Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Honda Win 100, Motor Pak Lurah yang Harganya Sekarang Makin Kebangetan

Di tangan yang tepat, modifikasi Honda Win 100 bisa segahar Honda CB.

Andri Aditya Wicaksono oleh Andri Aditya Wicaksono
11 Januari 2022
A A
Honda Win 100 MOJOK.CO

Ilustrasi Honda Win 100. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mungkin,10 tahun lagi, Pak Lurah bisa memasukkan Honda Win 100 ke dalam surat warisannya. Maklum, harganya pasti bakal lebih mahal.

Honda Win 100 punya mesin bertenaga 100cc underbone. Jadi, kalau diamati, bentuk mesinnya itu lebih minimalis dan nggak sebesar motor 150cc bertangki depan. Honda memproduksi motor ini langsung di Indonesia mulai 1984. Sayangnya, produksi motor ini berakhir pada 2005. Pergantian era menjadi alasannya.

Mulai periode 2000 ke atas, Honda Tiger dan Megapro mulai digemari pasar. Setelah itu, lahir Vixion dan CB150R yang jadi pilihan. Honda Win 100 mulai “ditinggalkan”.

Meski mulai surut, motor klasik tidak lantas kehilangan peminat. Ia sangat irit karena kapasitas mesinnya memang kecil. Nah, serunya, di tangan yang tepat, Win 100 bisa segahar Honda CB modifikasi yang di Tawangmangu, Jawa Tengah, disebut Herek dan sempat jadi buah bibir belum lama ini.

Beberapa tahun yang lalu, kamu bisa membeli Honda Win 100 dengan duit Rp4 sampai Rp5 juta saja. Namun coba tengok ke marketplace, harganya udah head to head sama Honda CB150R.

Honda Win 100 yang sudah direstorasi dengan hasil memuaskan, harganya bisa lebih dari Rp20 juta. Tentu dengan kondisi mesin sempurna dan surat-suratnya hidup.

Untuk kondisi “biasa saja”, harganya di kisaran Rp9 sampai Rp10 juta. Kamu harus telaten menelusuri marketplace untuk mendapatkan Honda Win 100 dengan kisaran harga tersebut.

Lantas, kenapa harganya itu sekarang bisa melambung? Berikut saya sarikan empat alasan dari pengamatan motor Win 100 milik Pak Lurah di tempat saya.

Gayanya klasik, rapi dan ringkas

Honda Win 100 sudah masuk ke dalam jajaran motor klasik. Bodi kotak motor ini menjadi salah satu aspek unik yang menarik. Headlamp dan speedometer-nya khas. Apalagi yang masih orisinal. Kalau dipandang itu rasanya enak banget. Sisi klasinya terasa banget.

Bodi motor ini juga bisa dikatakan ringkas. Terlihat langsing dan terasa nggak perlu usaha lebih untuk mencintainya… ah maaf, mengendarainya. Buat pengendara yang tinggi badannya nggak nyampai 170 sentimeter, motor ini juga sangat bersahabat. Dibonceng juga nggak pegel banget karena bentuk jok yang panjang, sekaligus nyaman.

Honda Win 100 terkenal irit bahan bakar

Nggak heran kalau motor yang irit itu pasti banyak penggemarnya. Setidaknya, dengan irit bahan bakar, kamu bisa mengalihkan sejumlah dana untuk perawatan atau menabung demi modifikasi bagian tertentu. Honda, sudah jelas, jagoannya kalau untuk motor yang irit bahan bakar. Tidak terkecuali Honda Win 100.

Eh, jangan salah, ya. mesin underbone motor ini masih bisa adu geber sama motor 150cc. Soal menang atau kalah ya urusan belakang, sih. Tergantung pengendaranya. Namun, mari kembalikan motor ini sesuai konsepnya, yaitu motor klasik yang tidak ditujukan untuk kebut-kebutan.

Toh sebagian besar penggemar Honda Win 100 memang tidak mencari kecepatan. Mereka berburu sisi klasik dan kenyamanan. Dua hal yang bikin Pak Lurah di tempat saja tidak bisa pindah ke lain hati, kecuali ke Bu Lurah, sih.

Mudah dimodifikasi

Soal motor, jelas kembali ke selera pemiliknya. Sebagian besar pemilik Honda Win 100, biasanya, mempertahankan sisi orisinalitas. Itu yang bikin motor ini tetap dan makin mahal. Namun, ada juga yang punya selera modifikasi dan motor klasik juga siap untuk restorasi.

Iklan

Salah satu modifikasi yang pernah saya saksikan adalah Win berkonsep trail. Setang pakai yang lebar dan pakai ban pacul. Bodinya tetap langsing, tapi lebih tinggi. Disesuaikan dengan kondisi medan yang ia lahap.

Serunya, biaya modifikasi menjadi trail tidak terlalu banyak. Beberapa suku cadang dan part khusus bisa dibeli dengan harga miring. Enaknya, banyak yang masuk dan tidak perlu beli yang mahal. Modifikasi bagus dengan harga murah? Gas pol, sih.

Hasilnya, harga jual motor ini pasti terdongkrak. Jarak dan harga antara pemilik dan peminat itu jadi kayak nggak ada. Tetangga saya, peminat Honda Win 100 milik Pak Lurah, sampai rela menjemput Win modif sampai ke luar kota.

Tak lekang oleh waktu

Win 100 itu memorable. Dulu, mungkin sampai sekarang, motor ini masih diingat sebagai “motornya pegawai negeri”. Terutama oleh mereka yang melewati masa-masa kejayaan motor ini, antara 1984 sampai 2005. Bagi mereka, inilah motor paling pas untuk segala masa. Selain itu, motor ini dikenang karena banyak jadi first bike untuk banyak orang.

Irit, murah, ramah modifikasi. Murah? Ya itu dulu, sih. Sekarang, harganya melambung sangat tinggi. Prestise dan bisa dianggap sebagai motor hobi. Sudah, lengkap sudah alasannya.

Motor ini menempati posisi khusus di hati penggemar motor klasik keluaran Honda. Ia sejajar dengan Honda CB klasik dan Honda Tiger pada masanya. Atau, jangan-jangan, malah lebih memorable?

Bisa jadi, 10 tahun lagi, Pak Lurah bisa memasukkan Honda Win 100 ke dalam surat warisannya. Maklum, harganya pasti bakal lebih mahal. Sudah termasuk barang kolektor. Punya prestise dan keanggunan seperti lukisan para maestro.

BACA JUGA Kalau Kamu Tahu Honda WIN 100, Masa Kecilmu Orba Banget dan ulasan akan kenangan di rubrik OTOMOJOK.

Penulis: Andri Aditya Wicaksono

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2022 oleh

Tags: harga Honda Win 100hondaHonda CBhonda tigerhonda win 100motor klasikrekomendasi motor
Andri Aditya Wicaksono

Andri Aditya Wicaksono

Sedang berusaha mewujudkan status financial freedom.

Artikel Terkait

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co
Pojokan

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)
Pojokan

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co
Pojokan

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO
Catatan

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.