Pagi di Jogja, pada titik tertentu, bisa menjadi medan pertarungan bayang-bayang. Pertarungan skena bau bawang “pasar tradisional” versus skena “americano”. Dan di pasar, pertarungan itu termanifestasikan.
Mengamati fenomena itu, rasanya menarik sekali. Ketika sebuah pasar di Jogja berbagi ruang untuk dua skena yang menjadi penanda zaman.
Bagi beberapa orang, kegiatan berbelanja di pasar tradisional Jogja pada pagi hari sekarang menuntut kesiapan mental yang unik. Dulu, warga cukup memakai celana pendek lusuh, kaos oblong partai, serta sandal jepit saat hendak membeli cabai atau tempe.
Sekarang, pemandangan di tangga Pasar Kranggan, Prawirotaman, hingga lorong Ngasem menyajikan realita visual yang jauh berbeda.
Ketika saya dan istri sedang “mudik” ke Baciro, Kota Jogja, kami sering menghabiskan pagi untuk berkeliling pasar. Sebuah pemandangan lucu pernah menyapa mata kami.
Ketika saya menenteng tas belanjaan berisi brokoli dan wortel, dua sayuran kesukaan anak saya, kami berpapasan dengan rombongan anak muda menaiki tangga menuju lantai atas. Mereka mengenakan celana kargo gombrong, sepatu New Balance, kacamata bingkai tebal, serta menyemprotkan parfum vanila yang wanginya menabrak aroma terasi basah, untuk berburu americano yang lagi kalcer itu.
Wajah baru pasar di Jogja sebagai wajah arena baru “pertarungan skena”
Fenomena ini memperlihatkan wajah baru pasar tradisional di Kota Pelajar yang sedang mengalami metamorfosis budaya. Anak muda Jogja dan wisatawan luar kota kini tidak lagi melulu mengincar mal atau kafe sebagai tempat nongkrong.
Mereka, generasi americano ini, justru menyerbu pasar rakyat demi memburu sarapan kekinian, kopi susu, hingga konten estetik untuk media sosial. Kalau bosan, bisa beli jajanan lawas yang selalu seksi menjadi konten media sosial.
Pasar tradisional kini memanggul dua identitas sekaligus dalam satu atap bangunan. Lantai dasar (atau satu sisi) tetap menjaga “fungsi purba” sebagai ruang transaksi sembako ibu rumah tangga. Sementara itu, lantai atas (atau sisi yang lain), menjelma menjadi panggung skena anak muda.
Skena americano jualan estetika Jogja
Kita bisa menengok denyut skena lantai dua Pasar Kranggan yang berdiri persis di sebelah barat Tugu Pal Putih. Laporan Detik pada Februari 2025 dan September 2025 mencatat 11 gerai kuliner kekinian menghuni lantai dua.
Mereka adalah Kedai Terang Bintang, TFP Kopi Warung, Mie Kita Orang, Depot Sintaka, Bake Me To The Moon, Steak Up, Daruma Curry, serta Tacolala. Para pemilik gerai muda ini menyulap kios pasar menjadi kedai bergaya retro, kopitiam pecinan, hingga bistro ala Eropa.
Catatan Kompas pada Desember 2024 dan Februari 2026 juga mengulas bagaimana Kedai Terang Bintang di Pasar Kranggan menawarkan kopi butter, es kopi yezi, roti srikaya, rice bowl ayam, serta udon seharga Rp15.000 sampai Rp25.000 per porsi. Sementara itu, Warung Kopi TFP menyajikan hidangan barat seperti roti panggang dan salad mulai harga Rp20.000 per porsi.
Anak muda skena americano rela mengantre panjang di lorong lantai dua. Tentunya sambil memegang ponsel pintar demi merekam suasana pasar yang tampak sinematik.
Transformasi skena juga berlangsung megah di sisi selatan Jogja, tepatnya di Pasar Prawirotaman. Laporan Kompas pada Oktober 2024 menyebutkan bahwa Pasar Prawirotaman berhasil meraih predikat juara pertama pasar nasional versi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta memadukan fungsi perdagangan rakyat di lantai dasar dengan fasilitas ekonomi kreatif di lantai empat. Pengelola pasar menyediakan studio musik, studio podcast, ruang kerja bersama, kantor virtual, hingga area kuliner atap.
Laporan Liputan6 pada September 2025 dan November 2025 menambahkan bahwa gerai TFP Kopi Warung di Pasar Prawirotaman menjual roti panggang, sandwich, dan kopi seharga Rp10.000 hingga Rp25.000. Sementara itu, sejumlah gerai kuliner Asia Timur di kawasan Prawirotaman memasang tarif Rp25.000 hingga Rp75.000 per orang.
