MOJOK.CO – Demi visual, perempuan rela mengorbankan fungsi dan tenaga. Maka, mereka memilih Honda Scoopy sesuai warna lipstik.
Coba, deh, bikin survei nasional tentang apa yang ada di pikiran seorang perempuan saat membeli sepeda motor. Saya berani taruhan skincare bahwa spesifikasi mesin tidak ada di dalam daftar 10 besar prioritas mereka.
Tidak ada perempuan yang datang ke dealer Honda lalu bertanya: “Mas, ini torsi puncaknya di RPM berapa ya? Kompresinya padat nggak? Kampas gandanya gampang slip kalau kena panas nggak?“
Nihil. Kosong.
Pertanyaan pertama, utama, dan satu-satunya yang keluar dari mulut manis mereka adalah: “Mas, yang warna Hijau Sage (Prestige Green) atau Cokelat Matte (Stylish Brown) ready nggak? Kalau inden lama nggak?”
Fenomena ini paling nyata terlihat pada satu varian motor yang kini telah menjadi “identitas nasional” kaum hawa: Honda Scoopy. Sebuah motor anomali.
Secara teknis, Honda Scoopy tidak kencang. Secara ergonomi, berat (besi semua, beda sama Beat yang enteng). Soal harga, ia overpriced untuk ukuran mesin 110cc yang sama persis dengan Honda Beat.
Tapi, kenapa banyak yang mencintai Scoopy? Kenapa mbak-mbak rela antre inden berbulan-bulan demi motor yang bannya kecil-kecil (ring 12) kayak donat ini?
Jawabannya sederhana: Karena Honda Scoopy bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah aksesori fashion. Scoopy menjadi perpanjangan dari Outfit of The Day (OOTD). Ia adalah bukti sahih bahwa bagi perempuan, estetika jauh lebih penting daripada fisika.
Mari kita bawa kasus ini ke medan perang yang sesungguhnya: Tanjakan Cangar
Bagi pembaca Mojok yang berdomisili di Jawa Timur, pasti tahu betapa mengerikannya jalur Cangar yang menghubungkan Mojokerto dan Batu. Tanjakan ini curam, panjang, dan tidak kenal ampun. Ini adalah kuburan bagi motor-motor yang kurang perawatan dan pengendaranya kurang skill.
Suatu akhir pekan, saya pernah terjebak macet di tanjakan Cangar. Di depan saya, ada pemandangan yang membuat hati miris sekaligus ingin tertawa.
Seorang mbak-mbak dengan outfit “Cewek Bumi” (jilbab cokelat susu, kardigan krem, rok plisket) sedang berjuang menaklukkan tanjakan Cangar dengan Honda Scoopy terbarunya. Dia membonceng temannya yang juga sama-sama berisi.
Suara mesin Scoopy itu terdengar memilukan. Nguuuuuung….!
Mesinnya menjerit. CVT-nya meraung minta tolong. Kecepatannya mungkin cuma 5 km/jam, lebih lambat dari orang jalan kaki. Kaki si Mbak turun ke aspal, berusaha mendayung (membantu dorong) motornya yang sudah kehabisan napas.
Di belakangnya, asap tipis mulai keluar dari area CVT. Bau kampas ganda hangus menyerbak, mengalahkan bau parfum vanilla yang dipakai si Mbak.
Apakah si Mbak peduli? Tidak. Dia tetap gas pol.
Dalam logika otomotif, motor 110cc dengan bobot bodi berat, ban ring 12 yang putarannya butuh tenaga ekstra, ditambah beban dua orang dewasa di tanjakan ekstrem, adalah resep bencana. Itu bunuh diri mesin.
Tapi dalam logika “Mbak-Mbak Scoopy”, motor itu harusnya kuat. Kenapa? Karena motornya baru, warnanya lucu, dan cicilannya baru jalan seminggu. “Masa motor 23 juta nggak kuat nanjak sih?” pikir mereka.
Demi visual, perempuan rela mengorbankan fungsi Honda Scoopy
Mereka lupa bahwa hukum gravitasi tidak peduli seberapa mahal harga motormu atau seberapa estetik warna catnya. Gravitasi hanya peduli pada Power to Weight Ratio (Rasio Tenaga terhadap Berat). Dan dalam hal ini, Honda Scoopy adalah korban bullying gravitasi. Honda Scoopy mengajarkan kita bahwa perempuan rela mengorbankan fungsionalitas demi visual.
Coba perhatikan desainnya. Bannya ring 12 itu gendut dan kecil. Apa dampaknya? Kalau kena lubang jalanan (yang mana jalanan Indonesia itu 70% lubang, 30% niat baik pemerintah), guncangannya langsung terasa sampai ke ulu hati. Shockbreaker-nya keras.
Tapi, perempuan tidak peduli. Kenapa? Karena ban kecil itu “imut” dan membuat motor terlihat “Retro Europe Style”. Padahal, kalau bannya bocor di tengah jalan sepi, tukang tambal ban pinggir jalan sering angkat tangan. “Waduh Neng, alat bukaan bannya susah. Keras. Harus ke bengkel press ban.”
