ADVERTISEMENT

Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta

Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta Mojok.co

 Klakson memang nggak ada di Jogja. Tapi tahukah kamu apa lagi yang nggak ada di Jogja? Ia adalah rem dan rela mempersilakan orang untuk menyeberang jalan.

Seorang pengguna Threads dengan akun @ada_age membagikan pengalaman culture shock yang dialaminya di Jogja. Culture shock ini bukan soal makanan Jogja yang kemanisan bagi seleranya maupun orang Jogja yang pakai arah mata angin untuk menunjukkan arah, melainkan perilaku pengendara di Jogja.

Menurut penuturan, pengendara di Jogja nggak ngasih jalan bagi penyeberang. Penyeberang dibiarkan untuk menunggu sampai arus deras kendaraan habis, baru bisa menyeberang. Lampu merah di Jogja memang banyak, tapi nggak semua jalan dipasangi lampu merah. Ketika nggak ada lampu merah dan terpaksa menyeberang di tengah ruas jalan inilah yang dipermasalahkan oleh si pemilik akun.

Blio sebagai pendatang dari Jakarta saja bilang bahwa jalanan di Jogja itu ngeri untuk penyeberang jalan. Saya sebagai warga Jogja asli yang punya peran sebagai pejalan kaki, pesepeda, penumpang bus kota, sekaligus pengendara motor menyatakan, SAYA SETUJU!

Di Jogja, penyeberang jalan wajib sabar

Setiap selepas subuh saya suka berolahraga dengan cara bersepeda atau jalan kaki berkeliling Jogja. Saya kira tantangan jalan kaki di Jogja itu hanya soal ketiadaan trotoar, atau trotoarnya diambil alih oleh pedagang kaki lima. Ternyata saya pulang dengan kepala pusing dan mood berantakan karena nggak bisa nyebrang.

Rute yang saya ambil dari Jalan Kyai Mojo ke timur menuju Tugu, lalu belok ke selatan menuju Jalan Pangeran Mangkubumi. Di rute yang masih pendek ini, saya sudah nggak bisa nyebrang di Perempatan Pingit. Padahal, itu masih jam 5 pagi yang seharusnya lalu lintas masih lengang. Bahkan saya sebenarnya menyeberang langsung di zebra cross di belakang lampu merah. Tapi motor dan mobil melintas dengan kencang. Saya harus menunggu sampai nggak ada satupun kendaraan yang lewat.

Penantian lebih parah terjadi di sebelah barat Stasiun Yogyakarta. Saya hanya mau menyeberang dari sisi kanan jalan ke sisi kiri. Tapi saya menunggu hampir 10 menit karena benar-benar nggak ada satupun kendaraan yang mengalah. Padahal saya berdiri tepat di atas zebra cross. Dan jalan ini pun satu arah, yang menurut saya seharusnya lebih mudah untuk diseberangi.

Sebenarnya, saya punya banyak sekali pengalaman kesulitan nyebrang di Jogja, baik saat berjalan kaki, naik sepeda, bahkan naik motor sekalipun. Sudah nggak terhitung pula berapa kali saya hampir celaka karena pengendara motor di Jogja nggak mau mengalah dan bersabar sedikit. Dan ini sudah saya alami sejak masih SMP, yang mana sudah 14 tahun berlalu.

Kendaraan di Jogja bukan cuma tanpa klakson, tapi juga tanpa rem

Ketika saya cek di beberapa kanal berita di internet, ternyata banyak sekali kasus penyeberang jalan tewas karena ditabrak pengendara kendaraan bermotor di Jogja. Contoh beritanya ada banyak, tapi kalau kamu kepo atau butuh bukti, kamu bisa membaca ini dan ini.

Saat membaca berita-berita tersebut, saya langsung takjub. Wah, ini di Jogja, lho. Di kota yang katanya pengendaranya santun, nggak ada klakson, dan melaju alon-alon waton kelakon. Tapi nyatanya menyeberang jalan saja bisa berbahaya bagi nyawa.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, menurut saya, Jakarta yang mendapatkan stereotip kota dengan pengendara ugal-ugalan justru nggak separah ini. Saya juga menjadi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum di Jakarta. Ketika harus menyeberang, pengendara-pengendara tetap memberikan giliran buat saya.

Saat pertama kali ke Jakarta, jujur saja, saya sempat mengira akan menunggu paling cepat 15 menit untuk bisa menyeberang. Tapi ketika sudah berdiri di zebra cross, pengendara yang sedang melaju langsung mengerem dan mempersilakan saya menyeberang. Dan saat saya menyeberang, nggak ada satu pun pengendara yang memelototi saya seakan saya merampas waktu mereka. Kalau di Jogja mah sudah sering saya dipelototin.

Penyeberang berhak menggunakan jalan dengan selamat

Sangat disayangkan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) nggak  tersedia cukup di Jogja untuk mengatasi masalah ini. Zebra cross sudah nggak bisa diharapkan. Zebra cross yang dicat putih dan memang diperuntukkan sebagai tempat menyeberang saja agaknya sudah nggak terlihat di mata pengendara di Jogja.

Saya sering mendengar celetukan orang-orang di sekitar saya bahwa menyeberang jalan di Jogja memang harus modal nekat. Kalau nggak nekat, kita bakal menunggu sampai hari raya.

Akan tetapi, menurut saya, menyeberang jalan di Jogja itu tak ubahnya buah simalakama alias serba salah! Kalau nekat, saya takut ada pengendara yang benar-benar keras kepala dan memilih untuk terus melajukan kendaraannya hingga menabrak saya. Tapi kalau nggak nekat, waktu saya akan terbuang sia-sia. Kalau orang Jakarta menua di perjalanan, kita penyeberang jalan di Jogja menua di zebra cross.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Wisdom Park UGM berbayar, bukti ruang terbuka hijau di Jogja itu barang mewah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki