Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Baru Nonton ‘Ikatan Cinta’ Aja Udah Protes, Mahfud MD Belum Pernah Lihat Sinetron Lainnya Sih

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
16 Juli 2021
A A
mahfud md
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Logika hukum di sinetron ‘Ikatan Cinta’ kata Pak Mahfud MD nggak pas. Lah kan itu sesuai realitas setting negaranya, Pak? Malah pas dong harusnya.

Ada berbagai cara agar pejabat mendapat tempat di hati rakyatnya guna meredakan tensi ketegangan. Terutama kalau masyarakat lagi pada sering uring-uringan dengan kelakuan pejabat-pejabat pemerintah kayak sekarang-sekarang ini.

Salah satu dari sekian banyak cara itu adalah cara yang dilakukan Mahfud MD: nonton Ikatan Cinta dan mengumumkan di akun personal Twitternya. Tidak hanya nonton, Mahfud MD juga mengomentari jalan cerita sinetron dengan rating paling fantastis di televisi Indonesia beberapa tahun ke belakang.

Nah, sebagai seorang mantan Hakim Konstitusi, Mahfud MD jadi ngerasa heran dengan logika hukum yang dipakai pada salah scene di Ikatan Cinta. Katanya, ada yang ndak mashoook pada adegan Elsa yang “disangka” (baca: jadi tersangka) pada pembunuhan Roy. Elsa tiba-tiba malah tidak jadi ditangkap polisi hanya karena Mama Sarah mengaku sebagai pelaku.

PPKM memberi kesempatan kpd sy nonton serial sinetron Ikatan Cinta. Asyik jg sih, meski agak muter-muter. Tp pemahaman hukum penulis cerita kurang pas. Sarah yg mengaku dan minta dihukum krn membunuh Roy langsung ditahan. Padahal pengakuan dlm hukum pidana itu bkn bukti yg kuat.

— Mahfud MD (@mohmahfudmd) July 15, 2021

Kicauan Mahfud MD yang tiba-tiba masyuk dari perspektif hukum ini memancing banyak komentar netizen—yang kebanyakan malah nyindir sih sebenarnya. Tapi oke, abaikan dulu sindiran-sindiran itu dan kita fokus saja dengan kritik Mahfud MD ke scene sinetron Ikatan Cinta saja.

Kritik Mahfud MD itu sebenarnya menunjukkan bahwa blio emang kayak gegar budaya dengan scene-scene sinetron Indonesia. Blio seperti berjarak dengan tontonan sehari-hari rakyatnya.

Ya itu, Pak, kualitas tontonan kita di tipi ya begitu itu. Kalau ada logika hukum yang ndak mashoook, ya mbok dimaafkan, lah wong di berita-berita nasional juga ada banyak pejabat atau praktisi hukum yang pakai logika hukum yang ndak mashoook kok. Sama aja ini. Sama-sama nggak beres penulis skenarionya.

Ke mana aja, Pak Mahfud? Baru pertama kali lihat logika cerita sinetron Indonesia yang naudzubillah beyond ya?

Duh, duh, sebagai penikmat sinetron, amatir sekali panjenengan ya Pak Mahfud. Padahal itu sampean baru lihat yang Ikatan Cinta, yang level absurdnya masih di takaran sedang, belum dengan sinetron lain yang kadang level absurdnya sundul langit. Bisa overdosis sampean lho, Pak.

Oleh, sebab itu, sebagai orientasi Pak Mahfud MD biar nggak kaget-kaget banget untuk menikmati sinetron Indonesia lainnya, ini kami tunjukkan adegan yang menggambarkan perkara absurd soal hukum yang ada di sinetron-sinetron Indonesia. Ospek tipis-tipis lah, Pak. Yok.

Suara Hati Istri: Zahra ganti muka

Kalau RCTI punya Ikatan Cinta, maka Indosiar pernah punya Suara Hati Istri: Zahra yang sempat viral beberapa bulan lalu. Sinetron itu sempat bikin geger karena ada adegan yang dianggap menormalisasi pernikahan di bawah umur.

Gara-gara adegan itu, Suara Hati Istri: Zahra dapat kecaman dari mana-mana. Petisi pun bermunculan agar sinetron ini dihentikan dari peredaran. KPI pun sempat berkomentar karena merespons kecaman penonton.

Namun alih-alih di-take down, sinetron Suara Hati Istri justru tetap melanjutkan tayangannya dengan cara mengganti pemeran Zahra dengan artis lain. Nah, di adegan agar tokoh Zahra bisa beralih artis inilah yang kemudian bikin logika absurd bermula.

Iklan

Jadi si Zahra ini diceritakan kecelakaan mobil, terus harus menjalani operasi di mana seluruh bagian wajahnya harus dioperasi. Dalam operasi yang tak berlangsung lama, dan pemulihan yang nggak nyampai berbulan-bulan (seperti selumrahnya operasi face off), tiba-tiba wajah si Zahra berubah.

“Nggak mungkin, nggak mungkin, ini bukan wajah saya, Dok,” kata Zahra di adegan absurd itu.

Nah, risiko persoalan hukum di luar produksi sinetron emang kayak udah kelar, tapi logika cerita di dalam sinetron baru muncul. Ini bukan persoalan hukum pidana sih, tapi lebih ke soal hukum perdata wabilkhusus soal administrasi identitas aja.

