Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

PNS Dilarang Ikut Reuni 212, Lah Kok Gubernur Anies Baswedan Hadir Pakai Seragam Dinas?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
2 Desember 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – PNS dilarang mengikuti aksi Reuni 212 karena hari kerja. Di sisi lain Gubernur Anies Baswedan hadir mengenakan baju kebesaran PNS.

Sebelum Reuni 212 episode ketiga berlangsung, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) sudah mengeluarkan seruan melarang PNS untuk ikut Reuni 212.

Salah satu sebabnya, menurut pihak Kementerian PANRB, Reuni 212 kali ini diselenggarakan pada hari kerja.

“Kan 212 itu di hari kerja, hari Senin. Kalau misal PNS kemudian tidak masuk (kerja) untuk itu, itu kan PKK-nya berhak menentukan apakah itu pelanggaran disipilin atau tidak,” kata Mudzakir, Sekretaris Deputi SDM Kementerian PANRB.

Hal ini sempat dikritik oleh Haikal Hassan mengenai ancaman PNS akan kena sanksi kalau ikut Reuni 212.

“Begini, maka saya merasa pemerintah kita ini selalu mengada-ada. Malah pemerintah mengatakan statement-statement yang justru bikin gaduh masyarakat yang udah kondusif seperti ini,” kata Haikal seperti diberitakan CNN Indonesia.

Di tengah gonjang-ganjing soal PNS yang dilarang ikut Reuni 212, mendadak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, terlihat hadir dengan pakaian dinas PNS. Tentu saja pemandangan ini jadi pertanyaan banyak pihak.

Jika seluruh PNS dilarang—termasuk juga yang di Jakarta—ikut Reuni 212, ini kenapa pemimpin daerah mereka boleh ikut? Bahkan termasuk menjadi pihak yang memberi sambutan.

Perlu diketahui sebelumnya, meski menjadi pemimpin dari PNS di daerahnya, status gubernur atau kepala daerah bukanlah sebagai PNS.

Dalam Pasal 122 UU ASN disebutkan bahwa gubernur, walikota, dan bupati merupakan pejabat negara. Dalam kewenangannya, jabatan ini juga merupakan jabatan politik.

Oleh karena itu, wajar kalau dalam Pasal 123 ayat (3) UU ASN, seorang PNS yang akan mencalonkan diri menjadi kepala daerah (gubernur, walikota, atau bupati) harus mengundurkan diri dulu dari status PNS-nya.

Aturan ini semakin menegaskan kalau posisi Anies Baswedan memang bukan PNS. Dari pasal-pasal di UU ASN itu pula menunjukkan kalau Anies Baswedan tidak terikat dengan imbauan dari Kementerian PANRB agar tidak datang di Reuni 212.

Soal kenapa yang dipakai baju dinas, tentu saja ini persoalan efisiensi saja. Sebab, rencananya kan acara reuni ini akan berakhir sekitar pukul 9, jadi selesai ikut memberi sambutan, beliau bisa langsung berangkat kantor.

Di sisi lain, jam kantor PNS Jakarta dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 14.00. Jika mengacu pada jam kantor tersebut, maka jelas posisi Anies Baswedan bakal terhitung telat masuk kantor.

Iklan

Eit, tapi jangan salah. Karena bukan PNS, sudah barang tentu Gubernur DKI Jakarta juga tak terikat dengan beberapa aturan teknis PNS. Seperti soal jam masuk kantor itu tadi. Apalagi pada 2017 silam, Anies sempat menyebut kalau gubernur itu jam kerjanya sebenarnya malah 24 jam.

Jadi mau masuk jam berapa pun ya Anies Baswedan tidak bisa dianggap mangkir dari kerjaan. Lha wong menemui massa aksi Reuni 212 kan juga bisa saja masuk kategori “kerjaan” toh?

Yah, anggap saja kerjaan menemui konstituen. Eh.

BACA JUGA Seni Mengkritik Anies Baswedan ala Komedian Ernest Prakasa atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2021 oleh

Tags: 212Anies BaswedanPNSreuni 212
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

PNS tetap WFO saat WFH
Sehari-hari

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Urban

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.