Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Cebong Tak Perlu Baper Kalau Kampanye Prabowo Dihadiri 1 Juta Orang di Senayan

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
7 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Para cebong pada gerah lihat kampanye Prabowo-Sandi di area Senayan dihadiri oleh 1 juta orang lebih. Dibilang berlebihan katanya. Ealah.

Betapa bahagianya Prabowo Subianto, Calon Presiden ketika mengetahui massa yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno begitu banyak. Kompleks Senayan pada Minggu (7/4) pagi dipadati lautan manusia dari berbagai daerah dalam rangka kampanye akbar Prabowo-Sandi.

“Panitia, berapa yang sudah dihitung hadir di sekitar Senayan? Berapa?” kata Prabowo.

Ketika sudah mendapat jawaban dari panitia, “Satu juta lebih!” kata Prabowo semangat. Prabowo lalu bercerita bahwa orang sebanyak itu tidak hadir karena dibayar. “Bahkan tadi saya di mobil saya yang dikasih uang oleh rakyat,” katanya.

Hiks, benar-benar mengharukan ya, Pak. Jadi baper nih.

Angka itu nggak main-main banyaknya lho. Sebagai perbandingan saja, penduduk Kota Yogyakarta saja total hanya berjumlah 417 ribuan per tahun 2017. Edyan kan? Sama orang yang hadir di area Senayan untuk menghadiri kampanye Prabowo-Sandi aja setengah nggak sampai lho. Warbiyasa.

Namun, bukan Pak Prabowo kalau apa-apa yang diucapkan selalu dinyinyirin oleh cebong atau TKN Jokowi-Ma’ruf. Usai mengklaim kampanyenya dihadiri 1 juta orang, Jubir TKN, Ace Hasan Syadzily menyampaikan bahwa angka tersebut terlalu berlebihan.

“Jangan terlalu berlebihan untuk menghitung jumlah yang hadir. Kapasitas GBK itu tidak sampai 150.000 orang. Jangan ngaku-ngaku hingga satu juta,” katanya ketus.

Hedeh. Iri aja deh.

Ace pun sebenarnya juga melakukan perhitungan sederhana untuk memperkuat argumentasinya bahwa klaim Prabowo 1 juta itu tidak benar.

“Kalau 1 meter per segi bisa untuk 2 orang, berarti kapasitasnya jadi 15 ribu plus running track 10 ribu orang. Artinya kapasitas full 100.000-110.000 orang. Kepotong panggung taruhlah 106.000. Melihat luar yang relatif kosong, taruhlah ada 10 ribu orang di luar. Total 116.000,” jelas Ace.

Namun tentu saja omongan ini tidak perlu diperhatikan. Selama ini memang banyak cebong sudah mengecilkan jumlah orang-orang yang demo baik ketika bela Islam maupun kampanye bela Prabowo-Sandi.

Kayak aksi super-duper-damai 212 yang dihadiri 7 juta umat atau Reuni 212 dihadiri 8 juta peserta dianggap cuma ratusan ribu orang.

Hedeh, yang begini ini kan cuma hitung-hitungan pakai rumus matematis fana buatan manusia. Makanya, hitungnya pakai mata batin dong sekali-kali. Gitu aja kagak paham. Benar-benar IQ 200 sekolam deh.

Iklan

Lagian angka 1 juta peserta kampanye Prabowo-Sandi kan tidak hanya dihitung di dalam stadion aja. Melainkan juga mereka yang hadir membanjiri area Senayan. Jadi kalau bikin perhitungan jangan setengah-setengah gitu. Main framing aja deh. Dasar media antek rezim.

Jika menghitung area Senayan plus Stadion GBK di dalamnya, sudah jelas kalau orang yang hadir bisa melebihi satu juta orang dong. Lha wong Reuni 212 yang di Monas dan luas areanya nggak seluas komples Senayan aja menurut Novel Bamukmin dihadiri 3-4 juta, sedangkan menurut Bernard Abdul Jabar 8 juta orang kok.

Walaupun kalau dihitung memakai perhitungan sederhana area yang padat dengan perhitungan 1 m2 bisa dimasuki 2 orang, hitung-hitungannya jadi hanya menyisakan 193 ribuan orang saja (dengan perhitungan longgar) sedangkan jika orang di sana berdiri tanpa menyisakan celah apa pun akan menghasilkan angka 772 ribuan orang kalau bikin aksi maksimal di Monas dan sekitarnya.

Jadi jelas, jika Senayan punya area kosong lebih luas ketimbang komples Monas dan sekitarnya, maka sudah pasti orang yang hadir di kompleks Senayan jauh lebih banyak lagi. Wajar dong, kan areanya lebih luas. Mana ada bangunan Stadion Gelora Bung Karno yang memiliki tribun. Makin banyak lagi pasti.

Anehnya, jika area Monas dan jalanan di sekitarnya saja beberapa pihak berani mengklaim orang yang hadir mencapai 3 sampai 8 juta jiwa, kenapa di Senayan yang lebih luas, Prabowo cuma mau menyebut 1 juta orang saja yang hadir?

Padahal secara perhitungan matematika dengan teori otodidak yang sudah dilabeli halal, harusnya kalau Prabowo menyebut 10 juta orang ya nggak apa-apa. Nggak masalah.

Lha gimana? Di area Monas dan sekitarnya aja biasa disebut 8 juta, ini komples Senayan yang punya lahan kosong lebih luas harusnya bisa lebih banyak lagi dong jumlah orangnya.

Hal ini justru menunjukkan betapa Prabowo dan tim suksesnya sebenarnya merupakan sekelompok manusia yang kelewat rendah hati. Tidak ingin melebih-lebihkan angka dukungan yang ada. Benar-benar idolak.

Jangankan mau melebih-lebihkan angka, mengecilkan angka dengan nyebut 1 juta orang aja udah banyak cebong-cebong kepanasan yang bilang kalau angka ini berlebihan. Celotehan-celotehan iri yang menjadi bukti kalau mereka nggak mampu ngumpulin massa sebanyak itu.

Kalau kayak begini, rasanya jadi kasihan deh sama para cebong.

Makanya, jangan apa-apa itu menggunakan akal dan perhitungan matematis yang sangat duniawi begitu. Sekali-kali pakailah hati, mata batin, atau ilmu laduni. Jangan mengandalkan perhitungan ala-ala teknik sipil buatan kafir itu. Nggak varokah. Hambock yackin.

Salam 1 juta, salam akal sehat. Yeah.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2019 oleh

Tags: 1 jutacebongGBKkampanye PrabowoPrabowo-SandisenayanTKN Jokowi-Ma'ruf
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
Akhir pekan indah di pusat Jakarta. Ajak bapak pertama kali nonton bulu tangkis langsung di Istora Senayan (Daihatsu Indonesia Masters 2026) MOJOK.CO
Ragam

Akhir Pekan Indah di Pusat Jakarta: Ajak Bapak Pertama Kali Nonton Bulu Tangkis di Istora, Obati Kesepian di Masa Tua

24 Januari 2026
Cerita kecil nan hangat di tengah gemuruh bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan MOJOK.CO
Ragam

Cerita-cerita Kecil nan Hangat di Tengah Gemuruh Istora, Orang Tua dan Anak Saling Memperjuangkan Masa Depan

21 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO
Catatan

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.