MOJOK.CO Jika biaya periksa di rumah sakit bisa diakses calon pasien sebagaimana kita bisa membaca harga menu makanan di warung, setengah masalah hidup kita selesai.

Bahkan setelah saya mencicipi rasanya bekerja di Jakarta dengan gaji dua digit di depan nol, berobat ke dokter, periksa ke rumah sakit, maupun kontrol behel ke klinik masih terasa mengerikan.

Pada 2018 dan 2019, saya menjalani operasi kista di rumah sakit. Semuanya tanpa BPJS Kesehatan. Yang pertama di Jakarta. Saya sempat ke puskesmas, mengikuti prosedur BPJS Kesehatan. Saat itu saya sakit di minggu terakhir Desember. Sambil menahan sakit teramat di selangkangan selagi dibonceng ojek, saya memegang kuat-kuat surat rujukan puskesmas itu, berangkat menuju rumah sakit di Mampang. Perjuangan itu hanya untuk mendapat tahu dari resepsionis bahwa semua dokter kandungan sedang libur tahun baru.

Rasa sakit memaksa saya masuk IGD sebuah rumah sakit swasta di Melawai. Hari itu juga saya dioperasi. Selama dua hari kemudian saya menginap untuk pulihkan diri dari bius. Aneh, bius itu menghilangkan rasa sakit sayatan di antara dua paha saya, tapi tak menghilangkan kekhawatiran tentang tagihan yang terus bertambah seiring tetesan infus. Adik saya yang menunggui berkali-kali saya minta mengecek ke kasir rumah sakit. Hari ini tagihannya sudah berapa ya?

Pengalaman lebih kurang sama terulang ketika saya masuk IGD lagi, kali ini di Jogja, pada November 2019. Betapa traumatis kenangan tentang hari itu. Bahkan saya terseok-seok sendiri dari IGD ke front office bagian rawat inap untuk memutuskan sendiri mau memilih kamar harga berapa. Saya akhirnya memilih kelas III.

Baca juga:  Kalau Ngeyel dan Nggak Minum Antibiotik Sampai Habis, Terus Kenapa?

Ini bukan tulisan untuk menggugat kenapa sakit itu mahal. Saya memilih mulai dari yang lebih ringan. Tentang, kenapa sih rumah sakit, puskemas, klinik, praktik dokter, mereka jarang sekali menyatakan harga pelayanan, tindakan, dan obat di depan, sebelum pemeriksaan dilakukan?

Saya ingat-ingat: nyaris ke mana pun kita berbelanja, mencantumkan harga adalah barang wajib. Masuk minimarket, makan di restoran, memesan tiket ke biro perjalanan, menginap di hotel, sewa fotografer nikahan, sampai bayar tebusan penculik, semua harganya selalu clear di depan. Kalau tak tersedia daftar harga dalam bentuk tulisan, biasanya pun kita tak ragu bertanya. “Bu, punya kangkung?” misal kita bertanya begitu di pasar. Jika barangnya ada, selalu pertanyaan susulannya adalah, “Seikat berapa?”

Bahkan kepada tukang parkir dan tukang becak kita bertanya harga dulu sebelum mengulurkan uang. Baru berbeda kalau kita memanggil jasa yang jarang digunakan, seperti jasa bersih-bersih, penulis, tukang desain, dan lain-lain. Kebalikannya, tak tanya harga berakibat profesi-profesi ini kita perlakukan semena-mena. Asal kasih bayaran tanpa bertanya tarif dia berapa. “Ah, dikasih 50 ribu sudah banyak,” orang pelit kadang berkata demikian.

Lain di pelayanan kesehatan. Jangankan menawar seperti kepada penjual suvenir di Malioboro, bertanya harga saja kita sungkan. Akhirnya, ketika harus periksa ke dokter atau masuk rumah sakit, kita berserah semata kepada Tuhan Yang Maha Esa nanti akan dikasih tagihan berapa.

