Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menangis sambil Ngecek KK karena Becandaan Jahat ‘Kamu Anak Tetangga’

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
9 Januari 2020
A A
anak tetangga anak orang lain becandaan orang tua dark joke tes dna cek kk mojok.co

anak tetangga anak orang lain becandaan orang tua dark joke tes dna cek kk mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Hampir semua anak pernah ambyar gara-gara dark joke bahwa ia sebenarnya anak tetangga, anak paman, atau anak orang lain. Buat orang tua sih lucu, tapi bagi anak-anak ketakutan beneran kalau-kalau dia emang diadopsi 🙁

Suatu hari saat sedang cangkruk, kawan saya pernah membongkar kebodohannya sendiri karena mengorek buku nikah orang tuanya saat SD. Dia pun cari akta kelahirannya diam-diam lalu perlahan mencocokan semua tanggal di dokumen kenegaraan tersebut. Tak lupa, dia cari kartu keluarga karena dia tahu semua data harus sinkron.

Iklan

Teman saya berubah jadi detektif hanya karena dibercandai ibunya sendiri dengan kalimat, “Kalau ternyata kamu anaknya pakdhe, gimana? Kamu tetap mau panggil ‘ibu’ nggak?”

Saat sudah besar dia makin sebal karena tahu bercandaan itu nggak lucu blas buat dia yang masih SD. Malah bikin dia hampir nangis.

Kasus yang terjadi pada saya malah lebih kocak. Suatu hari tante saya pernah mengobrol tentang kemungkinan bayi tertukar kepada saya yang masih SD. Katanya, semua bayi itu wajahnya hampir sama dan kadang petugas rumah sakit nggak ngeh dengan orang tuanya. Bayi yang setelah dilahirkan kemudian dibawa ke ruangan khusus itu kemungkinan besar bisa tertukar satu sama lain.

Tante saya memang nggak bilang tentang kemungkinan saya tertukar saat masih bayi. Tapi saya jadi mikir sendiri jangan-jangan saya aslinya anak orang lain. Berbekal hati deg-degan, saya pun menanyakan soal bayi tertukar kepada ibu saya. Dengan santai ibu saya jawab, “Lah, ya nggak mungkin! Wong tiap bayi itu dikasih gelang, dimasukin boks yang ada nama orang tuanya. Bidan dan dokter itu sudah profesional.”

Awalnya saya nggak percaya dan pengin suatu saat tes DNA buat meyakinkan. Lama-lama saya merasa bodoh sendiri. Sialan.

Saya bersyukur, orang tua saya bukan tipe iseng yang bilang anaknya sendiri anak orang lain. Kalau nggak saya sudah kayak kawan saya yang ngobrak-abrik dokumen kenegaraan sambil mrebes mili. Tapi guyonan semacam ini dilontarkan berulang-ulang oleh tante saya, sepupu saya, bahkan kawan saya lainnya yang sok tahu. Adik saya pernah dibilangin sama eyang saya kalau aslinya dia anak bule. Setelah itu dia nangis kejer. Adik saya belum nalar kalau rambut hitam dan mata cokelat adalah bukti otentik dia nggak punya darah kaukasia.

Di satu sisi, guyonan macam ini memang lucu banget buat orang dewasa. Betapa menyenangkan melihat anak sendiri menangis karena takut kehilangan bapak ibunya, sebuah cara ngetes rasa sayang yang sungguh absurd. Tapi bagi anak kecil yang sedang polos-polosnya, bercandaan begini selalu mengerikan. Bikin mereka mewek dan bertindak aneh-aneh. Nggak salah kalau guyonan ini muncul dari sisi gelap manusia, dark joke level orang tua.

Gimana coba kalau becandaan ini didenger anak adopsi beneran. Pasti perih bukan main.

Saya nggak tahu apa yang memengaruhi para orang tua kompak ngerjain anaknya pakai cara begini. Tapi saya bisa menduga kalau ini semua salahnya RCTI, Indosiar, dan SCTV. Lagian mereka bikin sinetron yang kebanyakan jalan ceritanya begitu. Biasanya si pemeran utama aslinya anak orang kaya. Sementara si anak orang kaya aslinya anak orang miskin, tapi dia pantas menerimanya karena dia jahat. Dih, gitu aja terooos sampai Donald Trump masuk Islam.

Kalau aja waktu kecil dulu kita lebih cerdas, mestinya para orang tua perlu dibalas dengan lebih kejam. Dengan pura-pura tes DNA dan ngabarin kalau kita emang anak yang tertukar, misalnya. Nangis, nangis, dah.

BACA JUGA Masa Terbaik di Sekolah Jatuh kepada Kelas 2 SMP dan Kelas 2 SMA atau artikel AJENG RIZKA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2020 oleh

Tags: anak adopsibercandaorang tua
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.