ADVERTISEMENT

7 dosa pengendara Plat AB Jogja: Kebiasaan buruk di jalanan yang menelan nyawa dan giliranmu bisa menyusul

7 dosa pengendara Plat AB Jogja yang bikin nyawa melayang MOJOK.CO

Bertahun-tahun orang meromantisasi cara berkendara plat AB Jogja. Narasinya selalu sama: santun, jarang membunyikan klakson, jarang menerobos lampu merah. Mojok baru saja merobek narasi manis itu.

Dalam liputannya, Mojok menyebut pengendara plat AB menyimpan kebiasaan mematikan. Pertama, “mak kluwer”: keluar dari gang kampung lalu langsung nyelonong ke jalan raya tanpa menengok kiri-kanan. Kedua, ugal-ugalan saat menyalip, lengkap dengan klakson panjang dan umpatan. 

ADVERTISEMENT

Budaya pakewuh membuat banyak orang memilih diam. Warga Jogja takut menegur, takut berurusan panjang dengan warlok, dan akhirnya membiarkan pelanggaran itu lewat begitu saja. Diam itu memberi nyawa pada dosa-dosa berikut ini.

Tujuh daftar ini tidak merangkum semua kelakuan. Namun, setiap butirnya memiliki satu kesamaan. Media arus utama pernah menurunkan beritanya dan keluarga korban pernah menangisi akibatnya.

Berikut 7 dosa pengendara plat AB yang sudah merenggut korban. Kejadiannya terdokumentasikan dengan baik.

#1 Ada saja Plat AB yang kebut-kebutan gas di jalur cepat

Kompas (29 Januari 2025) mengangkat fenomena kebut-kebutan sekelompok pemotor di Ring Road Sleman. Lampu hijau menyala, dan mereka langsung memuntahkan gas. 

Satu motor menghantam separator jalan, lalu tiga motor di belakangnya ikut menabrak. FD (21) meregang nyawa di rumah sakit. Polisi mengamankan empat motor tanpa nomor polisi dari lokasi itu.

#2 Menyeruduk bagian belakang truk

Kompas (31 Agustus 2026) memberitakan kecelakaan di Jalan Padjajaran, Condongcatur, Sleman. Seorang pelajar berinisial AAA (15) melaju kencang di jalur cepat dan tidak melihat truk Toyota Dyna yang berhenti membantu truk lain. 

Pengendara plat AB ini menghantam bak belakang truk itu dan meninggal di lokasi. Polisi lantas mengimbau pelajar agar tidak memakai jalur cepat Ringroad.

#3 Ada saja plat AB yang suka menyalip dari sisi kiri truk

Detik (31 Agustus 2026) mencatat tragedi di Jalan Bugisan, Wirobrajan. RS (16), siswi asal Gamping, berusaha mendahului truk tronton dari sisi kiri. Ceceran pasir proyek membuat bannya selip. Tubuhnya masuk ke kolong truk dan dia meninggal di tempat. Polisi menyebut manuver mendahului dari sisi kiri sebagai pemicu utama.

ADVERTISEMENT

#4 Mengabaikan hak pejalan kaki

Mojok menyoroti keluhan warga bahwa pengendara Jogja enggan memberi jalan bagi pejalan kaki. Detik (22 April 2026) membuktikan keluhan itu berujung maut. 

Seorang pemotor melaju di Jalan Magelang dan menabrak EK (80) yang sedang menyeberang. Perempuan lansia itu meninggal di lokasi. 

Polisi menemukan fakta lain yang lebih mengerikan. Si pengendara tidak memakai helm dan tidak memiliki SIM C. Polisi juga menyebut kurangnya konsentrasi sebagai dugaan sementara. Artinya, seorang pengendara plat AB tanpa helm, tanpa SIM, dan tanpa fokus mengambil nyawa seorang nenek yang sedang berjalan kaki menuju rumahnya.

#5 Pengendara plat AB suka sekali melawan arus lalu menantang warga Jogja

Kompas (1 Juli 2026) mengungkap kronologi dua pria di Jalan C Simanjuntak, Terban. Keduanya berboncengan, melawan arus, dan tidak memakai helm. 

Seorang warga menegur mereka. Alih-alih meminta maaf, keduanya justru mengejar dan menantang warga itu. Polisi memanggil mereka, dan keduanya akhirnya mendatangi Polresta Yogyakarta untuk merekam video permintaan maaf.

#6 Bonceng tiga sambil mengacungkan senjata tajam

Detik (Mei 2026) memberitakan aksi WF (17) di Moyudan, Sleman. Pengendara plat AB ini membonceng dua orang sekaligus, memacu motor sambil mengacungkan celurit, lalu menghantam tugu di sisi jalan. Polisi mengamankannya. 

Pola serupa muncul di Maguwoharjo pada September 2026. Polisi menemukan sebilah celurit sepanjang 50 sentimeter dari motor sekelompok remaja seusai mereka mengalami kecelakaan tunggal. 

Mereka hendak tawuran, tetapi jalanan Jogja lebih dulu menghukum mereka. Kompas bahkan mencatat kasus dua pemuda mabuk di Umbulharjo yang membawa senjata tajam sebelum menabrak pengendara lain.

#7 Melawan arus tanpa helm

Detik (3 April 2026) mencatat tragedi Jalan Jogja–Wates, Sedayu, Bantul, pukul 02.45 WIB. AGS (17) mengendarai Honda Scoopy plat AB dan AA (19) mengendarai juga Honda Scoopy. Keduanya melaju beriringan, lalu mengambil jalur kanan alias melawan arus, dan menghantam sebuah Toyota Avanza.

Tiga remaja tewas lebih dulu (AA, F, dan R) lalu AGS menyusul di rumah sakit. Detik mencatat korban jiwa bertambah jadi empat orang. Polisi menegaskan satu fakta. Merea tidak memakai helm.

Jadi, 7 dosa plat AB di atas membentuk pola yang jelas. Kecepatan, arogansi, dan rasa kebal hukum. Polisi bisa memasang ratusan personel di Ringroad, tetapi satu pengendara nekat selalu mampu menghancurkan satu keluarga dalam sekejap. 

Aspal Jogja tidak peduli pada plat AB, KTP, atau status warlok. Sepeda motor butuh satu detik untuk mengubah angkringan menjadi tempat duka, dan butuh satu meter saja untuk mengubah pelajar menjadi jenazah.

Mojok menyebut budaya pakewuh membuat warga enggan menegur pengendara ngawur. Berhentilah bersikap pakewuh pada orang yang membunuh. Teguran keras, klakson panjang, atau laporan ke polisi jauh lebih murah daripada nyawa keluargamu sendiri.

Sebelum kamu memutar gas malam ini, ingat satu hal. Jalanan Jogja mencatat setiap dosa. Suatu hari ia akan menagihnya dan tagihan itu bisa memakai namamu.

BACA JUGA Pengendara Plat AB Jogja Tidak Sesantun yang Diromantisasi, Zuzur Aslinya bikin Kesal dan Kaget dengan Kebiasaan “Mak Kluwer” dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.