Harusnya hidup ini sederhana. Kau bangun, kerja, lalu pulang untuk mengistirahatkan badan yang kau siksa untuk gaji yang tak seberapa. Tapi itu semua masih bisa diterima, jika memang hidup sesederhana itu. Sayangnya, kamu hidup di Indonesia. Hidupmu tak pernah sederhana, dan kabar buruk disebar di tengah lelap. Kabar buruk tersebut menyambut pagimu dengan begitu antusias. Dan kabar buruk pagi ini adalah, harga pertamax naik.
Saya masih belum tidur di kala kabar tersebut mendarat di gawai saya. Selain misuh “matamu suwek”, reaksi saya adalah pusing memikirkan berapa uang yang harus saya keluarkan hanya untuk bensin seminggu.
Ini memang bukan kenaikan harga pertamax pertama yang bikin marah. Saya sudah pernah menulis hal ini tahun lalu. Tapi jujur saja, ini kenaikan paling memicu amarah karena kondisi ekonomi rakyat sedang tidak baik-baik saja, dan membuat uang makin tidak ada harganya.
Pada kenaikan sebelumnya, saya masih bisa membeli pertamax seharga 50 ribu dan cukup (atau lebih tepatnya, dicukup-cukupkan) untuk seminggu. Kini, 50 ribu hanya dapat 3 liter, yang jelas itu tidak cukup untuk saya yang harus pergi ke luar kota untuk bekerja.
Kepala saya tak bisa menerima kenyataan uang 50 ribu tak cukup untuk bensin seminggu. 6 tahun yang lalu, uang 50 ribu masih bisa dapat 5 liter pertamax turbo. Sekarang, bahkan untuk grade di bawahnya saja tidak cukup. Saya beneran nggak menyangka saya akan hidup di masa di mana uang 50 ribu menandakan bahwa kau miskin di POM bensin.
Harga pertamax naik, motor tersiksa
Bagi orang yang punya motor ber-CC besar (150 cc ke atas), pakai pertamax sebenarnya adalah harga mati. Memang masih bisa pakai pertalite, tapi biasanya efeknya dua: motormu tak bertenaga, atau malah rusak. Dan bisa jadi juga ada opsi ketiga, motor tak bertenaga, lalu lama-lama rusak. Yang jelas, tidak ada opsi menyenangkan.
Mungkin ini memang risiko punya motor besar. Tapi jujur saja, argumen tersebut tidak masuk akal. Sebab, dulu, harga bahan bakar nonsubsidi tidak semahal ini. bahkan ketika naik di angka 12 ribuan, meski tetap kembang kempis, itu masih terbeli. Tapi ketika pertamax naik ke 16 ribu seperti sekarang, membeli pertamax justru terlihat seperti keputusan bodoh.
Sekarang bayangkan seperti ini. Motor saya, PCX 150 2019, lawas, jika diisi pertamax, di harga lama waktu masih 9500-an (anggap saja segitu), hanya butuh 76 ribu untuk full tank. Ketika naik jadi 12 ribu, okelah, 96 ribuan udah full. Tapi kini, untuk full, butuh 128 ribu. 100 ribu lebih untuk full tank motor harian serasa goblok.
Bukan saya pelit, bukan saya tak sayang motor, tapi kenapa harga bahan bakar harus naik di masa cari uang sesusah ini? Kenapa harus kelas menengah yang menerima efek buruk dari semua-semua ini?
Kenapa, rakyat yang hidupnya susah untuk membaik, harus diberi ujian terus-terusan yang bikin kans hidup bahagia makin memudar?
Kita dihajar dari berbagai sisi
Saya tak mau peduli dengan argumen macam “kenaikan ini imbas ABCD”. Tidak, saya tidak mau peduli. Urusan kompleks seperti itu tak pernah jadi urusan saya. Saya, dan kalian yang baca tulisan ini, adalah korban dari kebijakan dari negara yang kerap dijalankan dengan manasuka.
Motormu butuh pertamax. Jika tidak pakai pertamax, performanya menurun drastis atau rusak. Tapi jika kamu nekat pakai pertamax, dompetmu akan terisak-isak. Mau dilihat dari sisi mana saja, saya, dan kalian, adalah korban.
Kamu terpaksa mengeluarkan uang lebih banyak untuk bahan bakar kendaraanmu. Kendaraanmu itu, kamu gunakan untuk bekerja, karena kau cukup punya otak bahwa bekerja adalah cara untuk dapat uang dan hidup layak. Tapi masalahnya, kau mengeluarkan uang lebih banyak, sedangkan penghasilanmu segitu-segitu saja.
Perusahaan tentu saja tak serta merta menaikkan gaji hanya karena pertamax naik. Tapi ini memang dari dulu bukan tanggung jawab perusahaan. Ini adalah tanggung jawab negara untuk mengatur harga bahan bakar agar tetap terjangkau untuk warganya, serta tanggung jawab negara untuk membuat aturan pengupahan yang layak untuk warganya.
Sedangkan kita tahu, perkara pengupahan, selalu ada argumen untuk tidak menaikkannya. Tiba-tiba bicara angka produktivitas, tiba-tiba bicara politik dunia. Tiba-tiba, memakai otak untuk menolak apa pun yang sekiranya bisa bikin upah naik.
Tapi di saat yang sama, rakyat diminta untuk berkontribusi lebih banyak. Pajak naik, tarif listrik naik, pertamax naik, dan apa saja naik. Yang tidak naik secara signifikan, tentu saja, upah.
Kita dicekik, perlahan, dengan dalih kontribusi untuk negara. Kita ditanya apa kontribusi untuk negara, seakan-akan kita adalah beban, meski kita tahu betul, siapa beban yang sebenarnya.
Ada yang harus turun
Hemingway senang menutup surat-surat pribadinya dengan frase “il faut d’abord durer” yang artinya, “di atas segalanya, orang mesti bertahan.” Saya pun mengamini tersebut. Harga pertamax naik, tapi di atas segala penderitaan ini, kita mau tak mau harus bertahan.
Entah bagaimana caranya, kita akan menemukan jalannya. Hanya saja, saya kira, kali ini tidak bijak untuk pasrah dan beradaptasi. Sebagai manusia, kita punya kemampuan untuk mengubah apa-apa agar hidup kita makin mudah. Pasrah itu bagus untuk perkara batin, tapi untuk urusan bertahan hidup, pasrah adalah kunci terbaik untuk gagal.
Harga pertamax naik, yang artinya, harus ada yang turun, atau kita paksa turun agar hidup tak makin berat. Pertanyaannya adalah, apa yang harus turun agar kita sebagai rakyat tidak mati tercekik oleh nafas sendiri?
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Satu Kata untuk Skandal Pengoplosan Pertalite Jadi Pertamax oleh Dirut Pertamina Patra Niaga: Bajingan! dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN
