ADVERTISEMENT

5 tukang di Jogja yang sebentar lagi punah dan cuma ada di cerita

5 tukang di Jogja yang sebentar lagi punah dan cuma ada di cerita MOJOK.CO

Sepatu kulit saya menganga di bagian sol. Saya membawanya ke tukang sol langganan di Jogja, sebuah lapak kecil yang puluhan tahun menempati trotoar. Pemiliknya sudah sepuh. Tangannya masih lincah memasang benang nilon, tetapi dia mengaku lama tidak punya murid.

Di kota yang sama, Jogja menjual dirinya sebagai kota pelajar, kota budaya, kota wisata, dan kota tempat orang ingin menua dengan tenang. Tiga predikat pertama muncul setiap hari di layar ponsel saya. Sementara predikat keempat, menyimpan angka yang jarang kita temukan.

ADVERTISEMENT

Jogja provinsi paling tua di Indonesia, dan kita jarang membicarakannya

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang BPS jalankan mencatat 17,83% penduduk DIY berusia 60 tahun ke atas. Sementara itu, angka nasional mencapai 11,97%. Artinya, DIY menjadi provinsi dengan porsi lansia paling besar di Indonesia, jauh di atas Jawa Timur (15,45%) dan Bali (15,07%).

Penduduk DIY pada 2025 mencapai 3,78 juta jiwa, dengan angka kelahiran total hanya 1,84 anak per perempuan. Kota ini menua lebih cepat ketimbang kota lain, sementara narasi pariwisatanya tetap menjual anak muda, kafe, dan liburan akhir pekan.

Separuh lebih pekerja Jogja berjalan tanpa jaminan

BPS DIY mencatat 2,20 juta orang bekerja pada Agustus 2025, dan hanya 1,01 juta orang atau 46,03% yang masuk kegiatan formal. Artinya, sekitar 54% pekerja DIY bergerak di sektor informal. Mulai dari pedagang, buruh lepas, tukang jasa, dan pemilik usaha kecil tanpa kontrak tetap.

BPJS Ketenagakerjaan mencatat potensi pekerja informal di DIY sekitar 1 juta orang, sementara peserta aktif dari kelompok itu baru 122 ribu orang atau sekitar 12%. Jadi, 8 dari 9 pekerja informal di provinsi ini berjalan tanpa jaminan kecelakaan kerja dan tanpa jaminan hari tua.

Ironinya menumpuk. Provinsi dengan porsi lansia paling besar di Indonesia justru menyimpan mayoritas pekerja dan tukang tanpa tabungan pensiun.

Orang tua di Jogja bekerja sampai tubuhnya berhenti

Laporan BPS Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024 menyebut 55,32% lansia Indonesia masih bekerja, angka paling tinggi dalam 10 tahun belakangan. Sebanyak 84,75% dari mereka bekerja di sektor informal, dengan penghasilan rata-rata Rp2,07 juta per bulan. Sementara itu, UMK Kota Yogyakarta 2026 yang Gubernur DIY tetapkan lewat Keputusan Gubernur Nomor 443/2025 mencapai Rp2.827.593.

Artinya, seorang penjahit berusia 68 tahun di Jogja berpeluang besar menerima penghasilan di bawah upah minimum. Dan, dia tetap membuka lapak karena tidak punya pilihan lain. BPS menyebut alasannya lugas: lansia bekerja karena jaminan pensiun tidak ada.

Meja jasa tukang juga menjalankan fungsi yang jarang kita hitung. Orang bertukar kabar dan menjaga gang yang mulai lengang.

ADVERTISEMENT

Kita memilih membeli, bukan memperbaiki

Perilaku ini punya angkanya sendiri. Laporan Statistik E-Commerce 2024 yang BPS susun mencatat nilai transaksi e-commerce Indonesia menyentuh Rp1.288,93 triliun, naik 17,08% dari 2023, dan jumlah usaha menembus 4,4 juta unit. Harga barang sering lebih murah ketimbang ongkos perbaikan, apalagi ketika paket datang sampai pintu.

Cara kita memakai pakaian mengikuti logika yang sama. BPS dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat timbulan sampah tekstil nasional pada 2024 menyentuh sekitar 873 ribu ton dari total 34,2 juta ton sampah. 

