ADVERTISEMENT

Pengendara Plat AB Jogja Tidak Sesantun yang Diromantisasi, Zuzur Aslinya bikin Kesal dan Kaget dengan Kebiasaan “Mak Kluwer”

Pengendara motor plat AB Jogja lebih sebenarnya lebih menyebalkan MOJOK.CO

Cara pengendara motor Plat AB alias orang Jogja aslinya tidak “sesantun” di konten-konten romantisasi. Zuzur, sebenarnya juga tidak kalah meresahkan, baik bagi pengendara luar daerah maupun warlok sendiri. 

***

ADVERTISEMENT

Selama ini, orang-orang Jogja kerap meresahkan cara berkendara setidaknya untuk dua plat: plat B (Jakarta) dan plat K (eks Karesidenan Pati). Pada saat yang sama, cara berkendara orang Jogja memang sering diromantisasi di media sosial dengan narasi santun karena beberapa hal: 

  1. Jarang membunyikan klakson, apalagi berkali-kali saat lampu apill baru saja berubah dari merah ke hijau. 
  2. Jarang menemukan kendaraan plat AB menerobos lampu merah. 
  3. Jarang mendapati pengendara plat AB melebihi marka jalan saat lampu merah. Pokoknya dianggap tertib lah. 
  4. Terkesan tidak grasak-grusuk saat berkendara. 

Sampai akhirnya seorang pengguna Threads dengan akun @ade_age membagikan culture shock sebagai orang Jakarta saat di Jogja. Ia menyoroti cara berkendara orang Jogja yang sebenarnya cukup meresahkan. 

 

Lihat di Threads

 

Satu hal yang ia soroti: orang Jogja terkesan tidak mau ngalah terhadap orang yang mau menyeberang. Mereka tidak akan berhenti kalau tidak ada lampu merah. Fakta itu pun diamini oleh kontributor Terminal Mojok,  Noor Annisa Falachul Firdausi, dalam tulisannya, “Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta”. 

Keresahan serupa juga saya dengar dari Dian Maula (24), seorang warlok Jogja yang pernah satu tahun merantau di Jakarta, saat kami bertemu di sebuah angkringan pada Rabu (14/10/2025) pagi. Dian menyebut, apa yang diungkapkan akun @ade_age dan Noor Annisa hanya satu bagian saja dari cara berkendara plat AB yang meresahkan. Kata Dian, sejauh yang ia alami, masih ada kelakuan meresahkan lain. 

Pengendara motor plat AB Jogja suka mak kluwer: keluar gang tanpa nengok

Ini bagian paling menyebalkan bagi Dian tiap menjumpai gang-gang kampung di pinggir jalan raya. Para pengendara motor plat AB Jogja, kata Dian, punya kecenderungan “mak kluwer” dalam istilah lokal. 

ADVERTISEMENT

“Mak kluwer itu ya, misalnya keluar dari gang kampung ke jalan raya nih, si pengendara itu langsung nelonyor (nyelonong) aja. Nggak pakai berhenti dulu, nggak pakai tengok kiri-kanan dulu ada pengendara lain nggak,” jelas Dian. 

Jadi ketika dari gang ia hendak belok kiri, si pengendara bisa langsung belok tanpa merasa perlu melihat dulu apakah ada pengendara lain dari arah belakangnya. Situasi itu tidak pelak membuat Dian kerap merasa kaget dan agak gedandapan ngerem. 

Dian mengakui, ia bukan pengendara lincah. Ia tidak bisa langsung refleks banting kanan dan berkelok begitu saja. Apalagi ia juga harus melihat dua arah: melihat spion untuk memastikan apakah ada pengendara di belakangnya yang hendak menyalip, sekaligus harus memastikan kalau di depannya tidak ada kendaraan yang melaju kencang. 

“Tapi ya cuma bisa ngedumel tipis. Asu, wong iki piye to karepe. Nggak bisa marah. Kalau ini kebawa kultur pakewuh ala Jogja. Paling-paling cuma bisa nyalip orang tadi sambil melirik tajam,” ujar Dian. 

Takut panjang kalau berurusan sama warlok

Kata Dian, “kultur warlok” di Jogja terbilang sangat kuat. Bukan hanya dalam konteks warlok KTP Jogja versus orang luar daerah, tapi juga KTP Jogja versus KTP Jogja sendiri. 

Dalam kasus yang Dian alami: Dian adalah orang dari Kota Jogja. Sementara kejadian berhadapan dengan pengendara motor plat AB yang suka mak kluwer tersebut terjadi di wilayah Sleman. Si pengendara mak kluwer, sebagai warlok Sleman, pasti akan tersinggung egonya jika ditegur. 

“Dulu kan pernah viral, orang negur pengendara plat AB pas lawan arah. Mentang-mentang warlok situ, orang yang ditegur malah nyolot dan ngajak geger, to, yang viral “Ha ngopo-ha ngopo” itu loh,” ucap Dian. 