Ya iya dong, kalau si Zahra mukanya ganti begitu, dia berarti perlu bikin KTP baru dong? Lah kan wajahnya udah beda. Belum dengan SIM-nya, buku nikahnya, paspornya kalau ada.

Tapi, itu sih belum seberapa rumit karena mengganti foto-foto di dokumen tadi itu masih memungkinkan. Yang rumit itu sebenarnya adalah ijazah sekolahnya. Ya kali, dari TK, SD, SMP, SMA, wajahnya siapa, tahu-tahu kalau mau kuliah fotonya beda.

Wah, ngalamat nggak bisa daftar CPNS itu si Zahra.

Sinetron TWK KPK

Sinetron TWK juga sempat ramai, dan mungkin Pak Mahfud MD belum nonton sinetron itu. Kalau sampean ngikutin jalan ceritanya, wah, keren lho, Pak, itu sinetron. Udah kayak film-film intelejen bikinannya Holywood.

Bahkan sinetron ini sampai dibikin review khusus oleh Watchdog Documentary dengan film berjudul KPK The End Game. Yang memunculkan banyak hal absurd. Baik secara HAM maupun hukum.

Iya, hukum, Pak.

Ketika pemimpin tertinggi negara, yakni Presiden, meminta agar TWK tak jadi satu-satunya alasan pemecatan pegawai KPK, tapi tetap dilakukan oleh Pimpinan KPK, itu kan adegan melawan hukum paling suip yang terjadi dalam sinetron itu.

Tapi mungkin Pak Mahfud MD nggak berani kritik sinetron itu kayak waktu nyentil Ikatan Cinta sih. Ya maklum, kenal sama produsernya ya, Pak, ya?

Sinetron “Jaksa yang Tertukar”

Sinetron-sinetron terakhir yang mungkin sempat dilewatkan Pak Mahfud MD dan agak absurd secara hukum mungkin adalah genre sinetron “Jaksa yang Tertukar”. Sinetron ciamik yang punya dua segmen cerita fenomenal sekali.

Pertama, episode ketika ada seorang jaksa menuntut ringan (cuma satu tahun) seorang aparat pelaku penyiraman air keras.

Jadi ceritanya, si jaksa jadi malah bela-belain terdakwa dengan menyebut kalau penyiraman itu tak sengaja. Niatnya nyiram ke badan, eh, malah kena muka. Gitu dialognya.

Kedua, episode ketika jaksa menuntut sesama jaksa. Jadi ceritanya ada jaksa yang terima suap nih, terus ketahuan ya kan, disidang deh. Nah, dalam sidang tingkat pertama, si jaksa ini divonis 10 tahun penjara.

Ya wajar dong, Pak. Kan penegak hukum. Wajar kan?

Etapi, cerita berlanjut saat sidang di tahap kedua. Si jaksa dikurangin masa hukumannya, dari 10 tahun jadi 4 tahun. Tentunya bagi jaksa penuntut umum, kalau tahu ada terdakwa kok malah diringankan vonisnya sama hakim kan normalnya minta kasasi dong?

Tapi ini plot twits-nya: sinetron ini, tiba-tiba aja jaksa penuntut umum ogah melanjutkan ke kasasi. Dalam ceritanya, jaksa penuntut umum merasa kalau vonis sudah sesuai. Jadi tiba-tiba si jaksa penuntut umum ini baik sama terdakwa. Ngalah-ngalahin kuasa hukum si terdakwa aja.

Bener-bener sesuai judulnya: Jaksa yang Tertukar.

Sinetron-sinetron itu tadi sebenarnya lebih absurd lagi sih kalau mau dikomentari oleh Pak Mahfud MD. Terutama karena akting para pemerannya begitu meyakinkan dan udah kayak beneran. Layak lah kalau misalnya aktor dan artis di sana dinominasikan Piala Citra atau Piala Oscar sekalian. Cuma nggak tahu ya kalau penulis skenarionya.

Nah, Pak Mahfud, ayo dong komentari juga sinetron-sinetron itu. Gimana tuh pemahaman hukum para penulis skenarionya? Pas ndak?


BACA JUGA 4 Alasan Kenapa Sinetron ‘lkatan Cinta’ Laku Keras atau tulisan POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2021 oleh

Tags: ikatan cintaIndosiarjaksaKPKmahfud mdraringrctisuapsuara hati istriTWK
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Selamat tinggal Doraemon di RCTI. MOJOK.CO
Catatan

Doraemon dan RCTI Akhirnya Berpisah, Terima Kasih Telah Temani “Inner Child” Saya yang Terluka

7 Januari 2026
menulis di media, dahlan iskan.MOJOK.CO
Ragam

Menulis di Media adalah Cara Termudah Menjadi Terkenal dan Meninggalkan “Warisan”

17 April 2025
iklan rcti oke.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Syuting Iklan “RCTI Oke” Pakai Helikopter hingga Bangun Rumah, Hasilnya Terkenang Puluhan Tahun

27 Februari 2024
Dirty Vote: Kebenaran yang Tidak Bisa Dinikmati Rakyat Biasa MOJOK.CO
Esai

Dirty Vote Menghadirkan Data yang Luar Biasa Terkait Kecurangan Pemilu 2024, tapi Sayangnya Tidak Ditonton Rakyat Biasa

12 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.