Supra X 125 tidak selalu menjadi motor tercepat di jalan. Namun, motor Honda satu ini punya kemampuan yang lebih sulit. Ia membuat pemiliknya berangkat kerja setiap hari tanpa terus-menerus mengunjungi bengkel. Di situlah letak kehebatan Supra, sekaligus sumber ledekannya.
Kalau ada lomba motor yang paling sering orang lihat di Indonesia, Supra X 125 mungkin tidak perlu mengikuti babak penyisihan. Motor Honda ini sudah menunggu di garis finis sambil membawa galon, kardus, tas belanja, dan mungkin harapan keluarga.
Orang sering menyebut motor ini sebagai “motor bapak-bapak”, “motor tukang galon”, atau “motor kurir”. Sebagian orang bahkan mengejek bentuknya yang sederhana, tarikannya yang kadang lemot, serta bodinya yang kadang bergetar seperti sedang menyimpan rahasia negara.
Namun, sebelum ikut mencaci, mari kita lihat datanya.
Supra X 125 tidak besar karena kebetulan
Honda memperkenalkan Supra pada 1997 dengan mesin 100cc. Pada 2005, Honda mengembangkan keluarga itu menjadi Supra X 125.
DetikOto mencatat, selama 17 tahun, keluarga Supra telah menemani sekitar 14 juta masyarakat Indonesia. Pada Januari 2014, Supra X 125 dan Supra X 125 Helm-In mencatat penjualan gabungan 35.589 unit dan menguasai 65,3 persen pasar motor bebek kelas atas.
Angka itu tidak otomatis membuktikan bahwa Supra selalu paling nyaman, terkeren, atau si paling kencang. Namun, angka itu menunjukkan satu hal. Jutaan orang menganggap Supra cukup masuk akal untuk menemani hidup mereka.
Kompas mencatat Supra X 125 CW FI sebagai motor bebek paling laris pada Januari hingga November 2017 dengan penjualan 98.105 unit. Motor Honda satu ini mengalahkan Revo Fit FI yang mencatat 86.689 unit dan Yamaha MX King yang membukukan 56.849 unit.
Jadi, ketika seseorang menyebut Supra sebagai “motor sejuta umat”, ia sebenarnya sedang menyampaikan data dalam bentuk ledekan. Hanya, orang Indonesia memang punya kebiasaan mengubah prestasi menjadi bahan bercanda.
Kita melihat motor yang laku keras, lalu berkata, “Ah, motor pasaran.” Kita melihat motor yang bertahan lama, lalu berkata, “Ah, motor bapak-bapak.”
Supra X 125 menjual ketenangan, bukan adrenalin
Supra X 125 FI versi sekarang membawa mesin 124,89cc, sistem injeksi PGM-FI, transmisi empat percepatan rotary, tenaga 10,1 PS, dan torsi 9,30 Nm. AHM juga mencantumkan utility box 7 liter, power charger, pengait barang, auto secure key shutter, serta lampu belakang LED pada halaman produknya.
Di atas kertas, spesifikasi itu tidak membuat anak muda langsung menutup poster motor sport di kamarnya. Namun, spesifikasi itu cukup untuk mengantar seseorang ke kantor, pasar, sekolah, sawah, bengkel, atau warung kopi tanpa drama yang berlebihan.
Supra juga menawarkan konsumsi BBM yang masuk akal. Tempo dan detikOto kompak mengutip klaim Honda yang mencatat konsumsi 57,2 kilometer per liter dengan metode ECE R40 Euro 3 dan 61,8 kilometer per liter dengan standar Euro 2.
DetikOto juga pernah mencatat hasil 83,66 kilometer per liter dalam sebuah perjalanan touring Supra Helm-In. Angka itu tentu tidak bisa kita pakai sebagai patokan pemakaian harian karena penguji menggunakan rute, beban, dan gaya berkendara tertentu.
Namun, angka tersebut tetap memperlihatkan watak Supra X 125. Motor Honda ini lebih suka menghemat daripada pamer.
Rudi Kurniawan dari Rudi Motor, Kelapa Gading, mengatakan kepada GridOto bahwa Supra X 125 FI tidak rewel jika pemilik rajin membersihkan throttle body dan merawat rantai. Dia juga menyebut harga suku cadangnya cukup terjangkau.
Bagasi besar, dosa besar di mata tongkrongan
Honda pernah menawarkan Supra X 125 Helm-In dengan bagasi 19,5 liter. DetikOto mencatat Honda merancang model itu sebagai motor bebek dengan bagasi besar yang mampu mendukung aktivitas harian. Masalahnya, fungsi sering merusak gengsi.
Bagasi besar membuat motor lebih berguna, tetapi juga membuat bentuknya terlihat lebih bongsor. Motor itu tampak siap membawa jas hujan, sepatu, berkas kantor, dan bekal makan siang. Ia tidak tampak siap membawa pemiliknya ke sirkuit. Kadang hal kayak gini bisa jadi ledekan. Ada aja pokoknya.
