Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pemimpin yang Dinabikan Mematikan Nalar, Begitu pula Sinetron

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
6 Februari 2019
A A
sinetron
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Pemimpin bertangan besi mematikan nyali, pemimpin yang dinabikan mematikan nalar,” begitu kata dalang edan Sujiwo Tedjo.

Saya tentu saja tak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sebab memang begitu adanya. Di tahun politik seperti sekarang ini, bisa kita lihat dengan mudah bagaimana orang-orang mengorbankan dan menghilangkan nalarnya sendiri demi membela pemimpin yang sangat mereka puja dan idolakan.

Pemimpin yang dinabikan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang mampu mematikan nalar. Di dunia ini, masih ada banyak hal lain yang tak kalah berbahaya dalam mematikan nalar ketimbang sekadar seorang pemimpin yang dinabikan.

Dalam kehidupan saya, satu dari sekian banyak hal yang mampu mematikan nalar tersebut hadir dalam bentuk sinetron.

Kesimpulan ini saya ambil tentu saja berdasarkan pengalaman empiris di dalam keluarga saya.

Di dalam keluarga saya, ibu dan dua adik perempuan saya adalah makhluk yang begitu menyukai sinetron. Awalnya hanya adik pertama saya, lama-kelamaan, adi kedua saya dan ibu saya ikut-ikutan suka.

Sebagai anak lelaki yang sangat sayang pada ibu, saya sebenarnya tak terlalu suka kalau ibu saya demen nonton sinetron. Tapi ya gimana, saya nggak mungkin melarang ibu saya.

Bukan apa-apa, hanya saja, tiap kali menonton sinetron, ibu saya, dengan berkolaborasi dengan adik saya tentunya, selalu ngrasani apa saja yang terjadi dalam sinetron.

“Kok bisa gini tho, Yur?” Kata Ibu saya (Nama adik saya Yuria).

“Iya, Mak, soalnya Mischa itu jahatnya sama Anton sudah kebangetan, jadi wajar kalau Sisca ngancam Mischa,” balas adik saya.

“Harusnya nggak usah diancam, langsung labrak lak wis.”

“Yo nggak bisa gitu, Mak!”

“Nggak bisa gimana?”

“Ya kalau Sisca ngelabrak Mischa, nanti Mischa bisa ngadu sama Pak Bram. Bisa-bisa malah Sisca yang nanti kena masalah.”

Iklan

“Oh, iya juga ya…”

Entah kenapa, tiap kali ibu saya dengan fasih ngrasani para tokoh yang bermain di sinetron itu, saya merasa ibu saya berubah menjadi wanita yang lain. Dia bukan ibu yang saya kenal.

Nah, untung bapak saya adalah sosok yang berada satu kubu dengan saya. Ia sama-sama tak suka melihat ibu dan adik-adik saya menonton sinetron.

“Wis, mbok diganti yang lain. Sinetron itu bikin goblok. Isinya cuma padu (adu mulut)!”

Tapi yah, mau bagaimana lagi. Bapak memang pemimpin dalam keluarga. Namun urusan remote tv, ibu saya penguasanya.

Karena itulah, saya dan bapak lebih sering ngalah dan cuma bisa mengelus dada.

Namun, namanya hidup, selalu penuh dengan kejutan.

Setelah sekian minggu saya tak pulang ke rumah di Magelang, beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya kesampaian buat pulang.

Dan di hari kepulangan saya, saya terpaksa menerima satu keadaan yang membuat saya harus menangis batin.

Tepat ba’da maghrib, bapak bersama ibu dan dua adik saya menonton sinetron bersama.

Bapak menonton dengan sangat serius. Hingga kemudian, keluarlah kalimat itu.

“Dasar goblok, itu lho si Robi mumpet di belakang mobil, masak kayak gitu aja nggak lihat!” Maki bapak penuh emosi pada kotak televisi yang ia tonton.

Yah, sinetron pada akhirnya berhasil mematikan nalar bapak.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2019 oleh

Tags: keluargaSinetron
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Kiprah Whani Darmawan dari Pemain Teater hingga Jadi Aktor Andalan Sutradara Kondang - PutCast Mojok
Video

Kiprah Whani Darmawan dari Pemain Teater hingga Jadi Aktor Andalan Sutradara Kondang

10 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.