Daripada berurusan panjang sama warlok, Dian pun lebih memilih ngedumel tipis saja. Daripada gimana-gimana. Cuma ya siapa yang tidak ngedumel kalau ada pengendara mak kluwer dan mak bedunduk seperti itu: mengagetkan sekaligus membahayakan. 

Pengendara motor plat AB Jogja tidak kalah ugal-ugalan

Saya sendiri beberapa kali mengalami hal menyebalkan dengan pengendara motor plat AB Jogja. 

Begini, sebagai pengendara motor Plat K yang sudah kadung mendapat stigma “ngawur”, saya berusaha tepa selira dan empan papan selama di Jogja. Kebiasaan alami berkendara dengan gaya Plat K saya kurang-kurangi lah, demi menghormati kesantunan orang Jogja dari yang saya dengar. 

Namun, selama ini, sialnya saya justru lebih sering dipertemukan dengan pengendara-pengendara plat AB yang sebenarnya tidak kalah ugal-ugalan dari plat K. 

Saya sering disalip dengan kencang dan amat mepet. Apalagi jika berkendara di Jalan Kaliurang di jam-jam tengah malam, saya sering dipertemukan dengan pengendara-pengendara RX King yang tancap gas dengan awur-awuran. Pepet sana, pepet sini, sambil bleyer-bleyer pula. 

Ada satu kejadian yang cukup saya ingat, yakni pada pertengahan Agustus 2026 lalu. Suatu malam, saya yang dari arah bawah ke atas hendak menyeberang jalan untuk mampir di sebuah angkringan tepi jalan raya. 

Sebagaimana lazimnya orang hendak menyeberang, saya membawa motor agak ke tengah, persis di garis tengah pembatas antara lajur kiri dan kana. Lampu sein kanan saya nyalakan untuk memberi tanda bahwa saya hendak menyeberang. Saya pun tidak lantas nyelonong begitu saja, menunggu sampai benar-benar sepi. Masalahnya, benar kata Annisa dan warganet, butuh waktu lama sekali untuk menyeberang karena semua kendaraan dari arah atas (arah berlawanan dengan saya) melaju kencang. Tidak ada yang mau berhenti. 

Dalam posisi itu, dari atas tiba-tiba melaju pengendara motor plat AB dengan kecepatan tinggi. Salip sana, salip ini. Ia bahkan membunyikan klakson kencang dan berulang saat menyalip dari sisi kanan dan mendapati ada saya di garis tengah jalan. 

“Asu, goblok!!!” si pengendara melontarkan umpatan tersebut saat melewati saya. Jelas saya kaget dan merenung: apa saya salah ya? Tapi setelah berhasil menyeberang, orang-orang di angkringan justru balik menggoblok-goblokkan pengendara yang baru melintas tadi. 

“Wong goblok kae, Mas. Wis ngerti ana wong arep nyeberang, wis riting, malah ugal-ugalan (Wong goblok, tadi, Mas. Sudah tahu ada orang mau menyeberang, sudah sein, malah ugal-ugalan).” 

“Wis-wis, ndelosor lak yo syukur wong kaya ngono mau (Duh-duh, semoga nyungsep lah orang kayak gitu).” Saya malah dibela, padahal saya sudah siap-siap dimaki-maki kumpulan orang-orang di angkringan. 

Dibentuk karena kondisi sehari-hari?

Dian mengamini bahwa ada saja model pengendara motor plat AB Jogja yang begitu: ugal-ugalan. Tidak bisa disangkal. Namun, bagi Dian, tidak bisa dipukul rata. Sebab, ia menemukan alasan cukup masuk akal terhadap cara berkendara semacam itu. 

Misalnya di kalangan temannya sendiri. Ia punya empat teman dari daerah Patuk, Gunungkidul, yang Dian kenal suka berkendara dengan “ugal-ugalan” di jalanan Sleman. 

“Aku tanya ke mereka, memang orang Patuk itu begitu ya cara bawa motornya? Jawaban mereka, ya karena udah kebiasaan dengan situasi jalan,” beber Dian. 

Kondisi jalanan Patuk yang berupa tanjakan curam dan berkelok, membentuk warga setempat menjadi pengendara yang harus bisa meliuk-liuk lincah. Belum lagi, sejak kuliah, mereka adalah pelaju dari Patuk ke Sleman. Perjalanan mereka diburu waktu. Kalau tidak tancap gas kencang-kencang, perjalanan mereka untuk sampai Sleman pasti akan memakan waktu lama.

Dan sepanjang perjalanan itu, mereka juga harus berhadapan dengan ragam kendaraan di jalan raya, yang membuat mereka lambat laun pun punya karakter: berkendara sambil meliuk-liuk, salip sana-salip sini. 

“Nah, untuk karakter orang dari Sleman atau Bantul, masih perlu kita cari tahu. Terutama juga, kenapa orang Jogja suka mak kluwer kalau cari gang. Karena kalau aku, aku belum tahu. Aku kalau keluar gang milih ngerem, berhenti dulu,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.