Bikin Video Kucing Dicekokin Ciu Itu Riset yang Nggak Masuk Akal!

Bikin Video Kucing Dicekokin Ciu Itu Riset yang Nggak Masuk Akal! MOJOK.CO

MOJOK.COSeseorang bikin riset di media sosial untuk melihat respons netizen. Tapi yang dipakai sebagai bahan riset malah video kucing dicekokin ciu. Hadeeh, kan nganu, ya~

Pagi tadi saya memulai hari dengan scroolscrool timeline Twitter. Kaget, sulit memahami, dan marah ketika saya menonton video yang berasal dari Instastory dari akun Instagram @azzam_cancel tentang seseorang yang mencekoki seekor kucing berbulu abu-abu yang tengah sekarat dengan ciu. Bagaimana bisa ada seorang manusia seperti telah kehilangan hati sehingga bisa melakukan hal demikian?

Tidak hanya saya, banyak netizen yang juga meluapkan kemarahannya. Marah pada pembuat video yang memperlihatkan gambar adegan demi adegan kucing dicekokin ciu dan detik-detik si kucing tersebut mati. Menjadi semakin gila ketika di akhir video tersemat caption, “Semoga kau tidak pernah tenang di alam sana… dendamlah padaku.” Wow!

Ketika kemarahan tersebut serentak menyerbunya, pemilik akun @azzam_cancel ini pun memberikan klarifikasinya. Salah satunya melalui akun Twitter @ortsbeer. Di situ ia mengawali klarifikasi dengan mengenalkan diri sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Yogyakarta sekaligus pemilik sebuah coffee shop. Azzam mengatakan bahwa ia membuat video tersebut dengan sengaja dan sudah dipikirkan baik-baik segala konsekuensi yang bakal ia terima.

https://twitter.com/ortsbeer/status/1184594550808956928?s=19

Katanya, skenario dan caption-caption yang ada di Instastory-nya itu bukanlah kejadian sebenarnya. Itu hanyalah cerita yang ia karang-karang sendiri untuk menguji reaksi netizen ketika dihadapkan dengan berita-berita yang berseliweran di media sosial. Apakah akan percaya dan menelannya mentah-mentah begitu saja? Ataukah sebaliknya, berusaha mengklarifikasi dan mencari tahu terlebih dulu untuk memastikannya?

Mohon maaf nih, mengarang-ngarang cerita sih, boleh-boleh aja. Tapi kan nggak kayak gini juga~

Usut punya usut, katanya sih, kucing tersebut sebetulnya sekarat bukan karena dicekokin sama ciu. Akan tetapi, karena si kucing telah memakan tikus yang mati karena diracun sebelumnya. Sehingga racun yang ada pada tikus juga masuk ke dalam tubuh kucing yang diaku milik temannya itu.

Kondisi kucing yang tengah sekarat karena terkontaminasi racun tersebut dimanfaatkan oleh Azzam sebagai bahan untuk bikin konten. Akan tetapi, mungkin supaya lebih mendatangkan perhatian akhirnya cerita tersebut digubah dengan imajinasinya sendiri. Seperti, menyebut air kelapa yang ia berikan sebagai ciu. Yang kemudian, menjadikan ciu sebagai penyebab utama kematian kucing tersebut.

Namun, kalaulah pernyataan klarifikasi Azzam itu benar adanya. Apa pantas ia bikin video dengan konten yang semacam ini? Jelas, ini sangat menganggu dan bikin tidak nyaman orang yang sedang menontonnya. Apalagi, apa yang ia lakukan itu seperti sama sekali tidak menghormati teman-teman lain yang sedang berusaha keras untuk mengajak masyarakat untuk berhenti melakukan kekerasan pada hewan. Bukannya ikut membantu menggalakkan kampanye ini, Azzam dengan video sampahnya justru seperti menantang perjuangan tersebut.

Meskipun kalau benar ia sama sekali tidak melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap kucing berbulu abu-abu yang lucu itu. Tetap saja, sama sekali tak ada sikap empati atau paling tidak simpati yang ia punya ketika di depannya ada hewan yang tengah kesakitan. Kalaupun ia telah berusaha menolong si kucing dengan air kelapa, tetap saja menjadikan adegan semacam ini sebagai konten video sungguh teramat sangat tidak pantas.

Azzam bilang ia siap dengan segala konsekuensi yang akan ia terima. Karena katanya, hal itu telah ia pikirkan baik-baik sebelum video tersebut di-share. Pun ia juga telah mengetahui risiko yang akan ia terima. Jadi, biarlah Azzam menerima respons-respons yang tidak menyenangkan tersebut. Seperti ia memilih menghadirkan video yang tidak menyenangkan bagi kita.

BACA JUGA Dear Pak Prabowo, Kucing Memang Teman Terbaik Ketimbang Manusia atau artikel Audian Laili lainnya.

Exit mobile version