• 25
    Shares

MOJOK.COSejak calon presiden terkunci di dua nama lama, sekarang lebih seru membahas soal siapa yang akan jadi cawapres Jokowi dan Prabowo.

Perhelatan pilpres masih kurang 14 bulan, tapi gesekan dan isu soal capres-cawapres makin panas. Salah satu isu yang paling menarik adalah siapa yang kelak dipilih Jokowi sebagai cawapresnya?

Sebagai inkamben, sudah tentu peluang Jokowi terpilih lagi sebagai presiden sangat besar. Berbagai survei membuktikan hal itu. Tentu saja tetap ada peluang dia akan bisa dikalahkan. Tapi kecil. Kecil sekali. Sebagaimana peluang Manchester United menggondol juara EPL musim ini juga masih mungkin. Tapi keciiiiiil sekali peluangnya. Hanya saja bagi fans MU, ya boleh-boleh saja masih berharap. Ntar juga sadar sendiri betapa hampir musykilnya harapan itu.

Kembali ke Dian Sastro, eh Cawapres Jokowi. Kursi ini makin menjadi magnet bagi perbincangan politik karena Jusuf Kalla sudah tidak memungkinkan lagi maju mendampingi Jokowi. Selain sudah merasa sepuh, beliau juga menyadari bahwa secara undang-undang sudah tidak dimungkinkan lagi menjabat capres.

Dan daya tarik kursi cawapres Jokowi ini makin menyedot perhatian karena secara politik, siapa pun yang kelak dipilih Jokowi mendampinginya, akan berpotensi besar menjadi capres pada 2024. Kok bisa? Ya bisa. Karena di tahun tersebut, jika Jokowi menjadi Presiden lagi, ia tak mungkin maju. Undang-undang melarangnya.

Dengan demikian, maka sebetulnya semua partai dan kandidat capres melirik menjadi calon pendamping Jokowi. Kalaupun mereka belum mepet Jokowi, dipercaya bahwa ini bagian dari strategi komunikasi dan kiat politik saja.

Baca juga:  Apa yang Terjadi Jika 89% Anggota DPR Nyaleg Lagi dan Terpilih?

Cak Imin misalnya, di berbagai acara mengakui, baik secara langsung maupun tidak, bahwa target politiknya adalah menjadi cawapres Jokowi. Maka, ketika PKB belum mendeklarasikan diri sebagai partai pengusung Jokowi, itu persoalan teknis saja. Jika Jokowi memilih Cak Imin, dalam sekejap bakal ada deklarasi dukungan dari PKB.

Bahkan PKS pun demikian. Berdasarkan kasak-kusuk politik, partai ini juga mau realistis saja. Mungkin capek jadi oposisi. Jika salah satu kadernya dipilih Jokowi, bisa dipastikan PKS segera merapat. Demikian juga PAN. Apalagi Demokrat. Jika Jokowi memilih AHY menjadi calon wakilnya, jalan menuju kursi presiden pada tahun 2024 makin lempang.

Di titik inilah, Gerindra layak kesal. Partai berlambang kepala garuda emas ini menyadari bahwa semua partai yang berpotensi menjadi karib strategisnya bakal memprioritaskan jalan politik realistis, untuk tidak menyebutnya sebagai jalan politik pragmatis. Jadi nanti, kalaupun partai-partai itu kembali merapat ke Gerindra, pokok persoalannya bukan ideologis, melainkan karena tidak ada pilihan lain. Jadi, kalau misalnya PAN, PKS, Demokrat, dan PKB pada akhirnya jadi satu kubu dengan Gerindra, itu karena nama kader atau calon mereka tidak diakomodasi oleh Jokowi.

Koalisi berdasarkan pragmatisme semacam itu bisa dipastikan umurnya tak akan panjang. Ingat nasib Koalisi Merah Putih, kan? Ya kira-kira bakal begitulah nasibnya. Bahkan mungkin lebih tragis lagi.

Contoh untuk mengukur bagaimana kuatnya citra bahwa Jokowi bakal dengan mudah memenangi laga pilpres 2018 adalah: begitu PBB dinyatakan lolos dan bisa ikut pesta pemilu 2018, nama Yusril Ihza Mahendra disodorkan ke publik sebagai salah satu cawapres potensial pendamping Jokowi. Padahal kurang tegang apa hubungan antara Yusril dan pemerintahan Jokowi?

Baca juga:  Pengalaman Nyoblos Duluan Pilpres 2019 di Amerika

Ruang gerak Gerindra memang tidak seleluasa PDIP atau partai-partai yang lebih dulu mendukung pencapresan Jokowi. Selain karena partai-partai yang masih di luar lingkar Jokowi menunggu ditarik Jokowi, juga Gerindra masih harus menunggu hasil pilkada serentak 2018. Kalau ternyata jagoan Gerindra banyak yang keok, utamanya di Jawa, tentu ruang gerak Gerindra makin sempit.

Kalau itu yang terjadi, jangan heran tidak lama lagi akan ada kampanye politik seperti yang dulu sering terjadi untuk menunjukkan kuatnya potensi seseorang dalam memenangi hajatan politik: Dipasangkan dengan sandal jepit pun Jokowi akan menang. Sampai sekarang belum ada yang menyelidiki kenapa istilahnya memakai sandal jepit. Kenapa tidak klepon atau gitar bolong.

Dengan begitu, rasanya hanya ada dua pihak yang mustahil jadi cawapres Jokowi. Pertama adalah Prabowo Subianto. Kedua adalah kotak kosong. Tapi, yang pertama bisa juga mau kalau melihat realitas politik yang makin menjengkelkan. “Lho, lho, lho.. kok pada merapat ke Jokowi sih? Memangnya saya nggak bisa?”

Lalu terjadilah apa yang mesti terjadi. Politik yang menggelikan tapi mungkin enak dijadikan tontonan.

Eh, ngomong-ngomong apa benar sih Jokowi tak bisa dikalahkan? Menurut penelitian Mojok Insitute sih sebetulnya bisa. Hanya saja supaya tidak keluar jauh dari judul, pembahasan itu kita lakukan lain kali saja. Yang sabar, ya… partai-partai saja sabar menunggu keputusan Jokowi, kenapa kamu nggak sih? Orang sabar, pintu rezekinya lebar. Insyaallah….