ADVERTISEMENT

5 profesi di Jogja yang sebentar lagi punah, dilupakan, dan berpotensi melahirkan pengangguran baru

5 profesi di Jogja yang sebentar lagi punah dan dilupakan MOJOK.CO

Pada 2030, beberapa profesi akan menghilang. Dan, kondisi ini bisa melahirkan masalah baru bagi Jogja dan kota-kota lainnya.

Sabtu pagi, saya dan istri mampir ke Pasar Terban Jogja. Lorong baru seusai renovasi total membentang bersih, para pedagang menunggu, dan pembeli nyaris tidak lewat. 

ADVERTISEMENT

Detik melaporkan pasar itu kembali sepi sejak awal 2026. Seorang pedagang lotek bernama Yani bahkan meminta Pemerintah Kota menggelar promosi agar warga datang lagi. Sampai segitunya, pikir saya dan istri yang terbiasa berbelanja di tengah pasar tradisional yang ramai di Minggir Sleman.

Istri saya tidak banyak berbelanja. Kami pun hanya melihat-lihat saja. Namun, kami pulang membawa pertanyaan. Sampai kapan lapak-lapak seperti ini bertahan? Sampai kapan orang-orang bisa menggantungkan masa depan profesi mereka di Pasar Terban yang “baru dan modern” ini? Lapak bukan sekadar mesin uang, tapi menjaga kabar beredar di kampung sekitar.

Jogja terus menjual diri sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota wisata. Saya menambah satu label lagi: kota penyimpan profesi yang tinggal menunggu kepunahan. 

Lewat tulisan kali ini, saya tidak mengangkat cerita tukang. Angka ekonomi 2023-2026 yang berbicara dari banyak arah.

Uang belanja menipis di Jogja yang biaya hidupnya tinggi

BPS DIY membuka data bahwa pengeluaran warga Kota Jogja menembus sekitar Rp1,7 juta per orang per bulan pada 2025. Ini menempatkan biaya hidup kota ini di posisi kedua tertinggi se-Indonesia. Saya sampai melongo ketika menemukan data ini.

Sementara itu, UMK Kota Jogja 2026 berhenti di Rp2.827.593. Saya menemukan berita di Liputan6 isinya rangkuman kondisi daya beli nasional yang melemah. Mulai dari penyempitan lapangan kerja, gelombang PHK, dan pekerjaan informal tanpa jaminan memaksa orang menahan belanja. 

Kompas mencatat keyakinan konsumen anjlok tiga bulan berturut-turut hingga Maret 2025. Ini sinyal bahwa rumah tangga menunda belanja besar. Uang yang menipis memangkas pertama-tama jasa, barang, dan profesi yang orang anggap bisa mereka tunda.

Layar menang, lapak kalah

Nilai bisnis e-commerce Indonesia tembus Rp1.026,1 triliun pada 2024. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut pola belanja warga bergeser ke ritel dekat rumah dan kanal daring karena ritel besar kalah bersaing dengan toko online. 

ADVERTISEMENT

Di Jogja, dampaknya masuk ke pasar tradisional. Pasar Sentul dan Pasar Terban sama-sama mengeluhkan sepi pembeli seusai renovasi. Mereka yang menekuni profesi di sana, kompak mengeluh.

Mesin mengambil alih pekerjaan kantor

Kompas merangkum laporan riset yang memproyeksikan 15 profesi akan menyusut pada 2030 karena kecerdasan buatan. Baca ini perlahan: Petugas pos menyusut 40%, teller 35%, petugas entri data 34%, dan kasir 29%. 

Kompas juga mengutip laporan Anthropic pada 2026. Customer service mencapai paparan AI 70,1% dan entri data 67,1%. Mesin mengerjakan tugas mengetik, membalas, dan menghitung lebih murah dan lebih cepat daripada manusia. 

Perusahaan mana pun di Jogja yang membaca laporan itu bisa saja menimbang ulang anggaran gaji kantor tempat orang menekuni sebuah profesi. Kompas menambahkan temuan menohok. Sebanyak 37,1% pekerja dengan paparan AI tertinggi mengantongi gelar sarjana dan 17,4% mengantongi gelar pascasarjana.

5 profesi di Jogja yang sebentar lagi punah

  1. Pedagang pasar tradisional. Pasar-pasar Jogja kehilangan pengunjung, sementara e-commerce menyerap belanja harian. Eks pedagang Teras Malioboro 2 mengeluhkan omzet anjlok setelah pindah ke Ketandan dan Beskalan, sebagian bahkan menerima nol rupiah. Mereka bertahan dengan lapak lama sementara pembeli berpindah ke aplikasi.
  2. Profesi teller dan staf kantor cabang bank. OJK mencatat 509 kantor cabang bank tutup hingga Maret 2025 karena nasabah berpindah ke aplikasi. Kompas mencatat jumlah cabang menyusut 3.208 unit menjadi 21.035 unit pada periode yang sama. Antrean pagi di cabang Jogja makin pendek, dan riset memproyeksikan kebutuhan teller menyusut 35% pada 2030.
  3. Kasir dan pramuniaga toko fisik. Kompas melaporkan sejumlah gerai ritel asing menutup pintu sepanjang 2025, termasuk GS Supermarket yang menghentikan seluruh operasional di Indonesia. Kompas menambahkan temuan Hippindo: biaya operasional tinggi, skala usaha kecil, dan pergeseran konsumen ke platform daring menekan peritel konvensional. Jabatan dan profesi yang mengandalkan kasir dan etalase menipis bersama gerainya.
  4. Petani muda. Dinas Pertanian DIY mencatat alih fungsi lahan menghabiskan 150 hektar pertanian setiap tahun. Kompas mencatat proporsi petani usia 25-34 tahun turun 1,73% dan usia 35-44 tahun turun 4,34% dalam 10 tahun terakhir. Stigma kurang bergengsi menyudutkan profesi ini di mata anak muda. BPS menambah temuan bahwa orang tua petani justru enggan mewariskan pekerjaan itu kepada anak-anak mereka.
  5. Staf administrasi dan customer service kantor. Kursi klerikal di kota ini makin sempit. BPS mencatat TPT Kota Jogja menyentuh 5,72% atau 12.473 orang pada 2025, dan orang berusia 35 tahun ke atas menduduki posisi teratas dalam pengangguran itu. Laporan Anthropic menempatkan customer service pada paparan AI 70,1%. Otomasi menggusur pekerja kantor, lalu pekerja itu sulit pindah jalur di usia matang.

Menyimpan kursi sebelum profesi ini jadi arsip semata

Saya tidak menolak toko online, aplikasi bank, atau mesin. Saya cuma menawarkan kebiasaan kecil. 

Mulai dari belanja di pasar sekali-sekali, datang ke teller saat Anda memang perlu, dan sebut nama pedagang langganan kepada teman-teman. Profesi punah lebih cepat karena kita berhenti memakainya. 

Kota yang bangga pada budayanya seharusnya menyediakan kursi bagi orang yang bekerja di balik barang dan makanan kita. Lima tahun lagi, kita boleh mengenang pasar dan kantor cabang dengan kalimat yang sama: “Dulu ada, lho.”

BACA JUGA 5 tukang di Jogja yang sebentar lagi punah dan cuma ada di cerita dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.