Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Terowongan Silaturahmi ala Jokowi: Bangunan Diwujudkan, Mentalnya Enggak

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
7 Februari 2020
A A
Jokowi terowongan silaturahmi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pak Jokowi, membangun Terowongan Silaturahmi bukan satu langkah maju ke arah melawan intoleransi. Mental takut akan perbedaan yang harus dipikirkan dan dikikis.

Saya nggak tahu apakah sikap Jokowi ini dipicu oleh giatnya investasi dan pembangunan. Saya juga nggak tahu apa sih gunanya sebuah terowongan yang menghubungkan dua tempat ibadah. Saya menarik napas dalam ketika membaca berita Jokowi sudah memberi lampu hijau untuk pembangunan sebuah bangunan bernama Terowongan Silaturahmi.

“Tadi ada usulan dibuat terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui sekalian. Ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi. Tidak kelihatan berseberangan tapi silaturahmi. Sehingga tidak nyebrang, sekarang pakai terowongan bawah, terowongan silaturahmi,” kata Jokowi dan dikutip oleh CNN.

Renovasi Masjid Istiqlal sudah mulai sejak 6 Mei 2019. Renovasi mencakup bagian dalam masjid. Misalnya, kamar mandi hingga fasilitas wudhu. Renovasi juga dilakukan untuk memasang 104 Closed Circuit Television (CCTV), penggantian karpet, termasuk mihrab yang ada di lantai utama. Perbaikan mihrab meliputi tata suara, cahaya, dan udara. Renovasi diharapkan selesai pada April, sebelum Ramadan.

Renovasi itu juga meliputi pembangunan terowongan yang menghubungkan Istiqlal dan Gereja Katedral. Terowongan yang disebut sebagai Terowongan Silaturahmi.

Saya, sih, meyakini kalau kata “silaturahmi” itu sangat mulia. Menurut KBBI, kata silaturahmi diartikan menjadi “tali persaudaraan”. Kata turunan silaturahmi adalah bersilaturahmi, artinya mengikat tali persahabatan (persaudaraan). Tali menjadi kata untuk menggambarkan kalau semua manusia sebetulnya terikat. Bersaudara.

Saya mengapresiasi simbol ini. Paling tidak, bagus untuk menjadi pengingat. Bagus juga untuk foto-foto dan bikin tagar di media sosial. Bangunan dikebut untuk terwujud, tetapi mentalnya tidak pernah digarap.

Memang, mungkin istilah “tidak digarap” terdengar terlalu keras. Namun, ketika Jokowi seperti bahagia betul dengan pembangunan Terowongan Silaturahmi, bagaimana nasib gereja-gereja di tempat lain yang keberadaannya ditolak? Bagaimana dengan gereja, yang bahkan sudah punya IMB, masih saja digugat dan sangat terasa intimidasi di prosesnya?

Mas @kaesangp maaf saya mention krn akun @jokowi tidak dipegang lsg oleh beliau.

Gereja yg di video ini berdiri sezaman Sumpah Pemuda,yakni 1928.

IMB baru sdh keluar 2 okt 2019,tp digugat via PTUN,skrg proses pengadilan berlgsg,TAPI MASIH DIINTIMIDASI?pic.twitter.com/1dJZDAVqqJ

— Takviri #CabutSKB2Menteri (@Takviri) February 6, 2020

Sekali lagi, sebuah simbol fisik memang baik adanya. Bahkan ketika diberi nama Terowongan Silaturahmi. Ketika bangunan dikebut untuk jadi, bagaimana dengan pembangunan mental manusia Indonesia, Pak Jokowi? Terutama ketika intoleransi semakin terasa perih di kulit.

Pak Jokowi mengangkat menteri yang dengan begitu lantang berkata kalau dirinya adalah “menteri untuk 5 agama”. Kalimat yang terdengar begitu heroik ketika beliau terpilih menjadi menteri. Namun, kebencian masih terasa. Keterasingan bagi minoritas masih terasa menguar di udara.

Pak Jokowi tidak membutuhkan bisikan para milenial pembantu untuk mencari kisah-kisah intoleransi sekarang ini. Lha wong internet saja sudah cukup untuk memberi gambaran. Mulai dari narasi larangan merayakan Natal, sebuah tempat belajar dan kitab suci agama Hindu di Banyuwangi dirusak, hingga umat Hindu tidak bisa beribadah di Prambanan sementara turis mudah sekali masuk ke dekat candi.

Jdi ingat kjadian waktu di candi prambanan juga. Sya dan kluarga tiap tahun biasa mngdakan upcra persembhyangan di candi siwa yg ad d candi prambanan. Tpi bbrpa thun terakhir ini, kami tdk diperbolehkan lgi untuk beribadah dsana, sdngan turis dri luar bebas2 sja masuk. https://t.co/boInFbYQb7

— Ni Komang Triwandari (@triwandaa) November 15, 2019

Berita-berita seperti itu tidak pernah ramai. Mungkin berita-berita seperti itu terdengar seperti dengungan nyamuk di telinga Pak Jokowi. Sementara itu, rancang bangun Terowongan Silaturahmi memang akan terlihat memanjakan mata dan bagus untuk pencitraan.

Iklan

Bapak Jokowi, 10 tahun yang lalu, berjanji untuk merevolusi mental rakyat Indonesia. Namun, nampaknya yang direvolusi cuma fokus saja ke pembangunan fisik dan terlihat bagus untuk citra. Semua atas nama investasi.

Pak Jokowi, investasi ke mental manusia juga perlu dilakukan. Semua sadar, kalau tidak ada konflik, hidup ini akan tenang dan enak. Menghilangkan mental takut dengan perbedaan memang sulit. Namun, kerja-kerja panjang itu harus terus dilakukan. Dan membangun Terowongan Silaturahmi bukan satu langkah maju ke arah sana.

BACA JUGA Mas Slamet, Kasus Beda Agama, dan Intoleransi di Jogja Itu Hal Biasa atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2020 oleh

Tags: HinduintoleransiistiqlalJoko Widodojokowikatedralprambananterowongan silaturahmiToleransi
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Liburan bareng keluarga di Candi Prambanan, Yogyakarta. MOJOK.CO
Eksplor

Liburan Sekolah Bareng Keluarga di Candi Prambanan Terasa Beda Sekaligus Lega, Banyak Kegiatan Menarik yang Nggak Bikin Dompet Boncos

1 Juli 2026
Sunflower Angel di Candi Prambanan saat pagi. MOJOK.CO
Hiburan

Simbol Perjalanan Cinta Sepasang Kekasih asal Jakarta-Jogja dalam Karya Seni “Sunflower Angel” di Candi Prambanan

11 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.