Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Rabu malam, 26 Agustus 2026, saya membaca unggahan Desta dengan perasaan seperti orang yang baru menerima kabar teman lama pindah kota. Desta mengumumkan bahwa ia pamit dari Vindes Corp, perusahaan yang dia bangun bersama Vincent Rompies

Dia menyebut keputusan itu lahir setelah banyak pertimbangan dan meminta publik tidak membuat asumsi liar. Vindes kemudian menyatakan bahwa Vincent dan seluruh tim Saker akan melanjutkan perusahaan ke babak baru.

Saya sengaja menulis “Desta pamit”, bukan “Vincent dan Desta bertengkar”. Berita yang tersedia belum menunjukkan konflik pribadi tertentu. 

Desta justru menegaskan bahwa hubungan dengan keluarga besar Vindes tetap baik. Dia juga mengirim pesan khusus kepada Vincent dan menyebutnya saudara. Jadi, kalau ada yang bertanya kenapa mereka pecah, jawaban paling jujur hari ini: kita belum tahu alasan spesifiknya.

Kita hanya mengetahui bahwa Desta mengambil keputusan profesional setelah melewati pertimbangan panjang. Dia tidak menjelaskan apakah persoalan itu menyangkut arah kreatif, pembagian kerja, urusan bisnis, atau hal personal. 

Pembaca boleh mengajukan semua kemungkinan itu sebagai pertanyaan, tetapi kita tidak boleh mengubahnya menjadi kesimpulan. Dalam industri kreatif, dua sahabat bisa menjaga kasih sayang sekaligus mengakhiri kerja sama. Rupanya, persahabatan tidak selalu harus duduk satu meja setiap minggu untuk tetap berarti.

Prank Vincent dan Desta yang malah jadi kenyataan

Publik juga perlu mengingat satu hal. Pada Mei 2024, Vincent dan Desta pernah membuat video halal bihalal yang memainkan adegan seolah-olah mereka pecah kongsi. 

Karyawan Vindes ikut tegang, lalu sebuah kejutan membongkar bahwa mereka menyiapkan prank. Video itu menunjukkan kemampuan akting mereka, bukan alasan perpisahan yang sekarang. Kalau kita memakai prank sebagai bukti konflik, kita sama saja menonton film horor lalu menuduh hantunya ikut rapat direksi.

Talk show Vindes, talk show terbaik

Namun, sebelum saya ikut bersedih, saya perlu mengakui satu hal. Vincent and Desta Season 1 dan Season 2 merupakan salah satu podcast terbaik yang pernah hadir di Indonesia. Saya tidak mengatakan itu demi basa-basi setelah kabar perpisahan. Saya mengatakannya karena saya menikmati setiap kekacauan kecil yang mereka ciptakan.

Playlist resmi YouTube mencatat Season 1 dengan 80 episode dan Season 2 dengan 110 episode. Angka itu memberi kita 190 alasan untuk duduk, memakai earphone, lalu membiarkan dua orang ini mengacaukan suasana hati dengan cara yang menyenangkan.

Season 1 Vindes terasa seperti pintu masuk ke tongkrongan yang tidak mengenal istilah “terlalu biasa”. Vincent dan Desta mengundang musisi, komedian, aktor, sampai teman lama. 

Mereka bisa membahas karier, musik, dan hidup, lalu tiba-tiba melompat ke candaan yang tidak punya hubungan dengan topik awal. Anehnya, lompatan itu tidak terasa mengganggu. Justru di sana letak kenikmatannya. 

Vincent membawa ketenangan yang sering menyembunyikan lelucon. Sementara itu, Desta, membawa energi yang bisa mengubah kalimat sederhana menjadi perkara nasional.

Season 2 membuat keakraban itu terasa semakin matang. Mereka tidak sekadar mengajukan pertanyaan kepada bintang tamu. Mereka mengajak tamu masuk ke dalam permainan, saling mengejek, dan membuka cerita yang biasanya tidak muncul dalam wawancara formal. 

Saya bisa melihat bagaimana pengalaman puluhan tahun berteman membuat mereka membaca jeda, tatapan, dan nada suara satu sama lain. Mereka tidak perlu menjelaskan semua lelucon. Mereka cukup saling melirik, dan saya sudah tahu kekacauan berikutnya segera datang.

Tampil beda

Di situlah Vindes berbeda. Banyak podcast menghadirkan studio rapi, daftar pertanyaan, dan jawaban yang terdengar aman. 

Vindes menghadirkan dua manusia yang tampak lupa bahwa kamera sedang menyala, meski sebenarnya mereka tahu persis cara menghibur penonton. Mereka memberi ruang kepada tamu, tetapi tidak membiarkan percakapan kehilangan nyawa. 

Survei IPWS yang melibatkan 1.429 responden bahkan menempatkan VINDES di urutan keempat podcast favorit masyarakat Indonesia dengan 4,7%. Bagi saya, angka itu hanya mengonfirmasi apa yang sudah saya rasakan. Mereka punya tempat penting dalam sejarah podcast Indonesia.

Saya menikmati Season 1 dan Season 2 bukan karena setiap episodenya selalu sempurna. Kadang candaan mereka terlalu internal. Kadang obrolannya berputar seperti motor mencari alamat kos. Tetapi saya justru menyukai ketidaksempurnaan itu. 

Saya kangen perasaan ketika satu episode menemani perjalanan, pekerjaan, atau malam yang terlalu sepi. Saya kangen mendengar Vincent dan Desta bertengkar kecil, tertawa besar, lalu mengakhiri percakapan tanpa kesimpulan yang sok bijak.

Sayang sekali Desta mundur dari Vindes

Karena itu, saya menyayangkan perpisahan ini. Vindes mungkin tetap hidup. Vincent dan tim Saker tentu bisa menghasilkan karya baru. 

Namun, orang tidak bisa memindahkan chemistry lewat dokumen serah terima. Orang bisa mengganti sofa merah, kamera, bahkan nama program. Orang tidak bisa mengganti sejarah pertemanan yang membuat satu celetukan terdengar lucu.

Saya berharap publik menghormati keputusan Desta dan tidak memaksa mereka membuka pintu yang ingin mereka tutup. Saya juga berharap Vincent dan Desta tetap menemukan cara untuk bertemu, entah dalam episode spesial Vindes, panggung, atau sekadar video yang membuat kita kembali salah mengira prank sebagai perpisahan. 

Untuk sekarang, saya akan kembali ke Season 1 dan Season 2. Saya akan menekan tombol putar, tertawa sendirian, lalu pura-pura tidak sedih. Sebab beberapa podcast memang selesai, tetapi rasa kangen pendengarnya tidak pernah benar-benar tamat.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bersahabatlah Seperti Persahabatan Kocak Vincent-Desta dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version