ADVERTISEMENT

Hidup nelangsa dan nggak pasti di antara tingginya angka pengangguran jadi gambaran nasib sarjana S1 dan S2 di Kota Jogja

Derita lulusan S1 dan S2 yang hidup nelangsa di Jogja MOJOK.CO

Beberapa waktu yang lalu, saya berjumpa dengan kawan lama di Indomaret Seyegan. Kami menyelesaikan SMA dan kuliah di kampus yang sama di Jogja. Bedanya, saya lebih akrab dengan bolos dan nilai merah. Sementara dia, mulus sejak SMA, lulus cepat ketika S1, dan sudah menyandang gelar S2.

Kami berbincang agak lama di teras Indomaret sambil ngopi. Begitu melihat dia, saya pikir akan mendapatkan cerita yang super. Tentang mahasiswa pintar yang menyelesaikan studi S1 dan S2 di Jogja dengan sangat cepat. Namun nyatanya, roda nasib tak berputar sesuai cita-cita.

Saya beruntung sudah bekerja di Mojok sejak 2018. Sementara kawan saya ini, hidupnya masih tidak menentu. Masih kos di Kota Jogja, tanpa pekerjaan tetap, dan hidup dari gaji ke gaji yang nominalnya tak pernah jelas dan pasti.

Dia tidak menyalahkan keadaan. Kota Jogja memang begini kepada lulusan S1 dan S2. Nggak semua lulusan bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan gaji bagus. Mereka yang pandai di pelajaran, nyatanya bisa kalah di kehidupan nyata. Jadi, pada akhirnya, dia menyalahkan diri sendiri. Kalau kata orang sekarang: wong kalahan.

Sebagai orang asli Kota Jogja yang sudah lama menetap di Sleman, saya turut prihatin. Namun, begitulah hidup. Tak ada yang benar-benar tahu. Demi sebuah pengingat, saya minta izin untuk menuliskan isi kepala dan hati kawan saya. 

Sebagai pengingat bagi kamu semua, lulusan perguruan tinggi yang masih bertarung dengan ketidakpastian hidup. Inilah kisah kawa saya.

Ijazah S1 dan S2 di Jogja bukan jaminan hidup sejahtera   

Bagi saya, dua ijazah di dalam map kusam di kamar kos tidak pernah menjamin hidup yang pasti. Akhir 2008, saya menggondol gelar sarjana dari salah satu universitas besar di Jogja. Tiga tahun kemudian, saya menambah satu gelar lagi: magister. 

Kini, di usia yang semestinya sudah mapan, saya masih menghitung sisa saldo setiap tanggal 15, masih menawar harga kamar kos, dan masih menolak ajakan ngopi kawan lama karena resah hati ini melihat raut wajah kaget mereka ketika melihat saya “gagal”.

Orang menyebut kota ini “Jogja” dengan nada lembut. Seolah kota ini menampung semua orang dan semua impian. Saya termasuk orang yang menetap setelah wisuda karena satu alasan sederhana. Saya tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Sekian tahun kemudian, alasan itu belum juga berubah.

Kota seribu kampus dan tumpukan ijazah

Jogja memang layak menyandang gelar kota pelajar. Bappeda DIY mencatat 126 perguruan tinggi berdiri di provinsi ini per Oktober 2023, dan 51 di antaranya menempati Kota Jogja, wilayah paling kecil se-DIY. Iya, wilayah kecil ini sesak oleh lulusan S1 dan S2.

Total pelajar dan mahasiswa di DIY mencapai 640.658 orang pada tahun yang sama. Setiap tahun, kota ini melepas puluhan ribu lulusan baru ke pasar kerja. Sebagian dari mereka pulang ke kampung halaman masing-masing. Sebagian lagi, seperti saya, memilih tinggal.

Kabar buruknya, pasar kerja di kota ini tidak menampung semua orang dengan mulus. Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Yogyakarta sebesar 5,8% pada 2024. 

Angka itu menempatkan kota ini di posisi tertinggi se-DIY, jauh melampaui Kabupaten Sleman (4,13%), Kabupaten Bantul (3,62%), Kabupaten Gunungkidul (2,16%), dan Kabupaten Kulon Progo (2,01%). Angka itu bahkan menembus rata-rata nasional sebesar 4,1%.

Kondisi itu nyaris tidak membaik pada 2025. BPS mencatat TPT Kota Yogyakarta sebesar 5,72 %, atau setara sekitar 12.473 jiwa. Sebagai pembanding, TPT DIY secara keseluruhan hanya mencapai 3,46% pada Agustus 2025. Artinya, kota ini menyimpan tumpukan penganggur yang jauh lebih padat daripada daerah-daerah sekitarnya.

