Jangan Lupa, Iklan Shopee BLACKPINK Lahir dari Idiot Box

MOJOK.CO KPI menegur 11 stasiun televisi karena menayangkan iklan Shopee BLACKPINK. Padahal, perlu kita ingat, iklan ini kan munculnya di idiot box, mylov!

Dalam idiom Australia, televisi disebut sebagai idiot box. Istilah ini muncul karena televisi dianggap sebagai alat propaganda masyarakat. Apa pun yang ditampilkan di televisi selalu tampak nyata, meski sebenarnya cuma acara penuh skenario, termasuk reality show yang ceritanya orang-orang pada putus cinta atau selingkuh itu. Secara sederhana, televisi bisa menjadi senjata yang membuat orang-orang saling membenci.

Siapa sangka, ‘keidiotan’ televisi kini benar-benar terjadi. Munculnya petisi pencekalan iklan Shopee yang menampilkan BLACKPINK sebagai bintangnya adalah bukti. Si penulis petisi dan pendukungnya mempermasalahkan apa yang dikenakan keempat member BLACKPINK sebagai apa yang disebut “jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab” dan—pada akhirnya—berhasil menemui pihak KPI.

Kabar terakhir, KPI disebut melayangkan teguran keras pada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan Shopee BLACKPINK tersebut.

[!!!!!!11!!!!1!!!!]

Tu-tunggu, apa saya baru menyebut pembuat petisi tadi idiot? O, tentu tidak. Saya sedang menyoroti keidiotan idiot box dan kita semua. Ramai-ramai iklan Shopee BLACKPINK yang minta dicekal pun mengundang tanya saya yang paling sederhana: memang segala hal yang asing dan berbeda ini harus dilawan dan dicekal, ya?

Loh, tapi ini kan berhubungan dengan nilai-nilai Pancasila dan objektifikasi perempuan!!!!!11!!!1!!

Memangnya iklan-iklan yang lain sudah memuat nilai-nilai Pancasila? Apa kabar iklan snack yang tariannya sambil gerak-gerakin kaki mengangkang lebar-lebar? Memangnya kalau mau makan snack harus ngangkang dulu, gitu? Apa kabar juga iklan kipas angin dan pompa air yang mbak-mbaknya sampai basah-basahan dan meliuk-liuk? Biar apa kayak gitu? FYI saja, kedua iklan ini asli produk lokal yang berbudaya ketimuran dan punya Pancasila, bukan dari negara-negara Eropa, Amerika, apalagi negara member BLACKPINK.

Tapi, selain protes soal BLACKPINK, pendukung petisi ini juga mengajukan keberatan soal acara televisi yang lain, kok, ke KPI!

Langkah yang bagus, tentu saja, dan patut diapresiasi. Di saat bersamaan, masyarakat juga dibuat bertanya lagi: sudahkah tayangan yang lain dicekal dan ditegur KPI? Kenapa harus nunggu iklan Shopee BLACKPINK dulu? Apakah ini ada hubungannya dengan video viral anak SD yang takut disuntik dan malah menyanyikan lagu BLACKPINK saat giliran suntiknya tiba, alih-alih ayat-ayat kitab suci atau apapun yang berbau agama?

Entahlah, tapi saya dengar beberapa orang dewasa mulai tidak suka mendengar anaknya berdendang lagu BLACKPINK setelah petisi ini mencuat. Sampai sini, benarlah sudah makna idiot box pada kasus iklan Shopee BLACKPINK: ia membuat beberapa orang membenci orang-orang lainnya.

[!!!!!!11!!!!1!!!!]

Padahal, petisi ini menurut saya justru tak kalah mengancam masyarakat Indonesia. Dari segi bahasa, misalnya. Dalam petisi, bisa-bisanya si pembuat menuliskan paragraf ini:

“Sekelompok perempuan dengan baju pas-pasan. Nilai bawah sadar seperti apa yang hendak ditanamkan kepada anak-anak dengan iklan yang seronok dan mengumbar aurat ini? Baju yang dikenakan bahkan tidak menutupi paha. Gerakan dan ekspresi pun provokatif. Sungguh jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab.”

Ada yang aneh? Kalau nggak tahu, biar saya tunjukkan: beliau menulis kata seronok dengan pemaknaan negatif.

Padahal, dalam KBBI, seronok memiliki arti menyenangkan hati dan sedap dilihat. Definisi ini jelas menempatkan kekesalan si pembuat petisi sebagai oksimoron belaka. Sayangnya, kesalahpahaman orang-orang terhadap kata seronok pun kian menjadi-jadi: seronok dianggap sebagai kata kotor yang maknanya negatif, bukan sebaliknya.

[!!!!!!11!!!!1!!!!]

Dalam paragraf lain di petisi, ada pula paragraf ini:

“Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja?”

Loh, loh, loh, kenapa sih anak-anak dianggap bakal berpikir bahwa menjadi seksi pasti menjadikan mereka terkenal hanya karena BLACKPINK tampil dengan rok mini di iklan Shopee???

Saya jadi ingat, sebuah stasiun televisi pernah menampilkan film luar negeri di masa liburan sekolah dasar. Karena film ini adalah film keluarga, tokoh yang disorot tentu bukan hanya anak-anaknya, melainkan juga orang tua si anak, lengkap dengan dinamika romansa keduanya. Ada momen mereka mendekatkan wajah dengan pandangan sendu penuh cinta (halah, ekspresi macam apa ini?!), lalu semakin dekat, dekat, dan…

…saya tidak tahu apa yang terjadi.

Ibu saya, yang memang sedari tadi duduk di sebelah, langsung memandangi saya, membuat saya balas memandangnya dan tidak melihat televisi. Raut wajahnya sedikit geli dan salah tingkah, tapi langsung bisa menguasai diri sendiri, “Tadi itu adegan untuk orang dewasa. Pelakunya sudah dewasa. Di budaya mereka, itu bisa saja dilakukan di depan orang banyak.” Tanpa penjelasan panjang-panjang, saya mengerti bahwa adegan itu jelas belum perlu saya pikirkan, apalagi saya masih lugu dan murni. Saya juga mengerti budaya kami berbeda.

Di lain waktu, saya iseng menonton Kuch Kuch Hota Hai. Tokoh wanitanya berpakaian minim, setidaknya jika dibandingkan dengan saya yang outfit-nya cuma mentok di baju bekas kakak dan celana kebesaran. Bapak saya yang ikut menonton pun berkata, “Baju Tina Malhotra bagus, ya? Baju kamu juga sudah bagus dan cocok. Bandonya Anjali bagus juga, itu boleh dicoba. Besok kita beli yang warna biru, ya.” Tanpa dimarahi, saya paham betul bahwa bapak saya tidak setuju jika saya berpakaian terbuka, tapi ia menginginkan saya memahami bahwa perempuan bisa menggunakan pakaian apa saja.

“Asal sopan,” tambah bapak saya. Dan saya setuju.

Lalu, kami menonton lagi. Bapak saya tidak marah setiap kali ada pakaian yang menurutnya terlalu minim di adegan berikutnya; ia hanya terus mengingatkan saya sekaligus menekankan televisi adalah idiot box yang tak melulu harus dipercaya dan ditiru.

Bagi saya, itu rasanya jauh lebih menyenangkan daripada tiba-tiba televisi kami dimatikan dan dicabut kabelnya gara-gara Tina Maholtra jalan-jalan sama Rahul pakai rok mini.

Exit mobile version