Selama LDM, saya di Jogja dan istri di Surabaya, saya sudah mencoba berbagai alat transportasi ketika berkunjung. Yang paling favorit, tentu saja, kereta api. Kalau yang paling brengsek dan bikin menyesal, adalah naik travel. Apalagi ketika ketemu sopir yang bikin emosi dan ada penumpang nggak tahu diri.
Saya setuju dengan tulisan Shofiatunnisa Azizah di rubrik Liputan Mojok. Dia bercerita soal pengalaman buruk beberapa orang ketika naik travel untuk mudik Lebaran. Ada banyak kisah yang saya rasa akan sangat related dengan banyak orang. Kalian baca sendiri saja lah, ya. Tulisannya bagus.
Saya sendiri pernah mengalami pengalaman yang bikin kapok. Perjalanan dari Jogja menuju Surabaya menjadi salah satu perjalanan yang penuh emosi. Tapi apa daya, kalau saya lampiaskan emosi ini, pasti masuk penjara. Mau nggak mau saya tahan meskipun jadi asal lambung.
BACA JUGA: 3 Hal yang Bikin Saya Nggak Nyaman Saat Naik Mobil Travel
Sopir travel nggak tahu jalan dan sulit membaca peta digital
Siang itu, sopir travel menghubungi kalau dia akan menjemput saya pukul 16:00 sore. Rumah saya ada di dekat Stadion Mandala Krida, Kota Jogja. Posisi rumah saya memang masuk gang, tapi mobil besar pun masih bisa masuk. Jadi, saya membagikan titik rumah kepada sopir lewat fasilitas lokasi di WhatsApp.
Pukul 16:10, sopir travel itu mengontak saya. Katanya, dia nggak bisa menemukan titik rumah saya. Katanya lagi, kalau masuk gang, mending saya yang jalan keluar ke jalan raya. Batin saya, kalau saya harus jalan keluar gang, ngapain pakai travel. Lagian, saya sudah menjelaskan kalau gang rumah saya itu besar dan mobil bisa masuk. Samping rumah saya juga bisa untuk putar balik.
Pukul 16:20, si sopir ngeyel tidak masuk masuk gang. Ketimbang terlalu lama, saya mengalah dan berjalan ke jalan raya. Saat itu, saya pikir dia sudah ada di depan gang. Ternyata, posisinya masih di Jalan Kaliurang atas. Dia baru menjemput penumpang lain di daerah Pakem. Sialan, pikir saya.
Setelah menghabiskan dua batang rokok Djarum Super, akhirnya travel itu datang juga. Saya dapat tempat duduk di baris kedua, dekat pintu. Penumpang lain yang duduk di depan nyeletuk pakai Bahasa Jawa. Kurang lebih begini: “Lha ternyata cuma di sini. Ini daerah yang gampang dicari.”
Ternyata, selama perjalanan menjemput saya, terjadi obrolan antara sopir bus dan penumpang depan. Intinya, si sopir ini nggak tahu jalan dan sulit membaca peta digital. Akhirnya, si penumpang depan yang membaca Google Maps ke rumah saya. Saat itu juga saya tahu kalau perjalanan ini bakal memakan emosi.
Dari Jogja membawa masalah
Perjalanan dari Jogja ke Surabaya itu, kalau via tol, bisa sangat cepat. Mungkin cuma empat jam saja. Namun, karena naik travel, maklum kalau perjalanan jadi lebih lama karena harus menjemput dan mengantar penumpang. Dari Jogja saja, saat itu, si sopir harus menjemput tiga penumpang: Pakem, Kota Jogja, dan Dongkelan (Bantul).
Saya berpikir, mungkin kami akan sampai Surabaya sekitar dini hari. Begitu masuk malam, mobil travel bisa agak ngebut. Namun, nyatanya, kami menghabiskan waktu terlalu lama untuk keluar dari Jogja. Dongkelan di Bantul itu sebenarnya dekat kalau dari Kota Jogja. Naik motor paling cuma 15 menit.
Nah, si sopir travel ini, butuh 30 menit lebih hanya untuk sampai Dongkelan. Dan ini belum menjemput si penumpang. Penumpang yang duduk di depan berusia sekitar 40 akhir. Sejak menjemput saya, dia beberapa kali menggerutu. Mungkin dia menyesal dapat sopir yang nggak tahu jalan dan sulit baca peta digital.
Maka, selama perjalanan dari Jogja menuju Surabaya, si penumpang di depan jadi kondektur dan navigator dadakan. Si sopir travel yang masih terlihat muda ini jadi serba nggak enak. Saya maklum, sih. Tapi, kalau memang nggak tahu jalan dan sulit baca peta digital, ngapain jadi sopir, batin saya.
