MOJOK.CO – Rindu keluarga membuat saya menempuh perjalanan Jakarta–Solo hampir setiap akhir pekan, sebab cinta juga membutuhkan kehadiran, meski hanya sekitar 40,5 jam setiap pekan.
Hampir setiap Jumat malam saya berangkat dari Jakarta untuk menemui istri dan dua anak di Solo. Banyak orang bilang hidup saya melelahkan dan ngoyo. Saya maklum dengan pandangan itu, tetapi yang saya rasakan justru sebaliknya: segar lahir dan batin.
Saya tidak sendiri, ada banyak yang seperti saya. Pergi meninggalkan Jakarta di akhir pekan untuk bertemu keluarga, dan kembali ke ibu kota di awal pekan.
Kami menyebut perjalanan ini PJKA, Pulang Jumat Kembali Ahad.
Rutinitas setiap Jumat sore di bilangan Kemayoran, kami menunggu kawan-kawan lain datang. Ada yang menyiapkan logistik biologis dengan makan mi rebus plus telur, padahal di dalam bus sudah tersedia camilan dan air mineral.
Ada pula yang menyempatkan salat magrib. Sekitar pukul 18.20 WIB, kami berangkat.
Begitulah awal perjalanan rutin kami untuk menuntaskan rindu keluarga. Jumat sore adalah hari raya bagi para penganut commuter marriage: tidak ada libur nasional, tetapi kami merayakannya dengan khusyuk.
Rindu keluarga dan jatah 40,5 jam setiap pekan
Kebanyakan keluarga hidup sehari-hari dalam satu atap. Namun, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan bisa membuat pasangan tinggal terpisah, entah di luar kota, luar pulau, atau bahkan luar negeri.
Saya amtenar yang ikut mengurus perduitan negara di Jakarta. Istri dan dua anak saya tinggal di Surakarta, kota yang dulunya negara, tetapi kini menciut jadi “gari sak megaring payung”.
Kewajiban memenuhi anggaran rumah tangga harus diimbangi dengan kehadiran di tengah keluarga. Saya ingin punya waktu bersama istri dan kedua buah hati, supaya sosok ayah tetap ada meski sehari-hari kami berjauhan.
Hitungannya begini: berangkat dari Jakarta Jumat selepas magrib, tiba di rumah Sabtu sekitar pukul 03.30, lalu kembali ke Jakarta Minggu pukul 20.00. Waktu saya di rumah sekitar 40,5 jam setiap pekan.
Jika pulang 52 kali dalam setahun tanpa absen, jumlahnya menjadi 2.106 jam, setara 87,75 hari. Sekitar seperempat tahun, dan itu batas maksimalnya.
Angka tersebut masih termasuk waktu tidur dan berbagai urusan lain. Jadi, waktu yang benar-benar bisa saya gunakan untuk menemani istri dan anak tentu lebih sedikit.
Maka waktu seperempat tahun itu saya syukuri. Banyak rekan-rekan saya atau orang-orang lain yang karena situasi yang sama harus berjauhan dengan keluarga dan dalam setahun waktu bersama keluarganya jauh lebih sedikit.
Saya pernah mengalami situasi yang lebih sulit dari saat ini. Sekitar 2018, saya bertugas di Tanjung Selor, ibu kota Kalimantan Utara, dan pernikahan kami dimulai dengan long-distance marriage yang membuat saya mustahil pulang setiap minggu.
Saya hanya bisa bertemu langsung dengan pasangan dua sampai tiga bulan sekali. Untuk pulang, saya harus naik speedboat dari Tanjung Selor ke Tarakan, dilanjutkan ojek menuju Bandara Juwata dan penerbangan ke Juanda.
Perjalanan belum selesai karena saya masih harus naik kereta dari Stasiun Pasar Turi menuju Solo Balapan. Udara, air, dan darat, semuanya dikerahkan demi satu tujuan.
Pascapandemi, saya bertugas di Jakarta dan jarak dengan keluarga menjadi lebih dekat. Sejak itu, saya bisa ber-commuter ria hampir setiap minggu.
Rombongan Cinta Keluarga, teman seperjalanan para perantau
Ternyata saya tidak sendirian. Di Jakarta ada banyak penganut PJKA yang membentuk rombongan bernama Rombongan Cinta Keluarga atau RCK.
Rombongan ini tidak diniatkan sebagai bisnis, melainkan sarana pulang yang aman dan terjangkau bagi para perantau. Tujuannya sama: menemui keluarga, meski rumah kami berada di kota yang berbeda-beda.
Ada rombongan Solo, Jogja, Ponorogo, Madiun, dan Pekalongan. Untuk tujuan di Jawa Timur yang lebih jauh, sebagian perantau memilih DAMRI atau kereta yang mereka anggap lebih efisien.
Yang menarik, di dalam bus semua orang setara atas nama rindu keluarga. Usia, jabatan, latar belakang, dan jenis pekerjaan boleh berbeda, tetapi alasan kami berada di sana sama.
Tarifnya dibahas pengelola, kemudian ditetapkan dan diumumkan oleh sang “presiden”, sebutan untuk ketua yang mengoordinasikan rombongan. Berdasarkan pengalaman saya, tarifnya sekitar Rp30.000–Rp40.000 lebih murah dibandingkan bus komersial kelas yang sama.
Lalu, siapa yang punya busnya? Awalnya kami menyewa dari perusahaan otobus atau PO sesuai dengan ketersediaan armada.
