Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Nikmatnya Mengendarai Honda Accord dan Toyota Camry

Edi AH Iyubenu oleh Edi AH Iyubenu
21 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tahun 2009, saat masih kaya, setelah kenyang berkelana dengan berjenis-jenis mobil SUV dan MPV, saya cari selingan dengan meminang sedan Honda Accord hitam. Ya, Accord yang sampai sekarang masih banyak berseliweran di jalan raya, generasi kedua dari versi terbaru yang lampu kotanya tak bisa dimatikan itu.

Untuk kategori sedan, saya pikir inilah mobil puncak yang bakalan memuaskan segala keinginan manusia belagu. Ketidakpuasan-ketidakpuasan pada pengalaman menunggangi Toyota Corolla Altis dan Honda City yang tergolong “tanggung” memang dilunasi benar oleh mobil spek tertinggi Honda ini.

Jika bepergian ke luar kota, sebutlah ke arah Surabaya yang terkenal dengan jamaah truk di seputaran Ngawi hingga Saradan dan marka jalan tak putus-putusnya (alias tanda tak boleh nyalip), kepedean saya meningkat dua ratus persen. Libas, salip, libas, salip. Jangankan cuma truk, mendahului bus Eka atau Mira pun cukup sekali bejek gas.

Kepada Accord saya menjura. Tidak kena semprit polisi akibat melindas marka jalan adalah momen langka dalam driving experience saya. Saya mengalami masa-masa satu sempritan seharga tiga puluh ribu hingga kini yang sudah jadi tujuh puluh lima ribu.

Power yang melimpah, akselerasi yang membuat putus asa para sopir Avanza, handling yang mantap, hingga top speed yang membuat Sumber Kencono/Sumber Selamat tak lebih dari ingsutan Innova belaka—menjadikan saya mantap berjanji dalam hati untuk tidak pernah menceraikan Accord. Di tol Palimanan, Cirebon, Accord sanggup ngacir sampai lebih dari 200 kilo/jam. Bejekan pedal gas masih tersisa, tapi ketabahan hati saya sudah tiada.

Tegasnya, saya merekomendasikan Anda untuk membeli Accord jika mendambakan kendaraan yang bertenaga paripurna, berakselerasi juara, sound system yang tak perlu diotak-utik lagi, suspensi tidak geal-geol macam Toyota Avanza dan Daihatsu Gran Max, dan sanggup membuat Dek Nella atau Dek Uut murah senyum seketika. Tentunya harus siap ngangsur 20 jutaan perbulan selama dua tahun dengan DP 350-an juta. Lupakan rekomendasi ini jika Anda belum menikah. Menikah sajalah dulu, sebab menikah jelas-jelas merupakan sunah Nabi dan meminang Accord hanyalah sunah kaum hedonis. Macam saya. Juga Anda, meski baru pengin.

Sayangnya, beberapa waktu kemudian saya mengalami sial tak terlupakan soal Accord hitam ini. Persis kasus almarhum Alphard saya. Setahunan dipakai, Accord pujaan mulai berulah. Kalau ngerem pada kecepatan tinggi, 120 km/jam ke atas, setir bergetar. Makin lama makin hebat. Lalu lama-lama terdengar suara gradak-gruduk dari bagian velg depan. Kanan kiri.

Ini sungguh bahaya! Rem lo ini gangguannya, begitu kata mekanik Honda kemudian. Ini pertaruhannya nyawa. Mulanya saya disarankan mengganti cakram kanan kiri depan. Saya tanya opsi lain, jawabannya dibubut saja cakramnya agar rata. Jadi, penyakit tadi disebabkan oleh piringan cakram yang tidak lagi rata. Aus. Kan kampret, baru setahunan sudah aus.

Dibubutlah piringan cakram itu. Habis sejutaan. Malang, baru sebulanan dipakai, kambuh lagi. Setir gemetaran lagi. Sungguh Accord yang mudah bergetar.

Pihak bengkel kembali menyarankan ganti cakram. Oke, kali ini saya ngalah. Ditebuslah rem cakram orisinal baru kanan kiri, karena tak boleh beli sebelah, dengan harga yang nyaris setara Ninja 1R 50 seken. Jadi, maaf-maaf kata nih, Lur, Ninja R 150 seken yang getol dijadikan senjata mbribiki cewek itu jadi selilit doang di cakram Accord. Nggak lebih ….

Prima lagilah Accord saya. Was-wus lagi. Bahagia lagi. Berkali-kali kena semprit polisi lagi di sekitaran Ngawi dan Nganjuk.

Tapi apes lagi!