Pengangguran menghantam usia paling produktif pemegang gelar S1 dan S2 di Jogja

Angka-angka itu makin menyakitkan ketika saya membedah siapa saja yang menganggur. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja mendata 2.336 pengangguran terbuka. 

Daftar itu menunjukkan fakta yang mengejutkan. Kelompok usia 35 tahun ke atas mendominasi daftar itu, bukan para lulusan baru S1 atau S2. Padahal, mayoritas penduduk kota ini, 65,53%, masih berada dalam kelompok usia produktif 15 sampai 59 tahun.

Plt Kepala Dinsosnakertrans Kota Yogyakarta Patricia Heny Dian menjelaskan bahwa dunia kerja justru lebih cepat menyerap para fresh graduate karena perusahaan lebih mementingkan tenaga muda demi mengejar keuntungan. Konsekuensinya, para pekerja yang menginjak usia kepala 30, padahal usia mereka masih produktif, menghadapi ruang gerak yang makin sempit.

Persoalan ini juga menyentuh para pemegang ijazah sarjana. Di tingkat nasional, BPS mencatat TPT tamatan universitas sebesar 5,39% pada 2025. Angka itu menempati peringkat tiga besar, di bawah tamatan SMK (8,63%) dan SMA (6,88%). Jadi, ijazah S1 maupun S2 tidak otomatis mengantar pemiliknya ke kursi kantor di Jogja ini.

Gaji nggak pasti, nasib setengah hati

Bayu (37), teman satu angkatan saya saat S2, kini mengajar di dua kampus swasta dengan status dosen paruh waktu. Dia menghitung penghasilan per SKS, bukan per bulan.

“Dua kampus memakai jasa saya mengajar, tapi nggak ada satu pun yang memberi saya kontrak tetap. Setiap akhir semester saya menunggu kabar: lanjut atau berhenti,” katanya kepada saya.

Gelar S2 tidak menolongnya. “Dulu saya menempuh S2 karena banyak orang meyakini gelar itu membukakan jenjang karier. Realitanya, saya lebih sering mengedit skripsi murid daripada menabung,” lanjutnya sambil tertawa setengah getir.

Nasib Ratri (29), saudara saya, pemegang gelar S1, tidak jauh berbeda. Perusahaan rintisan tempatnya bekerja tutup tahun lalu. Kini dia menjual kopi susu secara daring sambil sesekali mengikuti seleksi kerja. “Saya sudah mengirim ratusan lamaran. Beberapa perusahaan memanggil saya untuk tes, terus nggak ada kabar,” katanya.

Lho, kenapa nggak pindah saja dari Jogja?

Orang sering melontarkan pertanyaan itu kepada saya. Saya selalu menjawab dengan senyum lelah, karena jawabannya tidak sederhana.

Patricia menyebut satu fenomena unik di kota ini. Stigma bahwa warga Kota Jogja enggan keluar dari kotanya. Faktor keluarga memperkuat ikatan itu. 

“Kalau putranya hanya satu atau dua, orang tua pasti menahan,” katanya kepada Kompas.com, Senin (13/7/2026). Dari sekitar 2.300 penganggur dalam pendataan dinas itu, 800 orang bahkan sudah enggan bekerja. 

Angka itu menggambarkan semacam kelelahan kolektif. Jogja memanjakan penghuninya hingga mereka kehilangan keberanian untuk pergi.

Untuk saya, alasannya lebih sederhana. Saya sudah kadung nyaman. Saya mengenal jalanan-jalanan ini, memiliki teman-teman yang membagi nasib serupa, dan masih bisa bekerja secara lepas. 

Saya menulis, meneliti, mengajar sesekali. Hidup pas-pasan di Jogja masih lebih masuk akal daripada memulai dari nol di kota asing dengan biaya hidup yang mencekik.

Kepastian yang tak kunjung datang bagi pemegang ijazah S1 dan S2

Pada akhirnya, saya memilih bertahan. Bukan karena kota ini menjamin masa depan saya. Justru karena kota ini masih memberi saya alasan untuk berjalan, pekerjaan lepas yang datang dan pergi, warung kopi murah, teman-teman dekat yang saling menguatkan. 

Selama saya masih bisa membayar kos, membeli makan, dan sesekali mengirim uang ke orang tua, saya merasa hidup saya masih berjalan. Yah, meski arahnya tidak pernah jelas dan mungkin belum akan jelas dalam waktu dekat.

Ijazah S1 dan S2 memberi saya kebanggaan di mata keluarga. Tetapi di kota ini, kebanggaan itu tidak otomatis berubah menjadi kepastian. 

Jogja tetap memeluk semua orang. Termasuk para sarjana yang menganggur dan para magister yang menghitung gaji per SKS. Di sinilah kami hidup. Nggak pasti, tapi jalan terus.

BACA JUGA Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.