Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Orang yang Pakai Kemeja Flanel Itu Tandanya Lagi…

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
5 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tren kemeja flanel sudah dimulai sejak abad ke-16 dan masih berlangsung sampai sekarang. Apa, sih, alasannya?

Saya suka motif kotak-kotak untuk pakaian. Dulu sekali, saya bahkan sampai bela-belain nabung demi sebuah rok berwarna biru kotak-kotak—maklum, masih jadi mahasiswa baru yang nggak punya kerjaan.

Motif ini kemudian muncul jauh lebih sering dari yang saya duga. Beberapa kali ada orang mengenakan kemeja lengan panjang dengan motif kotak-kotak. Yang membuat saya penasaran, bahannya nggak tipis-tipis amat, meski nggak terlalu tebal. Usut punya usut, saat itulah dimulai kejayaan kemeja flanel kotak-kotak.

Kemunculan bahan flanel sendiri dimulai sejak abad ke-16. Dalam bahasa Wales, ia bernama gwlanen yang berarti “bahan wol”. Flanel kemudian disebut sebagai flannelette yang bersifat hangat dan cukup tebal sehingga mampu melindungi penggunanya dari cuaca dingin dan ranting pohon.

Uniknya, hampir semua motif kemeja flanel adalah kotak-kotak. Bagi saya, ini adalah misteri. Maksudnya apa coba? Biar kayak taplak? Atau kayak nasi kondangan? Hmmm???

Tapi, kotak-kotak dalam kemeja flanel ternyata juga punya sejarahnya sendiri. Pada abad 17, ia menjadi simbol pemberontakan terhadap tirani di Inggris Raya, sementara di abad ke-20 motif ini dipakai para pemusik. Singkatnya, kemeja flanel kotak-kotak kemudian identik dengan karakter maskulin, bebas, dan—tentu saja—santuy.

Sekarang, hingga tahun 2019, masih banyak saja orang yang memilih kemeja flanel sebagai andalan berbusana. Kenapa hal itu terjadi? Ya mana saya tahu. Saya kan bukan cenayang—saya cuma karyawan swasta. Hih!

Tapi, kayaknya seru juga kalau saya menebak-nebak alasannya, seperti berikut ini.

*JENG JENG JENG*

Pertama, mereka yang pakai kemeja flanel sebenernya berada di tengah kebimbangan cuaca: panas tapi dingin.

Seorang narasumber terpercaya dalam hal per-flanel-an, Yamadipati Seno, mengatakan bahwa kemeja flanelnya adalah kawan yang tepat untuk dipakai saat cuaca panas. Soalnya, ia bisa melindungi diri dari terik matahari dengan kemeja lengan panjang, sekaligus tetap merasa silir dan tidak hareudang berkat keberadaan kaze wa fuiteru angin yang berhembus.

Kedua, kemeja flanel menjadi pilihan bagi mereka yang suka naik gunung, baik saat mereka lagi beneran naik gunung ataupun cuma lagi stay di Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru.

Kegiatan fisik seperti naik gunung memang menuntut pelakunya untuk menggunakan pakaian yang mampu menyerap keringat. Tujuannya apa? Ya biar tetap kering dan nyaman dipakai, sekaligus menghangatkan tubuh. Kamu nggak mau, kan, kedinginan di gunung? Makanya, baju flanel ini sering kali jadi pilihan.

Lebih spesifik lagi, OOTD anak gunung berflanel biasanya gini: pakai kaus di dalam, dilapisi baju flanel yang kadang nggak dikancingin, lalu pakai slayer di leher atau satu hal penting: pakai buff. Kalau diibaratkan seperti sinetron Indonesia, pelaku tren pakaian ini mungkin sama kayak jumlah sinetron Tukang Bubur Naik Haji: banyak banget!

Iklan

Ketiga, mereka yang pakai kemeja flanel sebenernya males ganti baju.

Ha gimana nggak? Umumnya, mereka-mereka ini adalah orang-orang yang belum ganti kaus dari kemarin dan merasa “aman” hanya dengan mengganti luaran alias outer, atau dalam hal ini, berupa flanel. Soalnya, pakaian ini memang ajaib: bisa membuat pemakainya tampak lebih elegan dan kece hanya dalam sekian detik.

Pengguna kemeja flanel dengan tipe ini umumnya memang hanya memanfaatkan si kemeja sebagai pemanis. Maka, sering kali, mereka nggak bakal repot-repot ngancingin baju kemejanya.

Nah, ini juga menjadi sebuah misteri yang mengherankan: kenapa harus nggak dikancingin coba???

Beberapa orang percaya, alasan kemeja flanel nggak dikancingin adalah agar penggunanya tampak lebih bergaya dan keren. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin kemejanya nggak dikancingin biar…

…ehm, biar nggak pesing, ya?

Hehehe. Ketawa, dong. Hehehe.

BACA JUGA Harga Pakaian Anak-Anak Hype yang Membuat Kita Merasa Missqueen atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2019 oleh

Tags: bajukemeja flanelkotak-kotakNaik Gunungnggak ganti kausOOTD
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Antara Hidup dan Mati di Bibir Jurang: Seri ke Gunung Salak yang Mistis . MOJOK.CO
Malam Jumat

Antara Hidup dan Mati di Bibir Jurang: Seri ke Gunung Salak yang Mistis (Bagian 2)

6 April 2023
mahasiswa uin hilang mojok.co
Kilas

Tim SAR Ungkap Penyebab di Balik Mahasiswa UIN yang Hilang Dua Hari di Lereng Merapi

14 Januari 2023
ukuran baju mojok.co
Kilas

Cara Mengetahui Ukuran Baju Saat Belanja Online

29 November 2022
Eed Kopi Bowongso mojok.co
Liputan

Sriono Edy Subekti, di Balik Sukses Kopi Bowongso dan Penyesalannya Membuka Jalur Pendakian

20 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.