalirkan hingga 21 meter kubik air per detik, dan petugas menjaganya 24 jam.
Kota ini belum selesai. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga pernah menyebut kebutuhan ideal sekitar 150 rumah pompa, dan DPRD Surabaya mengingatkan bahwa banjir tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Namun arah geraknya jelas dan terukur, bukan sekadar retorika.
#6 Cukup Rp5.000 untuk keliling kota dan gratis untuk lansia
Sejak 2017, Surabaya mengoperasikan Suroboyo Bus. Pada 2 Maret 2023, kota ini menambahkan Wira Wiri Suroboyo, angkutan pengumpan berkapasitas kecil yang masuk sampai ke kampung-kampung sempit. Trans Semanggi Suroboyo melengkapinya dengan bus listrik.
Tarifnya murah. Rp5.000 untuk umum, Rp2.500 untuk pelajar dan mahasiswa. Lansia di atas 60 tahun, veteran, penyandang disabilitas, dan anak di bawah lima tahun naik gratis.
Penumpang juga bisa berpindah moda dalam 2 jam tanpa membayar lagi. Suroboyo Bus dan Wira Wiri berada di bawah satu pengelola, yaitu Dinas Perhubungan Kota Surabaya.
Angkanya tumbuh sehat. Penumpang Suroboyo Bus melonjak 3,37 kali lipat antara 2018 dan 2023, dari 513.142 orang menjadi 1,73 juta orang. Penumpang Wira Wiri hampir berlipat dua dalam setahun, dari 64.054 orang pada Juli 2023 menjadi 121.250 orang pada Juni 2024. Dishub kini mengoperasikan lebih dari 500 titik halte.
Jujur saja, kemacetan tetap ada. TomTom Traffic Index 2025 mencatat tingkat kemacetan Surabaya 43,7% dan menempatkannya di peringkat kelima nasional, di bawah Bandung, Jakarta, Medan, dan Palembang.
Namun, TomTom juga mencatat bahwa pada 2024 warga Surabaya kehilangan 76 jam per tahun akibat macet. Ini paling sedikit dibanding keempat kota pembanding itu. Untuk ukuran kota metropolitan kedua terbesar di Indonesia, itu bukan angka yang buruk.
#7 Ada 949 taman menjaga pagi kamu tetap hijau dan gratis
Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya mengelola 949 taman. Rinciannya: 38 taman aktif skala kota, 136 taman aktif di tingkat RW, dan 775 taman pasif di jalur hijau. Sebanyak 169 taman sudah memiliki perabot bermain anak.
Pada Desember 2020, luas ruang terbuka hijau Surabaya mencapai 7.356 hektare atau 21,99 persen dari luas kota, melampaui target minimal 20% yang Peraturan Menteri PU tetapkan.
Pada 2024, Pemkot merevitalisasi 10 taman sekaligus, termasuk Taman Bungkul, Taman Prestasi, Taman Flora, Taman Cahaya, dan Taman Mozaik. Penekanannya pada keramahan bagi anak dan penyandang disabilitas.
Taman Bungkul sendiri menyimpan sejarah panjang. Pada 2013 taman ini meraih Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan hingga kini warga masih memakai amfiteaternya, jogging track-nya, dan lapangan skateboard-nya tanpa membayar sepeser pun.
Kebun Bibit dan Taman Cahaya sudah memegang sertifikat Ruang Bermain Ramah Anak. DLH mengajukan Taman Bungkul serta Taman Sejarah untuk sertifikasi yang sama.
Bagi orang yang sudah pensiun, taman bukan sekadar pemandangan. Taman adalah tempat menurunkan tekanan darah, menemani cucu bermain, dan mengobrol dengan tetangga pada pagi hari. Surabaya menyediakan hampir seribu tempat semacam itu, dan sebagian berdiri di halaman balai RW.
#8 Ekonomi Surabaya tumbuh paling cepat di Jawa Timur dan hasilnya terasa di tingkat rumah tangga
BPS Kota Surabaya mencatat ekonomi Surabaya tumbuh 5,76% pada 2024. Ini pertumbuhan tertinggi di Jawa Timur dan di atas rata-rata nasional 5,03%.
Pada 2025, angka itu naik lagi menjadi 5,87%, melampaui Jawa Timur (5,33%) dan nasional (5,11%). Nilai PDRB Surabaya pada 2025 mencapai Rp830,54 triliun atas dasar harga berlaku.
Pertumbuhan itu tidak berhenti di atas kertas statistik. Indeks Pembangunan Manusia Surabaya naik dari 84,69 pada 2024 menjadi 85,65 pada 2025, tertinggi di Jawa Timur.
Angka kemiskinan turun dari 5,1% pada 2021 menjadi 3,56% pada 2025, dan penduduk miskin ekstrem kini nol. Tingkat pengangguran terbuka menyusut dari 9,68% menjadi sekitar 4,8%. Angka stunting turun drastis dari 28,9% menjadi 1,6%. Nilai investasi naik dari Rp40,48 triliun pada 2024 menjadi Rp43,6 triliun pada 2025.
