MOJOK.CO – Mengikuti wisata horor bertajuk dark tourism di Kampung Hilang Merapi membuat saya bertanya: apakah kita datang untuk memahami tragedi atau sekadar mencari pengalaman merinding?
“Eh, kamu lihat sesuatu nggak? Kamu ngerasain sesuatu nggak?”
Bisik-bisik itu saya dengar ketika mengikuti tur malam ke Dusun Ngepringan, Cangkringan, Sleman, Sabtu, 11 Mei 2024. Kampung di lereng Merapi tersebut kini dikenal sebagai Museum Kampung Hilang.
Pemandu kami, seorang kreator konten yang membahas dunia spiritual dan sejarah, membuka perjalanan dengan cerita tentang dusun itu. Sebagian peserta menyimak, sementara sebagian lainnya celingukan seperti menunggu sesuatu muncul dari balik pohon.
Saya ikut merinding, jujur saja. Namun, ketika kami berkeliling, pertanyaan tentang penampakan terasa lebih sering terdengar daripada pertanyaan tentang kehidupan warga sebelum erupsi Merapi 2010.
Di tempat yang menyimpan begitu banyak cerita kehilangan, mengapa kami lebih sibuk memanusiakan “entitas” daripada mengenal manusianya?
Dark tourism dan sejarah yang dikomodifikasi
Pengalaman malam itu membuat saya memikirkan istilah dark tourism. Apakah kunjungan ke lokasi bekas bencana cukup disebut demikian hanya karena tempatnya dianggap angker?
Malcolm Foley dan J. John Lennon membahas dark tourism dalam artikel “JFK and Dark Tourism: A Fascination with Assassination” di International Journal of Heritage Studies pada 1996. Melalui tempat-tempat yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian John F. Kennedy, mereka menyoroti persoalan penyajian sejarah serta tujuan pendidikan sebuah atraksi wisata.
Dalam tulisan lain tentang dark tourism, Lennon menjelaskan bahwa tempat yang berkaitan dengan kematian dapat dikunjungi untuk mengenang dan belajar, tetapi juga dapat menjadi objek eksploitasi komersial. Cara tempat tersebut dikelola dan diceritakan menjadi persoalan penting.
Di sini ada proses komodifikasi: tempat dan cerita yang bermakna bagi warga dikemas menjadi pengalaman wisata yang bisa dijual. Sejarah bencana, rumah-rumah kosong, dan cerita mistis menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Komodifikasi tidak otomatis menghilangkan nilai pendidikan sebuah tempat. Namun, ketika sensasi horor menjadi daya tarik utama, pengalaman warga berisiko tersisih.
Idealnya, dark tourism mengajak pengunjung memahami tempat yang punya sejarah kelam. Dalam perjalanan yang saya ikuti, perhatian peserta justru mudah beralih dari “apa yang terjadi di sini?” menjadi “seberapa seram tempat ini?”.
Saya khawatir tragedi akhirnya hanya menjadi latar untuk menjual suasana. Sejarahnya disampaikan, tetapi cerita penampakan lebih membekas dalam ingatan pengunjung.
Saya sendiri ikut menikmati ketegangan malam itu. Karena itu, kegelisahan ini juga saya tujukan kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang saya cari?
Kampung yang hilang dan kehilangan yang menetap
Pada Oktober 2026, saya kembali ke Museum Kampung Hilang untuk berbincang dengan Pak Yatin, salah satu pengelolanya. Kali ini saya ingin mendengar lebih banyak tentang kampung tersebut.
Nama “Kampung Hilang” ternyata berasal dari warga sendiri.
“Saya dan teman-teman namakan kampung hilang itu kan secara visual banyak rumah kosong yang sudah tidak ditinggali.”
Menurut Pak Yatin, dusun tersebut ditinggalkan sejak erupsi 2010. Ia menyebut 15 korban meninggal dan tiga orang yang belum ditemukan.
Ia juga mengingat bahwa batas wilayah yang diminta mengosongkan diri saat itu berada dalam radius 10 kilometer dari puncak Merapi. Sementara itu, menurutnya, dusun mereka berjarak sekitar 11 kilometer.
“Tidak ada anjuran untuk bergeser dari pemerintah pada waktu itu,” ujar Pak Yatin.
Kesaksian tersebut meninggalkan pertanyaan yang lebih berat daripada urusan penampakan. Bagaimana warga menerima informasi bahaya saat itu, dan bagaimana mereka mengambil keputusan untuk bertahan atau pergi?
Jawabannya membutuhkan penelusuran lebih lanjut. Namun, pertanyaan semacam inilah yang saya rasa jarang ikut terbawa dalam jelajah malam.
Pak Yatin tidak menolak cerita mistis yang melekat pada kampungnya.
“Kita memang satu paket ya, kita memang tidak mengarang.”
Ia mengatakan setiap tamu dibekali cerita tentang dusun sebelum dan sesudah erupsi, baru kemudian cerita mistisnya. Namun, ketika saya bertanya tentang minat pengunjung, jawabannya singkat.
“Lebih ke horor sih.”
