• 1
    Share

MOJOK.COKenaikan Isa Almasih (atau Kenaikan Yesus Kristus, entahlah) membuat siang saya penuh pertanyaan (((transendental))).

Mungkin adalah suatu ironi ketika antara penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, masing-masing mengetahui sedikit sekali tentang agama satu sama lain. Sebab, di keseharian, kita bisa melihat betapa banyak persilangan yang terjadi antara ketiga agama tersebut. Kita bisa berkaca pada peringatan yang menyebabkan hari ini bertanggal merah, yakni Kenaikan Isa Almasih.

Banyak yang bisa kita sebut berkaitan dengan persilangan antara tiga agama tersebut. Lahir di kawasan yang sama (Arab, sehingga disebut agama-agama semit), punya kitab suci, bertuhan satu (tauhid), memiliki nabi dan rasul, merupakan agama langit (samawi), dan sebagainya. Bahkan, dari segi ritual pun ada sejumlah kesamaan yang seharusnya bukan kebetulan: puasa, sunat, melarang perzinaan, pantangan makanan tertentu, itu beberapa yang saya ketahui.

Kiranya, bagaimana tiga agama itu punya keterhubungan, entitas yang paling mudah untuk mewakilinya adalah Yerusalem, kota suci tiga agama (holy city of three faiths).

Saya bertanya-tanya, mengapa di kalender hari ini dituliskan sebagai Hari Kenaikan Isa Almasih. Mengingat mayoritas yang merayakannya adalah umat kristiani dan mereka lebih umum menyebut hari ini sebagai hari kenaikan Yesus Kristus. Ketika mencari apa beda Isa Almasih dan Yesus Kristus di Google, hasil pertama justru sebuah artikel yang sulit saya yakini kredibilitasnya, yang menyebut bahwa Isa Almasih adalah orang yang berbeda dari Yesus Kristus.

Baca juga:  5 Rahasia di Balik Logo Dji Sam Soe, Rokok yang Konon Sangat NU

Membaca di sana dan sini, saya menemukan bahwa Isa dan Yesus berasal dari akar kata yang sama dan punya arti sama, demikian pula almasih dan kristus yang sama-sama berarti ‘diurapi’ hanya menggunakan dua bahasa berbeda.

Pencarian itu tidak menjawab pertanyaan saya tentang nama hari di kalender tadi. Justru, ia membawa saya pada pertanyaan lain yang menjadi pembuka tulisan ini. Ternyata, sebagai pemeluk salah satu agama semit tadi, begitu miskin pengetahuan saya pada agama semit lain. Mungkin itu juga yang menyebabkan mengapa saya yang sudah membaca berita kekacauan di Palestina sejak SD dari koran dan kemudian, sampai menjelang kepala tiga masih menemukan berita serupa, tetap saja tak kunjung paham apa sebenarnya rasionalisasi konflik bertahun di Tepi Barat.

(Kemungkinan besar, dasar saya yang terlalu malas mencari tahu dan membaca lebih banyak.)

Di siang peringatan Kenaikan Isa Almasih ini, sebelum memutuskan membuat tulisan ini, pikiran saya mengawang-ngawang pada hafalan pelajaran agama saat kelas 1 SD.

Rukun Iman ada enam. Pertama, iman kepada Allah. Kedua, iman kepada malaikat-Nya. Ketiga, iman kepada kitab-kitab-Nya. Keempat, iman kepada rasul-rasul-Nya. Kelima, iman kepada hari akhir. Keenam, iman kepada qada dan qadar.

“Daf,” saya mencolek teman yang sedang duduk di depan saya. Dia seorang gus, anak kiai.

Piye?” Ia mendongakkan tatapan dari layar laptop.

Baca juga:  Indonesia Tak Gentar dengan Ancaman Amerika Serikat soal Dukungannya terhadap Palestina

“Gimana sih cara teknis beriman kepada kitab-kitab Allah dan rasul-rasul Allah?”

Bukannya menjawab, dia malah mencibir. “Iman kok teknis.”

“Hehehe.”

  • 1
    Share


Tirto.ID
Loading...

No more articles