Bagi warga yang mendekati usia pensiun, indikator paling relevan mungkin yang ini. Program Padat Karya sudah menyerap 36.194 tenaga kerja, dengan omzet usaha binaan mencapai Rp5 juta sampai Rp7 juta per orang per bulan. Orang tidak harus muda untuk tetap produktif di kota ini.
#9 Empat kampus negeri besar di Surabaya menahan anak dan cucu tetap dekat
Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua yang menua adalah jarak. Surabaya menjawabnya dengan kepadatan kampus.
QS Asia University Rankings 2026 menempatkan Universitas Airlangga di peringkat 54 Asia dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di peringkat 97 Asia. Keduanya terbaik di Jawa Timur.
Universitas Negeri Surabaya dan UPN “Veteran” Jawa Timur melengkapi jajaran kampus negeri yang membuka 257 program studi melalui jalur SNBP. Unesa menerima 21.020 mahasiswa baru pada tahun akademik 2025/2026 dan mencatat 53.237 pendaftar SNBP 2026. Unair bahkan masuk 10 besar dunia dalam THE Impact Rankings 2025.
Antusiasme pendaftar ke kampus negeri di Surabaya terus meningkat. Artinya, generasi muda memang ingin tinggal dan belajar di sini. Pemkot memperkuatnya dengan beasiswa sarjana bagi 3.600 anak dari keluarga miskin dan pra-miskin, serta program Beasiswa Pemuda Tangguh.
Bagi kakek-nenek, ini soal yang tidak pernah masuk perhitungan uang. Cucu yang bisa pulang setiap akhir pekan tanpa harus naik pesawat.
#10 Kampung Pancasila dan warisan kuliner merawat hal yang tidak mampu negara beli, yaitu tetangga
Pada 2 Juli 2025, Pemkot menetapkan Satuan Tugas Kampung Pancasila melalui Keputusan Wali Kota Nomor 100.3.3.3/142/436.1.2/2025. Sebulan kemudian, pada 11 Agustus 2025, Wali Kota Eri Cahyadi menggerakkan 1.360 titik Kampung Pancasila di 153 kelurahan dan 1.361 RW. Sebanyak 12.000 aparatur sipil negara mendampingi warga.
Yang menarik, penilaian Kampung Pancasila tidak berhenti pada nilai-nilai abstrak. Setiap bulan, ketua RW menilai kondisi nyata lewat aplikasi “Sayang Warga”. Mulai dari pengelolaan sampah, kesehatan balita, status gizi warga, dan kegiatan ronda malam atau siskamling. Program ini menyempurnakan sejumlah program kampung yang sudah berjalan sebelumnya.
Efeknya nyata di tingkat gang. Sebuah kampung di Surabaya yang menghimpun donasi warga Rp90.331.000 sejak 2024 dan menyalurkan Rp88.686.500 untuk sembako, kursi roda bagi lansia, serta dukungan program Bangga Surabaya Peduli. Solidaritas berubah menjadi sistem ekonomi kecil yang berjalan sendiri.
Denyut budayanya juga tidak pernah berhenti. Rujak cingur sudah masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2021, dan Rujak Uleg Festival 2025 membagikan 3.300 porsi kepada warga.
Kampung Lawas Maspati, Kampung Heritage Lawang Seketeng, Pecinan Kapasan Dalam, dan kawasan Kota Lama menawarkan wisata sejarah yang bisa kamu capai dengan Suroboyo Bus. Sepanjang 2025, Surabaya menerima 25 sampai 26 juta kunjungan wisata, dan 85 sampai 90% di antaranya wisatawan domestik.
Satu catatan jujur sebelum kamu memutuskan
Surabaya bukan kota tanpa cela. Partikel halus PM2.5 sempat masuk kategori Tidak Sehat pada pukul 06:00 sampai 09:00 di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien Tandes pada Oktober 2026, dan DLH memastikan penyebabnya aktivitas kendaraan serta industri, bukan kebakaran hutan.
Kemacetan masih mencuri hampir 44% waktu perjalanan. Jumlah rumah pompa baru mencapai 90 dari kebutuhan sekitar 150. Dan KLHK belum lagi menemukan satu kota pun di Indonesia yang layak menyandang predikat Kota Bersih.
Namun, perhatikan pola yang muncul dari pemberitaan 10 tahun terakhir. Setiap masalah muncul, Pemkot Surabaya merespons dengan angka, target, dan tenggat yang membuat publik bisa memeriksa sendiri.
Adipura turun kelas, dan Pemkot langsung menambah bank induk sampah serta TPS 3R. Banjir menggenang, dan Pemkot mengejar lima rumah pompa dalam setahun. Lansia kesepian, dan Pemkot menaikkan anggaran Karang Werda empat kali lipat frekuensinya.
Kota terbaik untuk hidup sampai pensiun bukan kota yang paling megah, melainkan kota yang paling rajin memperbaiki dirinya. Dengan ukuran itu, Surabaya punya alasan kuat untuk berada di urutan teratas.
BACA JUGA Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi dan artikel yang menarik lainnya di rubrik POJOKAN.