4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli

4 Oleh-Oleh Malioboro Jogja Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli Mojok.co

4 Oleh-Oleh Malioboro Jogja Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli (unsplash.com)

Malioboro merupakan salah satu destinasi wisata yang hampir selalu dikunjungi saat berada di Jogja. Jalan legendaris ini dikenal dengan nilai sejarahnya, deretan toko yang menarik, hingga beragam kuliner yang menggoda selera. Tak heran jika Malioboro Jogja menjadi salah satu ikon wisata favorit bagi para pelancong.

Saat menyusuri kawasan ini, banyak wisatawan berburu buah tangan untuk dibawa pulang, baik untuk keluarga, tetangga, maupun rekan kerja. Oleh-oleh dari Malioboro memang terasa spesial, namun ternyata tidak semua barang atau makanan yang dijual di sana cocok dijadikan buah tangan. Berikut ini beberapa barang atau makanan yang sebaiknya kalian pikir berulang kali sebelum dijadikan oleh-oleh. 

#1 Wedang uwuh, tidak semua orang cocok dengan rasanya 

Wedang uwuh adalah minuman tradisional khas Imogiri, Yogyakarta, yang terbuat dari berbagai dedaunan dan rempah-rempah. Minuman ini paling nikmat disajikan selagi hangat, karena perpaduan rasa manis dan pedasnya akan terasa lebih kuat dan menghangatkan tubuh.

Selain disajikan sebagai minuman siap konsumsi, wedang uwuh juga banyak dijual dalam bentuk bahan kering yang bisa diseduh sendiri di rumah. Versi inilah yang biasanya dijadikan oleh-oleh. Kalian bisa menemukannya dengan mudah di toko-toko oleh-oleh di kawasan Malioboro Jogja maupun Pasar Beringharjo. 

Bagi pecinta minuman rempah, wedang uwuh tentu menjadi pilihan yang menarik. Namun, tidak semua orang cocok dengan cita rasanya. Kombinasi manis dan pedas dalam satu minuman bisa terasa unik, bahkan kurang familiar bagi sebagian orang.

Karena itu, jika kalian berencana menjadikan wedang uwuh sebagai oleh-oleh, ada baiknya mengenali selera orang yang akan menerimanya. Dengan begitu, oleh-oleh yang kalian berikan bisa lebih tepat dan benar-benar dinikmati.

#2 Gantungan kunci Candi Borobudur

Sebaiknya kita tidak lagi memperpanjang kesalahpahaman dengan menjadikan gantungan kunci atau pernak-pernik bergambar Candi Borobudur sebagai oleh-oleh khas Jogja. Meski di sepanjang Malioboro masih banyak penjual yang menawarkan suvenir bertema tersebut, ada pilihan landmark lain lebih merepresentasikan Jogja, seperti Prambanan atau Tugu Jogja.

Seperti yang sudah diketahui, Borobudur sebenarnya berada di wilayah Muntilan, Magelang, yang berjarak sekitar 40 km dari Malioboro. Kesalahpahaman ini sudah berlangsung cukup lama, dan ada baiknya tidak terus dilanggengkan. Bahkan, salah satu tulisan di Mojok pernah mengangkat hal ini dengan cara yang menarik melalui judul, Mau Sampai Kapan Salah Menyebutkan Candi Borobudur Terletak di Jogja?

#3 Sate gajih di ujung Jalan Malioboro, dekat Pasar Beringharjo

Kalau kalian melewati kawasan Pasar Beringharjo dan mencium aroma harum yang manis, itu tandanya kalian sedang berada di dekat penjual sate gajih. Biasanya, para penjual ini berjejer di jalan kecil di sisi selatan pasar, menawarkan sajian yang menggoda siapa saja yang lewat.

Di antara banyaknya pilihan kuliner di Pasar Beringharjo, sate gajih menjadi salah satu yang paling direkomendasikan. Rasanya yang khas dan teksturnya yang lembut saat hangat membuatnya begitu istimewa.

Namun, sate gajih paling nikmat disantap langsung di tempat. Jika dibawa pulang, teksturnya cenderung mengeras dan kehilangan kelezatannya, bahkan bisa terasa kurang nyaman di lidah. Itulah sebabnya, meskipun sangat identik dengan Pasar Beringharjo, sate gajih kurang cocok dijadikan oleh-oleh.

#4 Bakpia Malioboro Jogja yang tidak jelas asal-usulnya

Bakpia memang dikenal sebagai oleh-oleh khas Jogja yang paling aman untuk dibawa pulang. Namun, bukan berarti kalian bisa memilihnya secara sembarangan. Hindari membeli bakpia tanpa merek dan asal-usul yang jelas. Meski biasanya dijual dengan harga lebih murah, kualitas rasanya sering kali mengecewakan. Bahkan, bakpia “curah” yang dijual kiloan sebaiknya dipikirkan lagi sebelum dibeli.

Kalau ingin membawa bakpia sebagai oleh-oleh, ada baiknya memilih toko atau merek yang sudah terpercaya. Memang harganya cenderung lebih mahal dan sering jadi incaran banyak orang, tapi soal rasa dan kualitas biasanya jauh lebih terjamin.

Selain itu, perlu juga mempertimbangkan pilihan bakpia kukus. Meski teksturnya lembut dan rasanya disukai banyak orang, tidak sedikit yang meragukan kelayakannya sebagai oleh-oleh khas Jogja. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa bakpia kukus lebih mirip bolu kukus daripada bakpia tradisional, sehingga dianggap kurang merepresentasikan kuliner asli Jogja. Salah satu tulisan Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja.

Itulah beberapa makanan dan barang yang banyak dijual di sepanjang Jalan Malioboro Jogja yang sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum dijadikan buah tangan. Bukan berarti oleh-oleh tersebut tidak layak atau tidak enak, melainkan karena selera setiap orang berbeda-beda. Jadi, akan lebih bijak jika kalian menyesuaikan pilihan oleh-oleh dengan siapa yang akan menerimanya, agar lebih berkesan dan tepat sasaran.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan  dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version