Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Selamat Ulang Tahun Jakarta, Lain Kali Kami Tidak Bakal Membencimu

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
22 Juni 2019
A A
heru budi hartono pj gubernur jakarta mojok.co

Ilustrasi Kota Jakarta (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jakarta itu ibarat pacar yang cuek, yang kalau dikirimi pesan hanya akan menjawab, “Ya,” alih-alih, “Ya, Sayang.” Duh, berlaku di hari ulang tahun Jakarta juga nggak, nih???

Pertama kali saya tidak menyukai Jakarta adalah ketika kakak saya diterima bekerja di sana. Gara-gara pekerjaan di Jakarta, kakak jadi tidak pulang setiap minggu ke rumah dan hanya sesekali membalas chat karena harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam-malam sekali.

Lebih menyebalkannya lagi, waktu saya nekat meneleponnya ketika ia sedang dalam perjalanan ke kantor naik angkot, seseorang malah merampas hape milik kakak saya, membuat saya kehilangan akses komunikasi dengannya selama beberapa waktu.

Duh, Jakarta. Kenapa harus sekeras itu, sih? Apa di hari ulang tahun Jakarta sekarang segalanya masih sama menyebalkannya?

Orang bilang, Jakarta itu ibarat pacar yang cuek, yang kalau dikirimi pesan WhatsApp hanya akan menjawab, “Ya,” alih-alih, “Ya, Sayang.” Ada juga yang menggambarkannya sebagai tempat paling jahat di dunia, sampai-sampai kamu tidak boleh percaya pada satu orang pun di sana dan harus memeluk tasmu erat-erat kayak balon hijau waktu naik metromini.

Saya bukan warga ibu kota, tapi akhirnya merasakan Jakarta sebagai orang dewasa setelah kakak saya punya tempat tinggal di sana. Secara tidak langsung, perkenalan saya dengan Jakarta pun dimulai, jauh sebelum ulang tahun Jakarta tahun ini digelar kembali.

*JENG JENG JENG*

Saya ingat betul, kereta api Purwojaya melewati Jatinegara sebelum Gambir. Di daerah pinggiran rel sekitar Jatinegara inilah saya pertama kali tahu bahwa lokalisasi itu nyata adanya.

Wow. Bukan kesan yang menyenangkan, memang.

Ada antrean panjang di jalan raya: macet. Taksi yang saya tumpangi harus tertahan cukup lama bahkan sebelum kami sampai ke daerah Tebet. Ah, batin saya, kalau ini di Jogja, saya rasa saya sudah berhasil menembus kemacetan sejak tadi dengan motor!

Ngomong-ngomong soal motor, saya jadi ingat: di Jakarta, kadang saya bepergian naik ojek, hanya untuk kemudian menyesalinya. Soalnya, pengendara ojek di sana seperti menelan 10 baterai setiap hari. Ngebut!

Kakak saya menjadi pemuja angkutan umum setelah tinggal di Jakarta. Ia hanya sesekali naik ojek ke stasiun—biasanya naik angkot. Padahal, angkotnya juga memusingkan; supirnya ugal-ugalan dan sempat menyerempet motor. Saya kira segalanya akan baik-baik saja, tapi ternyata saya salah: pengendara motor tadi turun dan langsung merusak kaca spion di angkot, lalu pergi.

[!!!!!!!!11!!!!!1!!!!!]

Kami sampai di stasiun tepat waktu. KRL yang kami naiki datang dan kami bergegas masuk ke dalamnya. Sialan, ini penuh sekali, rutuk saya. Di Jogja, kalau saya ingin pergi ke Solo naik Prameks, biasanya saya dan penumpang lain bisa duduk di lantai kereta kalau kecapekan.

Lah, di KRL? Uh, boro-boro!

Perjalanan berdesakan di KRL selesai, tapi perjuangannya belum. Kakak akan mengajak saya menyeberang lewat jembatan penyeberangan yang tidak saya temui di kota asal kami. Repot sekali sebenarnya, kalau untuk menyeberang saja harus naik tangga. Apalagi, anehnya, ada motor naik ke jembatan penyeberangan.