Entahlah, kenapa dalam urusan mobil saya kerap sial. Sekira setengah tahun, penyakit setir gemetar itu kumat kembali. Byuh! Amblas dah Ninja R 150 seken itu. Hasil rontgen bengkel Honda sesuai dugaan saya: cakram rem aus.

“Bapak mengendarai dengan ngebut ya, sehingga ngeremnya pun keras-keras, cakramnya jadi cepat aus …,” kata kepala bengkel.

Iklan

Kesel banget saya sama pernyataan itu. Suka-suka saya dong, mobil-mobil saya! Mau ngebut kek, mau bejek rem dengan dua kaki kek, mau saya jadiin gantungan kunci kek, hak saya! Kok iyig ….

Saking keselnya, saya jual langsung Accord itu. Seminggu kemudian ganti Toyota Camry. All New. Ini sebagai sikap protes saya pada Honda. Biar kapok lu, ngatur-ngatur hidup gue.

Tentu saja Camry tak kalah ciamiknya dibanding Accord. Mereka sekelas. Head to head. Meski murahan Camry sedikit harganya.

Tapi, Camry memang beda taste sama Accord. Soal power, akselerasi, handling, performa, ya sama baguslah.

Ada dua taste yang menurut saya menjadikan Accord dan Camry dua pilihan yang menentukan karakter pengemudinya.

Satu, tampilan eksteriornya. Makin lama mengendarai Camry, batin saya kok ya bawaannya makin ngebet ikutan Pilkada Bantul. Sangat cocok bila saya jadi bupati ke mana-mana naik Camry. Gayanya memang modern, tapi tetap terkesan elegan, kalem, bijaksana, dan tua.

Meski bertenaga besar, setiap berada di balik kemudi Camry, jiwa saya tiba-tiba jadi pemaaf banget gitu. Mau ada sopir Avanza ugal-ugalan di depan saya, seolah hanya dia yang paling bisa ngebut geal-geol, biarin sajalah. Beda cerita bila saya berada di balik setir Accord yang bawaannya cenderung reaktif, responsif, dan ala-ala anak muda.

Jadi, jika anda ingin jadi pribadi yang sejuk, naiklah Camry. Orang sejuk kan tidak berarti tak menyimpan kekuatan. Jika sampai ia meledak, bablaslah Anda. Camry begitu pula karakternya.

Dua, suspensi yang lembut. Ini beda sama Accord yang suspensinya lebih keras. Efek dari suspensi lembut ialah kurang kokoh di kecepatan tinggi. Goyangannya lebih terasa. Pernah Camry ini saya bawa ngacir di tol Palimanan hingga mentok gas, 200 km/jam. Goyangan suspensinya lebih terasa. Ya, sebut saja, lebih terasa limbung.

Tapi, soal ini, maklumilah. Toh sejak dari pikiran para insinyur Toyota, Camry memang didesain untuk kelompok manusia yang berkarakter elegan, kalem, bijaksana, dan tua. Sebutlah anggota dewan. Masak iya sih anggota dewan yang mulia etis untuk selebor kelakuan dan omongannya, eh, di jalan raya. Nanti orang bisa bilang gini, “Eh, tu lihat, wakil kita kok iyig nggak keruan, memalukan.” Ramashok kan.

Yang patut untuk ngebut di jalanan ya generasi yang lebih mudalah. Macam saya. Juga Anda, meski baru dalam keinginan. Jangan yang tua-tua. Dan ini diakomodasi oleh suspensi Accord yang lebih keras ketimbang Camry.

Kira-kira setahun setengah saya menjual Camry itu. Tidak ada alasan teknis sama sekali, Cuma pengin jual aja. Saya lalu membeli Accord generasi mutakhir. Semata untuk menunaikan janji lama tidak menceraikan Accord yang selalu mampu memuaskan gelegak darah muda saya untuk bejek gas di tengah malam. Kelak, kalau sudah jadi bupati, saya ganti Camry lagi, bukan Alphard, bukan Mercy rasa Innova.

Sombong ya?

Setahu saya, sombong itu kalau Anda memiliki sesuatu lalu dipamer-pamerkan dengan tujuan riya. La ini saya cerita apa adanya kok, pengalaman nyata, dan hati saya tidak bermaksud riya.

Tak percaya? Seraaah.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2017 oleh

Tags: honda acordsedan terbaiktoyota camry
Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Yang punya Kafe Basabasi.

Artikel Terkait

Toyota Innova Reborn, Mobilnya Orang Beradab MOJOK.CO
Otomojok

Toyota Innova Reborn, Mobilnya Orang Beradab dan Memahami Kenyamanan Adalah Segalanya, Beda dengan Pengendara Fortuner yang Arogan

25 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

28 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.