Ali di Film ‘Ali dan Ratu Ratu Queens’, Gambaran Bocah Gen Z YOLO dan Bondo Nekat Sesungguhnya

ilustrasi Ali di Film ‘Ali dan Ratu-ratu Queens’, Gambaran Bocah Gen Z YOLO dan Bondo Nekat Sesungguhnya mojok.co

ilustrasi Ali di Film ‘Ali dan Ratu-ratu Queens’, Gambaran Bocah Gen Z YOLO dan Bondo Nekat Sesungguhnya mojok.co

MOJOK.CO – Tokoh Ali dalam Ali dan Ratu Ratu Queens yang diperankan Iqbaal Ramadhan emang bengal dan nekat minta ampun.

Sebuah film baru besutan Netflix, Ali dan Ratu Ratu Queens menghadirkan aktor kesayangan umat, Iqbaal Ramadhan. Iqbaal yang berperan sebagai Ali telah berhasil membawakan sosok anak yang penuh rasa penasaran dan cenderung ngeyelan.

Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi dan ditulis oleh Gina S. Noer. Duet tersebut bakal menghasilkan tawa dan air mata yang nyaris datang bersamaan. Oleh karena itu, Iqbaal nggak boleh sendirian. Ia ditemani oleh aktris-aktris yang sudah lama berkecimpung di dunia film dan bisa menghadirkan komedi, yaitu Nirina Zubir, Tika Panggabean, Asri Welas, dan Happy Salma.

Muka polos Iqbaal Ramadhan memang nggak bisa dijadikan patokan. Setelah sukses memerankan Dilan sebagai sosok yang nakal, jago gombal, dan hobi tawuran, sekarang Iqbaal punya tantangan untuk menghadirkan adegan-adegan dengan sentimen keluarga yang kental.

Ali dan Ratu Ratu Queens adalah film yang bersetting di Queens, New York. Awalnya nonton film ini memang membawa ingatan kita pada film-film Indonesia yang settingnya di luar negeri juga. Sebutlah 99 Cahaya di Langit Eropa, Eiffel I’m in Love, Assalamualaikum Beijing, dan seabrek film lain. Buat menghindari formula usang dimana setiap orang Indonesia yang ke luar negeri itu demi meraih mimpi, Gina S. Noer membawa motivasi tokohnya sedikit berbeda. Iqbaal Ramadhan alias Ali pergi ke New York untuk mencari ibunya.

Ali adalah seorang anak tunggal yang ditinggalkan sang ibu untuk meraih mimpi ke New York pada saat ia kecil. Tinggallah Ali dan ayahnya yang lama-kelamaan nggak kuat menahan kangen terhadap sang istri yang berada di New York. Sayangnya, kangen yang tak kunjung diobati memang memicu keributan di antara dua insan sehingga ayah dan ibu Ali justru semakin nggak akur. Singkat cerita, sang ayah kemudian meninggal dunia karena sakit saat Ali beranjak dewasa. Ibunya masih belum pulang.

Setelah kepergian sang ayah, Ali merasa perlu mencari ibunya ke New York. Padahal, di mata keluarga besar Ali, ibunya bukanlah sosok yang dianggap bertanggung jawab karena nggak pernah pulang nengokin anaknya ke Indonesia. Berkat bondo nekat, pakai uang hasil ngontrakin rumah sang ayah dan hasil ceperan lainnya, Ali pun berangkat ke New York.

Yang bikin heran, bocah seusia Ali yang digambarkan baru lulus SMA itu berani pergi ke luar negeri sendirian bermodalkan nama ibunya dan satu alamat dari surat yang pernah dikirim ibunya dulu. Jujurly, kalau saya jiper, lha New York, je.

Untungnya Ali si bocah beruntung itu kemudian ketemu Ratu Ratu Queens, sekumpulan ibu-ibu WNI pejuang dollar di New York. Jadilah mereka akrab dan saling bantu. Termasuk Ali yang nantinya bakal dipertemukan juga sama sang ibu sambil bawa rendang dan dikira abang-abang ojol antar makanan. Duh, kasian Ali.

Ali dan Ratu Ratu Queens memang sengaja dikemas dengan rasa nano-nano. Manis pahit hidup di perantauan, di tengah kota fancy New York dan harus tetap teguh, dan apa arti sebenarnya keluarga buat orang-orang yang “jauh” dari keluarga. Nonton film ini membantu kita mendefinisikan kembali arti kebersamaan itu apa.

Jika tujuan Ali ke New York untuk bertemu ibunya sudah tercapai, selanjutnya apa? Jawaban dari pertanyaan inilah yang berusaha diadegankan oleh Ali dan Ratu Ratu Queens

Terlepas dari itu, kita juga sepanjang film bakal mikir, gimana caranya Ali bertahan di tengah biaya hidup Kota New York yang nggak main-main itu? Banyak hal yang kemudian dijabarkan soal New York. Bagaimana imigran cari uang, bagaimana imigran bersekolah, dan yang jelas bagaimana anehnya orang New York menari-nari seolah tanpa gravitasi untuk merilis beban di pikiran.

Kita semua sebenarnya bisa jadi Ali. Ngumpulin uang, menjual apa yang kita punya di Indonesia dan menghempaskan nasib kita begitu saja ke negeri orang. Tapi, jelas tu semua butuh keberanian ekstra dan motivasi yang luar biasa. Saya sering mendengar kawan-kawan saya punya cita-cita nyeleneh seperti pengin buka angkringan di New York, penguin jualan cenil dan lupis di Jerman, dan hal-hal yang terdengar lucu, tapi sebenarnya masuk akal buat diwujudkan. Kuncinya ya satu, harus nekat sambil teriak “YOLO!”. Ya gimana, You Only Live Once gitu lho!

BACA JUGA Review film NKCTHI: Kritik untuk Pola Didik Orang Tua Kaya di Asia atau artikel lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version