Saya ulangi lagi: MOTOR NAIK JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG!!!!!11!!!!1!!!

Hadeeeh, saya jadi penasaran: apakah orang itu masih melakukan hal yang sama bahkan di hari ulang tahun Jakarta begini, ya?

Iklan

Saya juga terdorong ingin bertanya kenapa ada orang-orang yang otaknya sesengklek itu pada kakak saya, tapi dia sudah berjalan menuju terminal Trans Jakarta. Jalannya agak panjang dan sungguh melelahkan.

“Tunggu di sini,” kata kakak saya, begitu kami masuk ke area tunggu Trans Jakarta. Tak berapa lama, busnya datang. Sayangnya, kami harus lebih dulu melihat motor dan mobil yang berjalan seenaknya di jalur busway.

“Memangnya boleh?” tanya saya. Kakak cuma menoleh dan menjawab, “Ya menurut lo???”

Hmm, kalau mengingat itu, saya harap di hari ulang tahun Jakarta begini, sih, seluruh pengendaranya berhenti bersikap sebodoh itu.

Bus trans kami datang dan untungnya ada kursi yang kosong. Saya duduk dengan segera, menggamit lengan Kakak karena takut terpisah lagi seperti di KRL. Tak lama, seorang ibu paruh baya datang dan berdiri di dekat kami.

Kakak saya berdiri, lalu berkata, “Silakan, Bu, kursi saya dipakai saja,” tanpa repot-repot memberi tahu saya.

Kata Kakak saat itu, kami masih harus jalan kaki sedikit dan naik Kopaja. Saya mengeluh kelelahan, tapi Kakak cuma tertawa dan bilang, “Sabar sebentar.”

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya dan mungkin tulisan ini akan jadi sedikit sentimental, tapi saat itu saya ingin memeluk Kakak erat-erat. Dan mungkin orang di sebelah kami. Atau orang di sebelahnya lagi. Oh, dan jangan lupakan ibu-ibu yang tadi datang.

Semua orang yang kami temui di Jakarta adalah pejuang. Mereka bergerak cepat sekali seakan-akan bakal kehabisan waktu kalau tidak bergegas. Kakak saya juga begitu—kalau dia memperlambat jalannya sedikit saja, mungkin dia akan terlambat kerja atau terlambat pulang ke rumah.

Saya yang cuma main ke Jakarta mungkin bisa seenaknya mengeluh dan membenci Jakarta. Lah wong untuk nonton JKT48 di FX Sudirman saja perjalanannya udah kayak tiga tahun lamanya! Tapi sesungguhnya, ada banyak hal yang tidak saya ketahui—yang kakak saya sebut sebagai alasan kenapa dia bertahan cukup lama di kota ini.

Jakarta sama warasnya dengan kota lain. Kamu bisa menemukan mi ayam paling enak di dunia kalau berjalan-jalan di sekitar Pasar Baru, atau menemukan suvenir yang unik dan menarik di Pasar Mayestik. Nasi lele di Jakarta harganya tiga belas ribu rupiah waktu satu porsi yang sama cuma seharga enam ribu rupiah di Jogja, tapi nasi bebek di pinggir Jalan Pahlawan Revolusi adalah harta karun yang menyenangkan.

Berjalan kaki di kawasan pedestrian sekitar Sudirman dan Rasuna Said juga membuatmu menikmati Jakarta. Kalau bosan, coba-coba saja berkeliling di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) dan melihat bunga matahari.

Yah, pada akhirnya, Jakarta adalah kota yang menunggu penilaianmu sendiri, tergantung bagaimana kamu menghadapinya. Kakak saya bertahan sampai hari ini dan dia bahagia-bahagia saja di sana.

Selamat ulang tahun Jakarta. Tolong jaga kakak saya dan banyak orang lain yang berjuang di bawah lenganmu, ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2019 oleh

Tags: KRLmacetPasar BaruPasar MayestikTebetTrans Jakartaulang tahun jakarta
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Usul Menteri PPPA soal pindah gerbong perempuan di KRL hanya solusi instan, tak menyentuh akar persoalan MOJOK.CO

Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan

29 April 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.