Sopirnya tidur!
Singkat cerita, setelah menjemput beberapa penumpang lagi di Klaten dan Solo, kami sampai daerah Ngawi. Dua penumpang di belakang, seorang ibu dan anaknya, meminta berhenti sebentar. Katanya, si ibu mabuk darat. Kami berhenti di sebuah rumah makan yang biasa untuk mampir bus AKAP.
Penumpang yang lain maklum. Saya juga, karena bisa selonjoran sebentar sambil merokok.
Salah satu penumpang memberi Antimo untuk si ibu supaya bisa tidur dan nggak mabuk darat. Salah satu kebiasaan si ibu adalah minum obat pakai teh manis hangat. Makanya, berhenti di rumah makan adalah keputusan tepat. Tapi, bukankah minum obat pakai teh itu nggak baik, ya? Ya sudahlah, itu kehidupan si ibu juga.
Setelah sekitar 20 lebih menit mengaso, para penumpang siap melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Saya sempat makan juga di rumah makan yang terkenal akan soto ayam dan rawon-nya itu.
Semua penumpang sudah di dalam mobil travel, tapi si sopir nggak kunjung muncul. Setelah lima menit lebih, penumpang di depan menggerutu lagi dan kali ini dia turun dari mobil. Setelah mencari, ternyata si sopir itu tidur! Dia tidur di musala.
Secara gelagapan, dia menjelaskan kalau minum kopi itu itu sudah nggak ampuh untuk menahan kantuk. Maka, dia mencoba berbaring dan kebetulan bablas tidur. Mungkin, si bapak di depan ini sudah sangat marah dengan kelakuan si sopir. “Kalau bisa nyetir, aku gantiin kamu. Ayo segera berangkat!”
Aksi berbahaya sopir travel dari Ngawi sampai Surabaya
Dari Ngawi, si sopir travel ini masih menahan kantuk. Beberapa kali dia bergeser ke jalur kanan karena mengantuk. Padahal, jalur kanan adalah jalur cepat. Saya hanya bisa membatin, “Semoga selamat sampai Surabaya.”
Karena sadar keselamatan kami terancam, si bapak jadi lebih aktif berbicara. Dari awalnya dengan nada ketus kepada sopir travel, menjadi lebih lunak. Si bapak mungkin sadar nggak ada gunanya memarahi sopir amatiran ini. Jadi, selama perjalanan sampai Surabaya, mereka berdua malah jadi lebih akrab. Kadang obrolan mereka kayak bapak sedang memarahi anaknya.
Masalahnya adalah si bapak turun setelah Madiun, sebelum Surabaya. Jadi, dari perbatasan Surabaya sampai Wiyung daerah saya akan turun, si sopir ini sendirian di depan.
Brengsek betul
Maka jadi sudah, dia membawa mobil travel itu dengan penuh kehati-hatian. Namun, karena terlalu hati-hati, caranya menginjak rem dan gas malah jadi sangat kasar.
Si ibu yang mabuk darat sampai terbangun. Saya sudah meminta beliau untuk pindah depan saja. Siapa tahu pemandangan jalanan bisa mengurangi mabuk darat. Saya bilang gitu karena istri saya juga mabuk darat. Caranya menghilangkan mabuk darat adalah dengan pindah duduk depan.
Namun, belum sampai mobil travel berhenti, si ibu sudah mengeluarkan isi perutnya dengan sangat meriah. Penumpang travel di baris tiga dapat limpahan isi perut si ibu. Saya sendiri, untungnya nggak kena. Namun, aroma muntahan yang aduhai brengsek itu menguasai isi mobil travel.
Mobil berhenti secara serampangan dan semua penumpang bergegas keluar. Si ibu terlihat sangat memelas dan bersalah. Beberapa kali dia minta maaf karena sudah sangat merepotkan.
Anak si ibu gelagapan membersihkan muntahan ibunya. Beberapa penumpang ikut membantu. Saya sendiri menjaga jarak karena perut saya sangat sensitif dengan bau busuk.
Saat itu, saya memutuskan untuk naik taksi online saja. Jadi boros, tapi ya sudah, mau bagaimana lagi. Ketika membayar ongkos taksi online, saya hanya bisa membatin, “Brengsek!”
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mobil Travel Moda Transportasi Terbaik dan Selalu Memuaskan? Ah, Nggak Juga! Dan kisah menegangkan lainnya di rubrik POJOKAN.
