Suatu hari, seorang ibu Yahudi dan anak perempuannya yang berusia 8 tahun berjalan-jalan di tepi pantai. Sekonyong-konyong ombak yang sangat besar menyapu pantai dan menyeret gadis kecil itu ke laut.

“Ya Tuhan,” ratap sang ibu sambil menengadahkan wajah ke langit dan menggoyang-goyangkan kepalan tangannya.

“Dialah satu-satunya putriku. Aku tak punya anak lagi. Dialah cinta dan kebahagiaan dalam hidupku. Aku bersyukur setiap hari karena hidup bersamanya. Kembalikanlah dia kepadaku, aku akan pergi ke sinagoge setiap hari sepanjang hidupku ….”

Tiba-tiba, sebuah ombak yang amat besar kembali muncul. Ombak itu mendaratkan si gadis kecil di pantai. Ibunya mengangkat wajah ke langit dan berkata, “Ya Tuhan, mana topinya?”

Dalam banyak cerita humor, orang-orang Yahudi sering dilabeli dengan sifat kikir. Entah karena memang demikian adanya, atau karena dominasi mereka di bidang ekonomi yang memancing cemburu.

Si ibu berjanji akan rajin ke sinagoge jika Tuhan berkenan mengabulkan permintaannya. Ia juga tak segan mempertanyakan topi anaknya yang lupa dikembalikan oleh laut setelah sebuah permohonan besarnya dikabulkan Tuhan.

Orang Yahudi digambarkan tidak mengenal istilah merugi dalam kamus hidupnya. Mereka sangat mendetail dalam perhitungan, kepada diri sendiri dan lebih-lebih kepada orang lain. Tidak ketinggalan, sikap tak mau rugi juga mereka berlakukan kepada Tuhan. Mereka meletakkan Tuhan dalam hubungan transaksional.

Bahkan perintah Tuhan pun mereka terima setelah hasil transaksi terlihat menguntungkan.

Suatu ketika, Tuhan dikabarkan pergi ke Italia dan bertanya kepada masyarakat di sana, “Maukah kalian menerima perintah-perintah-Ku?”

“Contohnya apa?” tanya orang Italia.

“Kalian tidak boleh membunuh,” kata Tuhan.

“Maaf, kami tak sanggup.”

Baca juga:  Mengapa Kita Harus Membenci PKI?

Lalu Tuhan pergi ke Spanyol dan menanyakan hal sama. Lagi-lagi mereka meminta Tuhan memberikan contoh perintah. “Kalian tidak boleh mencuri,” kata Tuhan. Orang Spanyol pun menjawab, “Maaf, kami tak sanggup.”

Maka Tuhan pergi Prancis dan mengulang pertanyaannya. Warga Prancis juga meminta contoh perintah. Ketika Tuhan mengatakan, “Kalian tidak boleh berzina,” warga Prancis buru-buru menolak dan menyatakan ketidaksanggupan.

Tuhan selanjutnya pergi ke orang-orang Yahudi dan mengajukan pertanyaan yang sama. “Maukah kalian menerima perintah-perintah-Ku?”

Orang-orang Yahudi itu bertanya, “Berapa harganya?”

“Gratis,” kata Tuhan.

“Oke, kami ambil sepuluh.”

Dalam peristiwa Isra Mikraj, konon Nabi Muhammad sempat bolak-balik meminta dispensasi kepada Tuhan. Awalnya, beliau diberi kewajiban untuk menyampaikan kepada umat Islam tentang kewajiban salat 50 kali dalam sehari semalam. Beliau kemudian berupaya melakukan negosiasi hingga jumlahnya turun drastis menjadi 5 kali. Anda tahu siapa yang mengusulkan ide negosiasi itu? Ya, Nabi Musa yang Yahudi.

Tampakya kita punya utang begitu besar kepada Yahudi. Jadi, mengapa kita mesti begitu membencinya? Gal Gadot begitu memesona, humor-humor tentang mereka juga segar. Bahwa mereka terkenal kikir, cerewet, dan selalu hitung-hitungan kepada Tuhan, siapa yang tidak? Rasanya itu bukan monopoli mereka.

Sebagai umat Islam kita juga sering berlaku serupa. Kadang kita seperti orang Yahudi yang menang lotre. Ia mendapatkan hadiah terbesar yang jumlahnya mencapai 5.000 dolar. Seorang wartawan berhasil mewawancarainya, “Apa yang akan Anda lakukan dengan uang tersebut?” tanyanya. Tanpa berpikir panjang Yahudi itu menjawab dengan mantap, “Saya akan menghitungnya.”

Aneh juga, kita bisa rela mempercayakan nyawa kepada sopir bus Sumber Kencono tapi sering curiga kepada Tuhan sehingga kita menghitung-hitung sendiri pahala, mengalkulasinya lalu merasa mendapati jumlah yang lebih dari cukup untuk memborong berkapling-kapling tanah di surga.

Baca juga:  Tentang Surga dan Isinya, Termasuk Para Bidadari dan Pesta Seksnya

Kalkulasi, kata orang merupakan tanda tidak tulus. Sedikit-sedikit mesti dihitung imbalannya, sebentar-sebentar dikaitkan dengan pahala dan dosa, surga dan neraka. Kita jadi sulit memberikan kebahagiaan kepada orang lain tanpa melihat kepentingan diri sendiri.

Konsekuensi tragis lainnya kita jadi rabun dalam melihat gambaran yang lebih besar. Ketika membicarakan surga, misalnya, yang ditekankan adalah pesta seksnya. Padahal bisa masuk surga saja sudah merupakan kenikmatan yang luar biasa. Lagi pula, berhubungan seks dengan satu pasangan saja lelahnya bukan main. Apalagi berpesta segala. (Oh, iya, lupa … di surga mungkin tidak ada istilah lelah).

Membuat gambaran seksis seperti itu memang menarik. Dilayani seorang pelayan cantik di warung kopi sudah membuat seorang lupa diri padahal harus membayar mahal. Apalagi tujuh puluh bidadari molek dan cantik jelita, yang tidak saja siap membuatkan kopi tapi juga bersedia melakukan pesta seks kapan saja. Gratis. Siapa yang tak tergiur?

Begitu juga soal rezeki. Kita sering merengek agar dikaruniai rezeki berlimpah sambil membayangkan gundukan materi dan kekayaan. Lalu ketika semua harapan itu belum juga terkabul, kita mengeluh dan ngambek … meski kesehatan, umur panjang, istri yang setia, anak-anak yang lucu dan menggemaskan, sahabat-sahabat yang menyenangkan hadir dalam kehidupan kita.

Seperti si ibu Yahudi di atas, kita lebih mudah kecewa soal topi yang tak kembali ketimbang anak gadis yang hadir dalam pelukan.

Komentar
Add Friend
No more articles