Enam tahun sebelum operasi pertama, ketika kista saya meradang sakit sekali, saya sudah tahu sedang mengidap kista. Saya tahu karena mencocokkan dengan bacaan di internet, bukan karena periksa ke dokter. Selama enam tahun itu saya cuma membaca dan berharap kista tersebut pelan-pelan hilang. Saya takut sekali ke dokter. Takut sama harganya.

Baca juga:  Jangan-Jangan Jokowi dan Fadli Zon Mau Bikin Antologi Puisi

Dokter dan ahli kesehatan sering sebal menghadapi pasien yang suka mendiagnosis diri sendiri, bermodal kata orang atau sumber internet. Barulah setelah parah, pasien datang ke klinik. Karena saya punya pengalaman, saya bisa beri tahu alasan perilaku yang sekilas absurd tersebut: kami bukannya sok tahu. Kami takut harus membayar mahal sekali. Lebih takut lagi jika sudah kadung ke dokter, uangnya kurang. Sedih, bukan?

Kista itu pernah dalam satu periode membuat saya, dalam kondisi tak berpenghasilan tetap, merasa amat resah. Akhirnya saya mencari informasi biaya periksa di berbagai rumah sakit di kota saya. Hasilnya, hampir tak ada website dan media sosial rumah sakit yang mau membuka harga selain harga ruang rawat inap mereka. Kita diharapkan kirim email atau DM untuk tahu rinciannya–yang entah akan dibalas kapan. Untung, ada banyak forum, catatan blog, maupun pos media sosial yang bersedia membagi informasi.

Saya coba ingat-ingat. Tampaknya, cuma pelayanan kesehatan yang tidak pernah minta consent atau persetujuan dari pasiennya soal harga yang akan dikenakan. Beda dengan di pasar yang harus sepakat harga dulu baru pembelian terjadi. Apakah karena rumah sakit merasa dirinya tidak sedang berbisnis? Sore-sore jangan bercanda, ah.

Kita tahu, pelayanan kesehatan non-BPJS itu mahal. Tapi setidaknya, jika rumah sakit, klinik, dan apa pun itu tadi mau membuka harga biaya periksa di muka sebagaimana sebuah restoran, pastilah itu sangat membantu. Jadi kita mengerti, oke, ini mahal, tapi mahalnya seberapa? Apakah saya mampu membayarnya? Setidaknya ada gambaran untuk mengira-kira.

Baca juga:  Romantisme Sepeda yang Selalu Beririsan dengan Kemiskinan

Karena kan aneh ketika tenaga kesehatan dan rumah sakit mengimbau, jangan mendiagnosis diri sendiri, tapi di sisi lain orang berpenghasilan rendah harus rela mengutang demi ada duit “jaga-jaga” ketika mau berobat.

Saya sendiri kini sudah lebih tangguh dan tak punya malu untuk selalu tanya harga di muka ketika periksa ke dokter atau rumah sakit. Memang, tak selalu ada jawabannya. Kadang oleh resepsionis cukup dibilang, “Biayanya tergantung tindakannya nanti.” (Hahaha.) Tempo hari ketika saya mempertimbangkan pasang ulang kawat gigi yang sudah dicopot, saya betah duduk lama di hadapan resepsionis untuk merinci detail perawatan yang perlu saya ambil beserta rincian harganya (menulis ini saya tak tahan tidak memakai bahasa Jawa: pokoke ngasi sak biaya administrasine, kabeh tak takokke).

Hasilnya, saya puas. Memasang ulang kawat gigi itu akan butuh ongkos Rp20-Rp25 juta. Akhirnya saya batal melakukannya.

Oh ya, tentu saja. Ke dukun lebih murah. Sudah lebih murah, harga pun dibuka di depan. Tapi ya masalahnya itu: jika janji kesembuhan tidak terwujud, dukun selalu saja punya alasan.

BACA JUGA Bayar Jutaan ke Orang Pintar Bisa, Giliran BPJS Malah Nunggak dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.