Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Penyesalan Getir Karena Tak Bisa Mendonorkan Plasma Konvalesen

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
22 Juli 2021
A A
plasma konvalesen
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya tak bisa menjadi donor plasma konvalesen, dan itu adalah kegagalan besar yang harus mulai saya sesali.

Ketika saya sekeluarga terpapar Covid-19, kami merasa sangat “mujur” sebab bukan hanya kemujuran kami yang cukup moncer, namun juga daya dukung sosial kami ternyata sangat kuat.

Ketika bapak mertua saya resmi positif, ia langsung mendapat kamar isolasi di rumah sakit. Hal yang tak semua orang bisa mendapatkannya saat ini. Kawan-kawan, tetangga, dan saudara-saudara kami juga sangat suportif. Kami mendapatkan suplai kebutuhan pokok seperti sayur, buah, dan aneka logistik lainnya sebagai pendukung kami dalam menjalani masa isolasi mandiri.

Ketika saya mengabarkan melalui media sosial bahwa saya dan keluarga terpapar Covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri, tak terhitung doa dan dukungan yang mampir untuk kami. Doa yang ribuan jumlahnya itu sungguh membuat saya merasa tak sendiri. Saya merasa ditemani. Kami merasa sedang berbagi derita.

Banyak kawan online, yang kami bahkan belum pernah berjumpa langsung dengannya, mengirimkan aneka suplemen untuk kami.

Saking seringnya kiriman itu datang, kami sampai berada di fase “surplus” suplemen. Kami mendapatkan banyak kiriman madu, kapsul suplemen berbagai jenis, vitamin berbagai merek, serta herbal-herbal lainnya. Hal yang membuat saya merasa amat sangat dicintai oleh kawan-kawan kami.

Maka, ketika saya dan keluarga saya pulih, saya merasa punya semacam kewajiban moral untuk memberikan apa yang sudah orang-orang berikan. Pay it forward.

Saya dan istri saya berusaha melakukan apa yang sebisa mungkin bisa kami lakukan untuk membantu siapa pun yang terdampak Covid-19. Kami membeli banyak barang dagangan dari para pedagang yang terdampak Covid-19 lalu membagi-bagikannya kepada orang lain. Kami mengirimkan vitamin dan suplemen kepada orang-orang yang sedang isolasi mandiri. Kami menggunakan media sosial kami untuk membagikan postingan-postingan yang menurut kami perlu untuk dibagikan dan disebarkan.

Ketika kami diminta oleh Kitabisa untuk ikut menggalang dana, kami tak berpikir dua kali untuk mengiyakannya. Target donasi 10 juta selama 25 hari yang “dibebankan” kepada kami ternyata langsung tercapai bahkan di hari pertama.

Ketika tulisan ini saya buat, nilai donasi yang sudah kami kumpulkan bahkan sudah mencapai 350 juta rupiah. Kami diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi menyalurkan bantuan-bantuan tersebut, dari mengusahakan shelter isolasi sampai menyalurkan bantuan berupa popok dan susu untuk para ibu yang sedang isolasi mandiri.

Tanpa perlu narasi heroisme, saya pikir saya sudah merasa membayar lunas atas apa yang diberikan kepada orang-orang kepada saya dan keluarga saya. Hati merasa sudah plong. Keluarga saya dibantu banyak orang, maka sudah sepatutnya saya juga harus bisa membantu banyak orang juga. Saya merasa sudah tidak punya hutang.

Namun, perasaan bersalah itu kemudian muncul. Melalui email, seorang kawan mendadak mengirimkan pesan dan menanyakan tentang kemungkinan bagi saya untuk mendonorkan plasma konvalesen. Ia mengatakan bahwa bapaknya saat ini tengah dirawat dan sangat membutuhkan donor plasma konvalesen.

Batin saya langsung bergejolak. Saya seharusnya bisa membantu kawan saya itu untuk mendonorkan plasma konvalesen saya. Namun sial, saya tak bisa. Pertama, saya bahkan tak tahu apa golongan darah saya. Kedua, berat badan saya hanya 46 kilogram, padahal syarat yang disebutkan oleh PMI untuk bisa menjadi donor plasma konvalesen adalah berat badan minimal 55 kilogram. Dan yang terakhir, kesembuhan saya bahkan belum menginjak usia dua minggu, sehingga seandainya saya bahkan berbobot lebih dari 55 kilogram, saya tetap tidak boleh mendonorkan plasma darah saya.

Saya pun menjelaskan hal tersebut kepada kawan saya. Sungguh, saya balasan berisi penjelasan tersebut dengan perasaan yang amat getir. Perasaan bahwa saya ternyata belum cukup lunas untuk bisa menuntaskan hutang saya kepada orang-orang.

Iklan

Maka, sebagai gantinya, saya berjanji akan membantunya semaksimal mungkin dalam menyebarkan informasi terkait donor plasma konvalesen untuk ayahnya itu. Tak lupa saya mendoakan agar ayahnya bisa segera mendapatkan kesembuhan. Sungguh itulah bantuan selemah-lemahnya iman yang bisa saya berikan.

Sehari berlalu. Pesan itu kemudian berbalas. Dan sial, balasan dari dia sungguh membuat saya murung.

“Selamat malam Mas Agus, terima kasih atas responnya. Mau mengabarkan sabtu kemarin ayah meninggal dengan tenang di RS. Terimakasih atas niat baik yang diberikan Mas Agus. Saya sendiri pun juga tidak sempat ngetag njenengan di medsos. Semoga kita semua diberikan kesehatan selalu.” Begitu tulis kawan saya.

Membaca pesan yang pendek itu, hati saya remuk. Dada saya serasa dihantam oleh palu godam yang amat keras. Ada banyak ketidaksanggupan yang pernah saya alami, namun rasanya tak ada ketidaksanggupan yang lebih ingin saya umpati ketimbang ketidaksanggupan untuk mendonorkan plasma konvalesen untuk bapak kawan saya itu.

Sepanjang hidup, tampaknya saya tak pernah merasa semenyesal ini karena bobot badan saya kurang dari setengah kuintal.

Pada akhirnya, saya harus sadar akan satu hal. Kebaikan memang tak akan pernah impas.


BACA JUGA Siapkah Jika Suatu Saat Kita Sakit dalam Waktu yang Panjang? dan tulisan AGUS MULYADI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2021 oleh

Tags: COVID-19donor plasma konvalesenplasma konvalesen
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO
Kampus

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi. MOJOK.CO
Kilas

Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi

13 Juni 2023
Kritik untuk Jogja Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan MOJOK.CO
Esai

Kritik untuk Jogja: Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan

7 Juni 2023
KTR Malioboro.MOJOK.CO
Kilas

Kasus Covid-19 di DIY Meningkat Tajam, Segera Vaksinasi Masyarakat Berisiko Tinggi

2 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Users kereta api ekonomi Sri Tanjung kaget saat pertama kali naik KA Jaka Tingkir New Generation dalam perjalanan Jogja-Jakarta MOJOK.CO

Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan

27 Januari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
fresh graduate dari UNPAD kerja di Jakarta. MOJOK.CO

Sering Ditolak Magang di Jakarta meski Bermodal Kampus Top, Ternyata “Life After Graduation” Memang Seberat Itu

28 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.