Ia juga bercerita tentang pengunjung yang datang untuk melakukan siaran langsung di TikTok. Menurut perkiraannya, sekitar 70 persen pengunjung memiliki tujuan tersebut.
“Sejauh ini itu pada cari cuan lewat live TikTok. 70% begitu,” ujar Pak Yatin.
Keterangan itu memperlihatkan bagaimana komodifikasi bekerja sampai ke kegiatan pengunjung. Kampung bekas bencana menjadi tempat untuk membuat konten yang diharapkan menghasilkan uang.
Bagi pengunjung, pengalaman wisata horor itu bisa selesai begitu perjalanan berakhir atau siaran langsung ditutup. Bagi warga, kehilangan yang melatarbelakangi kunjungan tersebut menetap bertahun-tahun.
Siapa yang memegang cerita?
Meski demikian, saya tidak bisa begitu saja menempatkan warga sebagai orang yang ceritanya diambil oleh pihak luar. Di Ngepringan, warga ikut menentukan aturan pengelolaan wisata.
Tarif untuk kreator yang melakukan siaran langsung diputuskan melalui musyawarah dusun. Pengunjung juga diberi batasan dalam berperilaku dan menyampaikan cerita.
“Yang jelas jangan ada unsur menantang.”
Pak Yatin berpesan, “Jangan terlalu jauh melenceng dari cerita yang sebenarnya. Kalau mau dibumbui, silakan.”
Bahkan, jarak dusun dari puncak Merapi menjadi informasi yang ia minta untuk tidak diubah-ubah.
“Radius kita dari Merapi itu kan memang benar-benar 11 Km. Jangan dibesar-besarkan, 13 Km, 14 Km.”
Warga bukan sekadar narasumber. Mereka memegang pintu masuk, menetapkan aturan, dan berusaha menjaga cerita tentang kampungnya.
Namun, kewenangan mengatur kunjungan belum tentu membuat mereka bisa mengendalikan cerita yang beredar setelahnya. Pengunjung dapat mendengarkan penjelasan sejarah, lalu hanya menampilkan bagian yang dianggap paling seram.
Di sini muncul persoalan representasi: siapa yang menentukan bagaimana kampung dan warganya digambarkan kepada publik? Pengelola bisa menyampaikan cerita panjang, sementara penonton hanya menerima potongan yang dipilih pembuat konten.
“Kita juga tidak promosi. Tapi kita membatasi,” ujar Pak Yatin.
Saya juga masih memikirkan batas antara cerita yang “dibumbui” dan cerita yang akhirnya melenceng. Terutama ketika cerita tersebut menyangkut orang yang meninggal atau belum ditemukan.
Dalam cerita mistis yang saya dengar, korban bisa disebut “hadir” sebagai sosok. Manusia yang hilang kemudian menjadi karakter dalam cerita horor.
Padahal, mereka pernah punya rumah, keluarga, dan keseharian. Kalau yang diingat pengunjung hanya penampakannya, kehidupan mereka sekali lagi tersisih dari cerita.
Apa yang kita bawa pulang dari dark tourism dengan bumbu wisata horor?
Dari sini, kritik saya juga mengarah kepada pasar dan kita sebagai pengunjung. Apa yang kita harapkan ketika membeli paket wisata horor bertajuk dark tourism?
Apakah penjelasan tentang kehidupan warga dianggap penting? Atau kita justru merasa kurang puas kalau pulang tanpa pengalaman merinding?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa wisata ke tempat dengan sejarah kelam harus dilarang. Pengunjung boleh menikmati perjalanan, dan warga berhak memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan yang mereka kelola.
Namun, ketika tragedi menjadi daya tarik wisata, ada pengalaman manusia yang perlu dijaga. Nilainya tidak habis setelah berubah menjadi harga tiket atau tontonan.
Pak Yatin sendiri menyampaikan tujuan yang patut didengarkan.
“Cerita di museum itu kan memang buat edukasi juga. Edukasi ke anak cucu kita.”
Menjelang akhir obrolan, ia mengungkapkan harapan agar Ngepringan dikenal sebagai kawasan yang pernah terdampak erupsi Merapi.
“Biar pada tahu. Oh, di kawasan ini dulu terdampak erupsi Merapi.”
Harapan itu terasa sederhana, tetapi menjadi ukuran penting bagi kunjungan kita. Apakah kita pulang dengan memahami bahwa pernah ada kehidupan di sana, atau hanya puas karena sudah menikmati sensasi?
Kegelisahan saya terletak pada pergeseran tujuan kunjungan: sejarah disediakan, tetapi ketakutan lebih dicari dan lebih mudah dijual. Komodifikasi menjadi masalah ketika pengalaman kehilangan hanya dipakai untuk membuat paket wisata terasa lebih seram.
Sebelum mengikuti perjalanan berikutnya, saya ingin membawa pertanyaan lain selain “ada apa di sana?”. Saya ingin tahu cerita siapa yang sedang saya konsumsi dan bagian mana yang selama ini terlewat.
Jangan sampai kita sibuk mencari sosok yang konon masih tinggal di sana, tetapi melupakan manusia yang pernah benar-benar hidup di kampung itu.
Penulis: Anggito Yoel Diantoro
Editor: Agung Purwandono