Angka impor pakaian bekas pada 2024 mencapai 3.865 ton, dan pengeluaran rata-rata orang Indonesia untuk pakaian pada tahun yang sama sekitar Rp35.547 per bulan. Ubah saja jadi bahasa sehari-hari. Kita membeli baju jauh lebih cepat ketimbang penjahit memperbaikinya.

5 jasa tukang di Jogja yang tinggal menunggu cerita paling getir

  1. Tukang sol dan tukang reparasi tas. Di Lempuyangan dan Kranggan, beberapa lapak masih menerima sepatu, tas, topi, bahkan kereta bayi. Tarif mereka ramah, dan justru itu masalahnya. Ongkos membeli sepatu obral daring sering lebih rendah ketimbang upah membuka jahitan lama.
  2. Tukang jam dan arloji. Ponsel mengambil alih fungsi jam, dan jam mekanik berpindah status menjadi hiasan mahal. Jumlah jam yang perlu masuk bengkel menipis, sementara keahlian ini menuntut puluhan tahun untuk matang.
  3. Penjahit tua dan jasa permak. Orang masih datang untuk mengecilkan ukuran, mengganti ritsleting, dan menambal bordir. Namun sewa ruang di kota ini menanjak, dan upah menjahit tidak mengejar harga kain.
  4. Tukang servis kecil: kompor, keran, payung, dan sepeda. Jogja kota sepeda, dan sepeda butuh rantai, rem, serta roda yang selalu prima. Sayangnya banyak warga mengganti ketimbang menyervis, karena barang baru datang cepat dan modelnya berganti setiap tahun.
  5. Tukang loak dan pengrajin kampung. Mereka menjalankan mesin daur ulang paling nyata di kota ini: mengumpulkan, memilah, dan menjual ulang barang yang kita buang.

Ruang untuk mereka makin sempit

Persoalan ini tidak berhenti pada selera konsumen. Penataan ruang publik kerap menggeser jasa tukang kecil.

Pada 18 September 2023, UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Jogja sebagai warisan dunia, dan status itu membawa aturan baru. Kota melarang orang mengamen, mengemis, dan menawarkan jasa pijat di Malioboro. 

Pada Januari 2025, sebanyak 1.034 pedagang berpindah dari Teras Malioboro 2 ke Ketandan dan Beskalan. Lalu, mereka membongkar bangunan lama itu pada Februari 2025.

Belakangan, uji coba penutupan jalan sirip Malioboro sepanjang Agustus–September 2026 memukul pedagang kecil, kusir andong, dan tukang becak. Omzet mereka turun dan rute mereka memutar.

Saya tidak menuduh penataan di Jogja sebagai musuh. Kota memang perlu merawat warisan dunia. Namun, kita layak bertanya. Siapa yang duduk di meja perencanaan, dan siapa yang baru tahu keputusan setelah lapaknya hilang?

Menyimpan kursi untuk mereka

Jogja bangga pada budayanya. Tetapi, sekarang kita merawatnya dengan membeli barang baru yang murah dan cepat datang, sementara orang yang memperbaiki barang lama kita pinggirkan.

Saya tidak mengusulkan kita menolak kemajuan. Saya cuma menawarkan satu kebiasaan kecil. Setiap ada barang rusak, tanyakan dulu kepada tukang sebelum kita membuka aplikasi belanja. Bawa sepatu itu ke tukang sol. Jam ke tukang jam. Tas ke penjahit.

Sekaligus catat nama mereka. Teknologi melemahkan jaringan informal yang dahulu memasangkan barang rusak dengan tukang yang tepat, dan kita bisa menambalnya dengan menyebut, merekomendasikan, dan mempekerjakan mereka.

Kota yang berbudaya bukan sekadar kota yang menjual warisan dengan licin. Kota yang berbudaya juga menyediakan kursi untuk orang yang duduk seharian memperbaiki barang kita. Kalau kita tidak mulai sekarang, 5 tahun lagi kita mengenang tukang sol seperti kita mengenang Teras Malioboro 2 dengan kalimat “Dulu ada, lho.”

BACA JUGA 3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.