Orang lalu menghubungkan bentuk tersebut dengan profesi. Kalau motor membawa galon, pemiliknya tukang galon. Kalau motor membawa kardus, pemiliknya kurir. Kalau motor Honda memiliki pengendara berusia matang, orang langsung menyebutnya Supra Bapak.
Merdeka mencatat sebutan “Supra Bapak” karena banyak orang mengasosiasikan Supra X 125 dengan pengguna yang lebih dewasa. Media itu juga menunjukkan bahwa modifikator bisa mengubah tampilan Supra menjadi lebih sporty.
Mojok bahkan memuat pengalaman seorang pengguna yang menerima ejekan sebagai tukang galon, kurir, dan orang yang baru pulang mencari rumput. Pengalaman itu tentu tidak mewakili survei nasional, tetapi menggambarkan cara sebagian orang memberi stigma kepada pemilik Supra.
Padahal, membawa galon bukan penghinaan. Galon berisi air. Air menjaga manusia tetap hidup. Kalau sebuah motor mampu membantu seseorang mengantar air, motor itu sedang mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih berguna daripada sekadar terlihat keren di parkiran kafe.
“Supra loyo” bukan sepenuhnya fitnah
Sekarang, mari kita membahas kelemahan Supra X 125 tanpa membela secara membabi buta. Oto.com mencatat Supra X 125 terasa berat ketika menghadapi tanjakan. Media itu menduga ukuran gir yang kecil mempengaruhi karakter tersebut.
Rudi Kurniawan juga menyampaikan hal serupa kepada GridOto. Dia mengatakan gir Supra tergolong kecil sehingga motor terasa berat ketika melewati tanjakan. Dia bahkan menawarkan penggantian gir belakang sebagai salah satu cara untuk meringankan tarikan.
Karena itu, ledekan “Supra loyo”, “raja jalan datar”, atau “ngempos di tanjakan” tidak sepenuhnya muncul dari ruang kosong. Supra memang mengutamakan efisiensi dan penggunaan harian, bukan hentakan tenaga di putaran bawah.
Namun, pemilik juga perlu membedakan karakter bawaan dengan kerusakan. DetikOto menyebut filter udara kotor, kompresi lemah, dan kampas kopling aus sebagai beberapa penyebab tarikan Supra X 125 menjadi loyo.
Jadi, ketika Supra tidak kuat menanjak, pemilik tidak perlu langsung menyalahkan pabrik, konstelasi bintang, atau mantan. Periksa dulu filter udara, kopling, kompresi, rantai, dan kondisi gir.
Batok getar dan jok keras sering menjadi paket komedi tambahan untuk motor Honda satu ini
Supra X 125 generasi lama memiliki kelemahan lain. Misalnya, batok lampu bergetar ketika material plastik menua, sambungan panel mengendur, atau dudukan batok mengalami kerusakan.
Bodi bergetar sering muncul pada motor Honda satu ini yang sudah berumur. Abdul, anggota komunitas SUPRA125HOLIC, bahkan menyarankan penggunaan baut dengan ulir yang lebih kasar untuk membantu mengurangi getaran bodi.
Dari sini lahir julukan “Supra batok getar”. Orang lalu memperluasnya menjadi “motor jangkrik” atau “motor yang suaranya lebih ramai daripada pengendaranya”.
Kadang, jok motor ini juga terasa keras dengan suspensi depan yang kurang lembut. Misalnya, busa jok Supra X 125 FI terasa keras, kadang suspensi depan juga agak keras.
Tetapi, Supra juga menyimpan paradoks. Suspensi yang cukup lembut dapat menyerap jalan rusak, sedangkan karakter lembut itu dapat membuat buritan sedikit bergoyang ketika pengendara menikung cepat.
Motor terbaik tidak harus menjadi motor paling keren
Supra X 125 layak masuk daftar motor Honda varian bebek terbaik Indonesia bukan karena unggul dalam semua aspek. Ia tidak menawarkan tarikan paling galak. Tidak juga memakai desain paling futuristis.
Supra unggul karena memahami kebutuhan mayoritas pengguna. Yang irit, sederhana, praktis, cukup lincah, dan sanggup bekerja setiap hari dengan perawatan paling mudah yang bisa dipahami orang paling awam.
Orang boleh mengejeknya sebagai motor bapak-bapak, motor tukang galon, atau motor sejuta umat. Namun, setiap pagi, Supra X 125 tetap mengantar banyak orang mencari nafkah.
Pada akhirnya, motor keren membawa kita ke tempat yang terlihat keren. Motor yang baik membawa kita ke tempat yang memang harus kita datangi.
Dan Supra X 125, dengan seluruh getaran, kelembutan, dan ledekan yang mengikutinya, sudah melakukan tugas itu selama puluhan tahun secara paripurna.
BACA JUGA Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
