Entah sejak kapan antrean di gudeg Jogja langganan saya semakin panjang. Melihat situasi ini, kadang saya jadi agak besar kepala. Pasalnya, sebelum saya tulis profilnya secara singkat di dalam sebuah artikel, antreanya nggak sepanjang itu. Apakah ia ramai karena saya?
Sudah pasti jawabannya: mana mungkin. Toh saya hanya pernah menulis semacam petunjuk lokasi gudeg Jogja andalan saya itu. Sudah begitu, saya tidak mendetailkan informasi. Cuma ia ada di Jalan Pandanaran, Sleman. Ia berdekatan SPBU dan Kopi Pandan Arang. Yah, di sana, memang cuma ada satu tempat makan gudeg, sih.
Saya percaya diri untuk menegaskan kalau gudeg Jogja andalan saya ramai karena dua hal paten. Pertama, harganya sangat terjangkau. Kedua, rasanya agak melenceng dari pakem gudeg Jogja. Yang “celakanya”, justru semakin saya cintai, yaitu perpaduan rasa pedas, gurih, nuansa smoky, dan manisnya minimal.
Jadi, melihat antrean di sana semakin hari semakin panjang, hati saya bungah. Bahagia karena artinya semakin banyak orang akan tahu bahwa gudeg Jogja itu nggak dominan manis. Maklum, dominasi rasa manis ini menjadi salah satu aspek yang membuat kuliner khas ini sukses mendapatkan banyak haters.
Namun, di suatu pagi, ketika ikut mengantre, ada sebuah kekhawatiran menyeruak di dalam hati saya. Ternyata, harga gudeg Jogja andalan saya sudah baik. Celakanya, naiknya agak signifikan jika saya membandingkan dengan harganya di beberapa bulan yang lalu.
BACA JUGA: Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan
Gudeg Jogja itu (masih banyak yang) murah
Sebagai warga lokal, saya mendapatkan banyak informasi terkait gudeg murah dari ibu saya. Biasanya, titiknya ada di sekitar daerah rumah saya yang di Kota Jogja. Nah, untuk gudeg Jogja di Pandanaran ini, saya menemukan sendiri, di suatu pagi enam bulan yang lalu, dalam perjalanan menuju kantor Mojok.
Pagi itu, sekali lagi, saya diyakinkan oleh semesta bahwa masih banyak gudeg Jogja murah. Saya adalah pengganyang gudeg yang minimalis. Isian yang saya suka hanya gudeg+tahu+krecek. Sudah, murah, dan itu saja. Pagi itu, saya hanya perlu membayar Rp8 ribu.
Saya agak shock ketika rasa gudeg Jogja yang kelak jadi andalan ini melenceng dari pakem. Dan saya suka. Pedasnya menggigit tapi masih sopan. Gurihnya pas, melengkapi manis yang khas. Dua hari kemudian, saya menambah sebutir telur bacem. Harganya jadi Rp12 ribu.
Harga Rp12 ribu untuk seporsi gudeg Jogja yang seimbang antara protein dan karbohidrat tentu tidak mahal. Menurut saya, harga Rp12 ribu seharusnya menjadi standar untuk isian gudeg+tahu+krecek+telur bacem.
Masalahnya begini. Banyak warung gudeg Jogja, baik di kaki lima maupun ternama, mematok harga yang bikin kecewa. Iya, di kaki lima pun ada saja yang mengecewakan dari sisi harga. Isian gudeg andalan saya tadi bisa naik sampai Rp15 atau 18 ribu. Belum lagi kalau ketemu pedagang yang suka upselling. Saya pernah kena pedagang beginian.
Ini saya belum ngomongin yang sudah ternama. Rata-rata, paling murah itu Rp18 ribu. Dan kebanyakan, ada di Rp25 ribu untuk isian minimalis. Maka, dari fenomena tersebut, lahir anggapan gudeg Jogja itu mahal.
Kenaikan harga yang bikin saya khawatir
Saya suka telur. Semua olahan, rata-rata saya suka. Apalagi telur bacem di gudeg Jogja. Maka, ketika saya mendapati sebuah warung yang murah, saya menambah telur menjadi dua. Jadi, isinya jadi gudeg+telur+krecek+telur 2 butir. Harganya? Naik menjadi Rp15 ribu. Untuk isian dua telur? Masih terjangkau untuk saya.
Nah, selama beberapa bulan, isian ini menjadi andalan. Dalam seminggu, saya bisa mampir sampai tiga kali. Sesuka itu saya sama gudeg.
Lalu, tiga hari yang lalu, saya terkejut. Harga isian yang jadi andalan saya naik jadi Rp18 ribu. Kenaikan dari Rp15 ribu ke Rp18 ribu entah kenapa, ternyata, bisa bikin saya tertegun selama sedetik. Saya bahkan mengulangi pertanyaan saya ke ibunya: “Berapa, Bu?” untuk kembali mendapat jawaban “Rp18 ribu, Mas.”
Untung saja saya masih bisa menguasai diri untuk tidak mempertanyakan soal kenaikan harga gudeg Jogja andalan ini. Selain tidak elok karena antrean panjang, saya juga nggak mau dianggap pelit. Duit Rp18 ribu aja jadi perkara. Mungkin akan ada yang berpikir seperti itu.
Rasa khawatir yang muncul adalah lebih banyak orang percaya kalau gudeg Jogja itu mahal. Meski memang, pesanan saya agak absurd, yaitu pakai dua telur. Saya juga gerah dengan berbagai omongan orang, yang sukanya memukul rata, kalau gudeg itu mahal. Dan itu adalah golongan orang tolol, pemalas untuk riset, pikirannya sempit.
BACA JUGA: Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega
Memaklumi kenaikan harga gudeg Jogja
Selama beberapa menit menuju kantor saya berpikir. Dan akhirnya bisa memahami kenaikan harga gudeg Jogja andalan saya. Pertama, kondisi ekonomi Indonesia memang menyedihkan. Harga bahan baku naik secara serentak. Kebetulan keluarga istri saya petai cabai. Jadi saya tahu kegelisahan yang terjadi.
Kedua, kejahatan Israel dan Amerika di Timur Tengah mengerek harga bahan. Selain minyak, ada juga kenaikan harga plastik. Di Indonesia ini, pedagang kaki lima mana yang nggak pakai plastik sebagai wadah take away? Pedagang gudeg Jogja juga pasti terdampak. Sialan betul dua negara laknat itu.
Begitulah. Saya bisa memahami. Namun, kekhawatiran itu belum juga padam. Sampai akhirnya saya menulis artikel ini sebagai pengingat kepada semua orang tolol yang memukul rata kalau semua gudeg Jogja itu mahal.
Begitulah dunia tolol ini bekerja. Penuh orang tolol dan nggak tahu terima kasih. Slipknot memang benar, bahwa people equal shit!
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
