Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kangen Mruput ke Warung Fotocopy dan Mampir ke Kantin Sekolah buat Isi Ulang Energi

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
19 Juli 2021
A A
ilustrasi Kangen Mruput ke Warung Fotocopy dan Mampir ke Kantin Sekolah buat Isi Ulang Energi mojok.co

ilustrasi Kangen Mruput ke Warung Fotocopy dan Mampir ke Kantin Sekolah buat Isi Ulang Energi mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Merindukan saat mruput ke warung fotocopy terdekat dan haha-hihi di kantin sekolah adalah sejauh yang bisa kita kenang setelah setahun libur.

Pagi ini kontak tidak dikenal tiba-tiba mengirimi saya WhatsApp, menagih beberapa persyaratan administrasi untuk wisuda oline akhir bulan nanti. Betul, itu nomor akademik jurusan, membuat saya ingat saya masih tercatat sebagai mahasiswa dan harus menuntaskannya. Proses ini membuat saya perlu menyusuri warung fotocopy terdekat pagi-pagi sekali. Masa PPKM begini bikin semua terasa sunyi, termasuk tempat-tempat makan. Warung fotocopy dan kantin sekolah, sejauh ini kedua tempat itu menyimpan kenangan manis yang wajar jika dirindukan.

Iklan

“Mas, beli CD-R.” Pinta saya ke mas-mas warung fotocopy setelah saya memarkir motor.

Warung fotocopy itu tampak sepi, cuma saya yang datang. Mas-mas fotocopy, sebelum saya datangi tengah ngobrol dengan bapak-bapak yang sedang mainan burung. Burungnya dalam sangkar. Masa sih harus diperjelas…. Tiga komputer, tiga printer, semua tampak sudah standby dan siap digunakan.

“Sepi banget nggak, Mas, belakangan?”
“Woh ya jelas, Mbak, sekarang tugas semuanya onlen.” Jawab si mas-mas fotocopy sambil curhat.

Sebenarnya saya juga ngawur, kok berani-beraninya bertanya perkara yang sudah jelas jawabannya. Pergeseran metode pembelajaran plus pandemi bikin warung-warung fotocopy terdekat dari kampus gugur satu demi satu. Beruntung, saya masih menemukan warung fotocopy yang tangguh begini, tetap buka pagi. Tanpa disadari, warung fotocopy ini jadi penyelamat wisuda saya yang sudah tertunda setahun.

Ketika kuliah di Malang dulu, saya punya kenangan yang agak memalukan dengan warung fotocopy. Mulai dari sering utang sampai request aneh-aneh kayak minta diajarin bikin daftar isi dan berkali-kali gagal nge-print cover CD. Bimbingan skripsi itu dulu adalah masa paling deg-degan selain ujiannya. Saya selalu melewatkan satu hari sebelum bimbingan skripsi dengan berdoa khusyuk, biar dosen saya punya mood bagus dan bimbingan berjalan lancar. Syukur-syukur kalau cepat dapat ACC. Sebagai bocah last minute, saya juga kerap kejar-kejaran sama deadline dan datang mruput ke warung fotocopy terdekat dari kampus. 

Pagi pukul 06.00 warung fotocopy sudah buka, saya sering jadi pelanggan pertama dan membelah udara dingin Kota Malang. Dingin-dingin begitu, saya juga nantinya bakal berkeringat karena grogi, kejar-kejaran sama waktu kuliah jam pertama, kadang grogi karena mau ketemu dosen dan bimbingan skripsi. Lama-lama, saya merasa jadi anak angkat pemilik kost yang setiap pagi ngecek performa printer. Bahkan saya yakin di ujung masa kuliah S-1 saya lebih lama menghabiskan waktu di warung fotocopy daripada di warung kopi.

Sebagai mahasiswa yang nggak punya printer, saya juga masih punya siasat berhemat. Dulu, banyak warung fotocopy yang juga memperbolehkan mahasiswa bawa kertas sendiri. Jadi, kami cuma perlu bayar biaya tintanya, irit, Sob.

Selain soal fotocopy yang lekat dengan masa kuliah, ada kalanya saya rindu sekolah, walau usia saya mungkin malu buat sekadar mengingat apa itu masuk kelas. Ada perasaan iba ke adik-adik tingkat, ke mahasiswa baru yang masuk kuliah saat pandemi dimulai. Pun dengan adik-adik yang masih sekolah. Betapa menikmati bolos ke kantin sekolah, mengobrol tentang pasangan baru di kelas sebelah, dan hal-hal gayeng lainnya cuma bisa ditemui kalau ada kegiatan tatap muka.

Kantin sekolah, dan kantin kampus tentunya, adalah saksi bisu saat mencari ilmu terasa lebih melelahkan daripada menjadi beban orang tua. Tas yang berat, laptop jadul yang lemot, dan segala hal yang kita bawa terasa kayak beras sekarung, dan itu perlu diletakkan bersamaan dengan keluh akibat nilai yang buruk. Pesan Indomie sebungkus dan es teh adalah pilihan paling favorit, lebih dari cukup buat isi ulang energi yang terkuras. Dengan dua menu itu, semua siswa dan mahasiswa bisa menaklukan dunia.

Siang ini, saya yang terpaksa menyusuri kampus buat menyerahkan berkas justru merasa pengin nangis waktu melewati kantin. Timbang warung fotocopy terdekat yang saya lewati tadi, kantin kampus seperti bangunan yang gema kenangannya saja sudah hilang. Padahal, dulu tempat itu adalah wadah buat melantaikan dosa-dosa gibahin dosen, gibahin teman sendiri, dosa-dosa mengaku tidak belajar padahal nilainya bagus, dan dosa-dosa sambat menimba ilmu. Saya yakin kantin-kantin sekolah juga sama sunyinya. Tidak ada lagi siasat-siasat bocah berseragam putih abu-abu untuk membolos dan melepas penat usai ulangan fisika dengan ngemil gorengan, ngambil tiga bayarnya satu.

Saya pikir tidak apa-apa jika kita merasa rindu dengan masa yang lalu. Meski pada akhirnya ya cuma sebatas mengenang yang bisa kita lakukan. Semoga lekas pulih, keadaan.

BACA JUGA Nostalgia Pacaran di Koridor, Taman, dan Kantin Sekolah: Mana yang Lebih Nyaman? dan tulisan AJENG RIZKA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2021 oleh

Tags: kantin sekolahMahasiswamasa sekolahnostalgiatugas kuliah
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.