Presiden dan para kabinetnya adalah penggemar bus sehingga mudah menjalin hubungan dengan PO. Sementara itu, kabar tentang rombongan ini menyebar dari mulut ke mulut di kalangan perantau Jakarta.
Setelah berjalan tiga tahun, para sesepuh menemukan formula yang lebih efisien: menggunakan PO yang sama setiap minggu. PO mendapat kepastian penyewaan, sementara para perantau mendapat kepastian armada dan perjalanan.
Tak perlu ada CCTV, yang ada gotong royong
Bus kami berkapasitas 36 penumpang dengan pembagian kursi yang sudah ditentukan sebelumnya. Selimut dan bantal kecil yang tersedia segera dipakai untuk mapan turu, dengan harapan bangun-bangun sudah dekat rumah.
Obrolan di dalam bus menjadi sesi saling menguatkan sesama perantau. Kami bercerita tentang keseharian bersama keluarga hingga alternatif perjalanan kalau kalah war tiket rombongan.
Ada yang membagikan informasi rombongan lain, potongan harga kereta, atau jadwal keberangkatan yang cocok dengan jam pulang kantor. Dengan begitu, kami punya lebih banyak pilihan untuk tetap bisa pulang.
Titik kumpul kami sama, tetapi titik turunnya berbeda-beda. Rata-rata kami tiba di Surakarta sekitar pukul 03.30.
Saya biasanya terbangun sekitar 15 menit sebelum sampai di titik turun, seolah sudah punya alarm naluriah. Mungkin juga karena lampu dinyalakan dan kernet mengumandangkan lokasi pemberhentian sambil mencocokkan catatan dari pak presiden.
Satu per satu kami turun. Setelah menempuh perjalanan semalaman, masing-masing menuju “kuil” bernama keluarga.
Di dalam bus tidak ada CCTV, tetapi sepanjang yang saya tahu belum pernah ada kasus pencurian atau kehilangan barang selama saya ikut rombongan ini. Barang tertinggal pun bisa dibantu kembali ke tangan pemiliknya.
Saya pernah mengalaminya sendiri ketika satu perangkat earbud TWS saya ngelundung ke bawah kursi saat melakukan panggilan video dengan keluarga. Barang itu tidak ditemukan meski sudah saya cari.
Saya lalu mengabari sang presiden, yang menjadi penghubung di rombongan kami. Setelah menemukannya, sopir menghubungi saya dan mengirim foto barang tersebut.
Minggu berikutnya, menjelang perjalanan rutin, TWS itu sudah kembali ke tangan saya. Urusan kecil semacam ini ikut membuat saya merasa tenang bepergian bersama mereka.
Sebabnya sederhana: kami senasib sepenanggungan. Wow, inilah pengamalan nyata gotong royong ala Pancasila.
Pulang karena rindu keluarga, tetap harus menghitung biaya
Rombongan kami rutin memberangkatkan empat armada setiap minggu. Meski begitu, kami sering berebut tiket setiap Senin demi memastikan akhir pekan berikutnya bisa kembali pulang.
Memang ada alternatif lain, seperti kereta, bus umum, travel, bahkan pesawat. Namun, RCK punya kelebihan yang membuat saya betah selain harga yang ramah.
Jam keberangkatan dan titik naik-turun bisa disepakati. Bus juga tidak berhenti untuk makan sehingga waktu tempuh lebih singkat dan rindu bisa segera dituntaskan menjelang subuh.
RCK ibarat pipa yang menyalurkan debit kerinduan untuk mengisi tandon cinta keluarga masing-masing. Setelah terisi, kami kembali menjalani hari-hari berjauhan.
Minggu malam, arusnya berbalik ke Jakarta. Jika tidak ada kendala, bus tiba Senin subuh dan kami turun di titik masing-masing.
Saya menuju kosan dan menyempatkan tidur dua sampai tiga jam. Setelah bangun, saya merasa fisik kembali segar dan tandon rindu terisi penuh, siap mengawali minggu sambil berharap bisa langsung skip ke Jumat sore.
Alasan Jumat sore terasa seperti hari raya
Tentu saya harus realistis soal anggaran rumah tangga. Program pulang ini strategis, tetapi sebagai menkeu rumah tangga, saya juga harus memastikan kebutuhan lain tetap terpenuhi.
Seperti menkeu rumah tangga, saya memegang prinsip penganggaran, yaitu money follow function, let the manager manage, dan medium term expenditure framework. Jadi biarkan saya dan para jamaah mengelolanya dengan prudent dan tepat sasaran.
Karena itu, kadang saya melonggarkan atau mengetatkan jadwal untuk menuntaskan rindu keluarga. Kepulangan bisa menjadi dua mingguan, tetapi saya berusaha tidak melewati dua minggu kecuali ada keadaan yang benar-benar menghalangi.
Keluarga yang hidup berjauhan memang membutuhkan cara tersendiri untuk menjaga kedekatan. Bagi saya, pulang adalah cara agar tanggung jawab mencari nafkah tetap berjalan bersama tanggung jawab untuk hadir.
Kalau masih ada yang bilang ini melelahkan, silakan hitung sendiri. Saya sudah menghitungnya: pulang setiap minggu pun hanya memberi saya waktu di rumah sekitar seperempat tahun.
Itulah sebabnya Jumat sore terasa seperti hari raya. Doakan kami selalu diberi keselamatan dan kesehatan untuk kembali menemui keluarga. Amin.
Penulis: Wisnhu Chrisnur Cahya
Editor: Agung Purwandono