Pengunjung muda duduk santai menyeruput es kopi sambil menikmati pemandangan senja Kota Jogja dari lantai empat. Jauh dari hiruk-pikuk transaksi bawang di lantai dasar pasar.
Lantai dasar yang tetap bergulat dengan kenaikan harga sembako
Namun, ketika kita menuruni anak tangga kembali ke lantai satu, gemerlap skena itu langsung berganti dengan realita ekonomi warga lokal. Di bawah lantai keramik tempat anak muda mendiskusikan musik independen, para pedagang sembako dan ibu rumah tangga di pasar sedang memutar otak menghadapi fluktuasi harga bahan pokok.
Mereka tidak memikirkan estetika piring saji atau americano pakai biji robusta atau full arabica. Skena “orang kecil” ini menghitung sisa uang belanja bulanan.
Pantauan Liputan6 di lantai dasar Pasar Prawirotaman pada November 2024 mencatat harga beras medium Rp13.500 per kilogram, beras premium Rp14.000 per kilogram, telur ayam ras Rp26.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp24.000 per kilogram, bawang merah Rp45.000 per kilogram, serta daging sapi Rp135.000 per kilogram.
Situasi lantai bawah Pasar Kranggan pun menyimpan kegelisahan serupa. Laporan Kompas pada April 2026 mengungkap keluhan Ani, seorang pedagang Pasar Kranggan, yang menghadapi kelangkaan stok dan lonjakan harga minyak goreng Minyakita dari Rp18.000 menjadi Rp22.000 per liter usai Lebaran 2026.
Gesekan halus antara dua dunia skena ini sering melahirkan komedi getir. Di lantai atas, seorang mahasiswa atau turis tanpa ragu mengeluarkan uang Rp25.000 untuk segelas kopi susu. Sebaliknya, di lantai bawah bangunan yang sama, seorang ibu rumah tangga harus berdebat 10 menit dengan penjual sayur demi menawar seikat sawi agar turun seribu rupiah.
Keramaian anak muda yang memadati lantai atas nyatanya tidak otomatis membuat kantong pedagang sayur, penjual tempe, atau bakul ikan basah di lantai dasar ikut menebal. Rombongan anak skena Jogja ini umumnya langsung menaiki tangga menuju gerai kopi, memotret makanan, lalu pulang tanpa menyentuh lapak sayuran di lantai satu.
Nasib kontras pasar tradisional Jogja yang tidak punya spot estetik untuk menikmati americano
Meskipun begitu, beberapa pasar tradisional Jogja berhasil menemukan titik temu melalui kuliner tradisional yang ramah dompet. Laporan Kompas pada Desember 2025 dan Liputan6 pada Februari 2026 menggambarkan bagaimana wisatawan memadati Pasar Ngasem sejak pukul 05:00 pagi demi menyantap nasi rames Warung Yu Ira, jenang Yu Jumilah seharga Rp10.000, hingga dawet.
Data Detik pada Agustus dan Oktober 2025 juga mencatat pedagang Pasar Ngasem seperti Sugirah tetap menjual lupis Rp5.000 per porsi dan Bu Wanti menjual apem beras Rp3.000 hingga Rp4.000 per buah. Di sini, skena orang kecil dan kekinian melebur menyenangkan.
Sayangnya, gempita tren pasar skena ini tidak menyentuh seluruh pasar tradisional di Jogja secara merata. Laporan Detik pada Agustus 2026 menyoroti kesunyian Pasar Terban, tempat para pedagang tradisional harus bertahan menghadapi sepinya pembeli hingga meminta Pemerintah Kota Yogyakarta membantu promosi.
Pada akhirnya, kehadiran anak muda berpakaian kalcer di lantai atas pasar tradisional memang memberi napas baru bagi gedung pasar. Namun, euforia berburu foto estetik di lantai atas tidak boleh membuat kita melupakan nasib pedagang sayur di lantai bawah.
Sekali-sekali, habis menyeruput americano dan memotret udon di lantai dua Pasar Kranggan, kita sebaiknya menyempatkan diri turun ke lantai satu untuk membeli cabai, tempe, atau bawang milik pedagang lokal.
Langkah kecil itu akan membantu pedagang tradisional merasakan manisnya perputaran uang dari tren pasar skena Jogja. Sehingga, mereka tidak hanya mencium wangi parfum mahalan kita yang melintas di depan lapak mereka.
BACA JUGA 5 aturan tidak tertulis Pasar Ngasem Jogja yang sebaiknya diketahui pengunjung sebelum mampir dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.