Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jokowi dan Tarif Listrik PLN Menjebak Rakyat dalam Kebingungan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
11 Juni 2020
A A
Jokowi the new normal parif listrik PLN IndiHome pandemi corona gelombang 2 MOJOK.CO

Jokowi the new normal parif listrik PLN IndiHome pandemi corona gelombang 2 MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pola-pola pelat merah ini sama, bukan. Jokowi yang main rahasia, PLN yang cuek, dan IndiHome yang maksa.

Selama dua bulan terakhir, saya menantikan betul saat-saat “gelombang 1” pandemi corona di Indonesia selesai. Paling nggak, kita bisa melihat indikasinya lewat curva pandemi corona yang setiap hari diperbaharui. Apa pasal? Kalau gelombang 1 selesai, paling nggak, di dalam kepala saya, situasi sudah “lebih aman” untuk apelin istri di Surabaya.

Iklan

Ya maaf, sudah dua bulan lebih saya nggak ketemu istri. Dengan sabar, saya dan istri, menantikan melandainya curva pandemi dan pengumuman selesainya gelombang 1. Namun, hingga awal Juni 2020, harapan kami kok kayanya akan sia-sia belaka. Sampai awal Juni, curva pandemi masih terus menanjak. Kalau kayak gini, selesainya gelombang 1 cuma mimpi saja.

Namun, memang, Jokowi ini sungguh baik hati. Nggak pernah bosan “ngasih” kejutan untuk rakyatnya. Negara, kok, sukanya ngasih surprise ke rakyatnya. Ini negara kok “so sweat” banget. Iya, kejutan dari negara, bukannya terasa manis di dalam hati, justru bikin takut sampai berkeringat dingin. Kejutannnya, sih, sukses bikin terkejut. Terkejut, untuk kemudian geram, lalu pengin misuh.

Selasa (10/6), out of nowhere, no one, literally no one, but Jokowi, tiba-tiba mengingatkan rakyat. Jokowi bilang, menjelang transisi ke “the new normal”, jangan sampai kita semua menyebabkan datangnya gelombang 2 pandemi corona. Terdengar heroik, ya? Beliau bilang begini:

“Perlu saya ingatkan, jangan sampai terjadi gelombang kedua atau second wave. Jangan sampai ada lonjakan. Itu yang ingin saya ingatkan kepada kita semua,” kata Jokowi saat mengunjungi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di gedung Graha BNPB, seperti dikutip oleh beritasatu.com.

Maaf, ya Pak Jokowi, maaf sekali. Begini, Pak, kalau boleh saya bertanya, kapan ya gelombang 1 resmi selesai? Bukankah negara ini suka banget sama selebrasi dan perayaan. Masak, sih, “keberhasilan” pemerintah menyelesaikan gelombang 1 nggak dirayakan? Nggak dibikinkan tagar sampai trending topic sama buzzer-buzzer yang manis itu.

Kalau nggak dirayakan, nanti keberhasilan pemerintahan Jokowi diklaim orang lain, lho. Saya cuma mengingatkan saja, Pak. Ayolah, potong pita atau pesta kembang api itu minimal, Pak. Masak adem ayem dan terasa bijaksana sekali, sih. Selesainya gelombang 1 itu prestasu, lho Pak. Artinya, kita bisa masuk ke program herd immunity, eh salah, maksud saya, the new normal.

Atau paling nggak bikin poster dan baliho, Pak. Nanti foto Pak Jokowi dibuat mendominasi, paling besar. Tulisan: “Selamat atas berakhirnya Gelombang 1 Pandemi Corona” kecil saja. Biar nggak nyaingin gelombang tes pendaftaran CPNS, Pak. Ilustrator Mojok pasti dengan senang hati mengerjakan baliho itu secara pro-bono.

Tapi, sebentar, Pak Jokowi, setelah saya cek lagi, curva pandemi corona kok belum turun, ya? Kalau melihat datanya, curva pandemi corona itu masih menuju puncak gemilang cahaya, Pak. Macam Akademi Fantasi Indosiar. Entar kalau Pak Jokowi mau cabut dari Istana Negara di akhir masa mengabdi kepada rakyat, keluarnya bawa koper, ya.

Curva pandemi belum turun, tapi kok kita udah masuk gelombang 2. Ahh, maaf kalau saya lancang, Pak. Di negara ini, negara dan “wong ayu” selalu benar, ding.

Perlahan-lahan, saya jadi maklum, kalau Bapak mendiamkan rakyat di tengah kebingungan. Bingung, ini gelombang 1 kapan selesainya, eh udah mau gelombang 2. Mending, Pak, kalau cuma ketinggalan season 1 The World of The Married udah muncul season 2. Bisa diulang, nonton dari awal. Kalau corona? Apa ya mau merasakan dulu dari awal gelombang 1?

Saya agaknya paham maksud Pak Jokowi mendiamkan rakyat. Kalau nggak tahu, rakyat kan jadi nggak tanya macam-macam. Kalau nggak tanya macam-macam, nggak ada yang namanya kritik. Kalau nggak ada kritik, nggak ada yang bikin status FB lalu kena pasal makar. Kalau nggak ada kritik, pemerintah kan kerjanya nyaman. Begitu, Pak?

Pola kayak gini bikin saya jadi maklum kalau PLN ya cuek sama anomali kenaikan tarif listrik. Tinggal bilang saja kalau PLN nggak ada program menaikkan tarif listrik. Titik. Sudah, begitu saja. Biarin saja tukang las kena tarif 20 juta. Entar juga pada lupa. Selain negara cuek, Indonesia kan negara pelupa. Santuy aja.

Iklan

Ahh, saya jadi teringat IndiHome, yang mengharuskan calon pelanggan untuk “sewa modem”. Iya, modem dari IndiHome itu cuma disewain, per bulan Rp80 ribu. Padahal, harga modem itu cuma Rp300 ribu. Empat kali bayar, lunas itu modem. Tapi tidak, tidak. IndiHome mengharuskan kita sewa.

Kalau mau pakai modem sendiri, petugasnya ngambek. Katanya udah bundling, udah satu paket. Harus pakai modem mereka. Pola-pola pelat merah ini sama, bukan. Jokowi yang main rahasia, PLN yang cuek, dan IndiHome yang maksa. Di satu sisi saya bangga, orang pemerintah ini kompak sekali, ya. Salut, saya.

Yah, begitulah nasib rakyat. Antara biasa dibohongi, dicuekin, dan dipaksa. Kalau ngeyel, dianggap makar, padahal cuma kritik. Kalau ngeyel, dihantam sama buzzer. Udah, terima aja nasib rakyat. Di sini, nggak ada yang gratis. Lha wong mati saja bayar.

BACA JUGA Rakyat Protes New Normal, Pemerintah Berlalu atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: gelombang 1 coronaIndiHomejokowipandemi coronaPLNtarif listrik PLNthe new normal
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.