Lalu si Mbak akan menelepon pacarnya sambil menangis. “Yang, motor aku ban-nya bocor. Abangnya nggak bisa benerin. Jemput aku sekarang.”
Lagi-lagi, estetika membawa derita. Tapi deritanya dibagi dua sama pacarnya.
Warna menjadi faktor kunci
Honda pintar sekali memainkan psikologi warna perempuan. Mereka tidak menamai warna dengan “hijau” atau “merah”. Tidak, itu terlalu maskulin dan membosankan. Mereka menamainya Prestige Green, Fashion Blue, Stylish Brown. Kata-kata “Prestige”, “Fashion”, dan “Stylish” itu adalah mantra sihir.
Saat seorang perempuan melihat Honda Scoopy warna Prestige Green, otak reptilnya langsung bekerja: “Warna ini cocok banget sama gamis sage green aku yang baru beli di Shopee. Kalau dipakai ke kampus/kantor, pasti kelihatan ‘mahal’.”
Mereka tidak memikirkan bahwa warna doff (matte) itu perawatannya susah setengah mati. Kena gores dikit langsung kelihatan. Kena minyak gorengan susah hilang. Tapi siapa peduli? Yang penting saat difoto buat Instastory, warnanya pop up.
Satu lagi fitur Honda Scoopy yang sangat “Perempuan-sentris”: Colokan charger hape
Bagi laki-laki, fitur paling penting mungkin rem ABS atau Keyless. Bagi perempuan, fitur paling penting adalah colokan USB buat ngecas hape.
Kenapa? Karena perempuan punya ketakutan purba bernama Low Battery Anxiety. Mereka tidak bisa hidup tanpa hape menyala. Bagaimana mau update lokasi kalau baterai habis? Gimana mau scroll TikTok saat lampu merah kalau hape mati?
Honda tahu betul celah ini. Maka, mereka menyematkan fitur tersebut. Dan boom! Laris manis. Padahal ngecas hape di motor itu sebenarnya berisiko bikin aki tekor atau IC power hape rusak karena arus tidak stabil. Tapi, ah sudahlah. Penjelasan teknis listrik arus DC tidak akan mempan melawan argumen “Tapi kan praktis, Bestie!“
Kembali ke soal tanjakan Cangar tadi
Kejadian itu berakhir dengan si Mbak menepi di bahu jalan. Motornya kepanasan (overheat). Temannya turun. Wajah mereka cemberut.
Di saat bersamaan, lewatlah Honda Supra X 125 butut. Adalah bapak-bapak membawa rumput yang mengendarainya.
Nguuueng!
Supra X itu melibas tanjakan dengan santai di gigi satu. Tanpa drama, tanpa bau hangus. Itu adalah momen kekalahan telak estetika Honda Scoopy melawan fungsi.
Namun, apakah kejadian itu akan membuat si Mbak kapok dan menukar Scoopy-nya dengan Supra atau Vixion? Tentu tidak.
Besoknya, dia akan tetap naik Honda Scoopy itu lagi. Mungkin dia akan menghindari Cangar, tapi dia tidak akan meninggalkan Scoopy-nya.
Kenapa? Karena identitas dia sudah melekat di sana. Dia adalah “Cewek Scoopy”. Ada kebanggaan tersendiri saat duduk di jok cokelatnya yang empuk (tapi licin) itu. Ada rasa percaya diri yang naik 100% saat melihat pantulan diri di kaca toko: Helm bogo, masker medis, helm retro, dan motor membulat yang lucu.
Harga untuk memelihara kecantikan
Honda Scoopy adalah bukti bahwa pasar otomotif Indonesia itu unik. Kita tidak membeli kendaraan untuk mobilitas semata, tapi validasi sosial.
Jadi, buat para lelaki di luar sana. Kalau pacar atau istri merengek minta Scoopy, jangan debat pakai argumen teknis. Jangan bilang “Mending Vario 160, Yang. Tenaganya gede.”
Percuma. Kamu kalah. Vario 160 itu bentuknya robot, tajam-tajam, maskulin. Nggak cocok sama outfit bunga-bunga mereka.
Belikan saja Scoopy itu. Pilihkan warna yang paling dia suka (sesuai kode warna lipstik atau tasnya). Tapi ingat satu syarat: Jangan pernah ajak dia touring lewat jalur ekstrem.
Cukup pakai Honda Scoopy itu buat ke Indomaret, kampus, atau pasar. Biarkan ia bahagia dengan estetikanya.
Dan kamu, sebagai lelaki, siapkan mental (dan dompet) untuk ganti kampas rem lebih sering, ganti ban yang harganya lumayan mahal, dan siap-siap ditelepon buat ngebengkel dadakan. Karena itulah harga yang harus dibayar untuk memelihara kecantikan: High Maintenance, Low Performance.
Sekian. Saya mau lanjut ngangsur kredit panci dulu. Siapa tahu ada panci warna Prestige Green biar match sama motor tetangga.
Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Peliknya Honda Scoopy, Motor Matic yang Nggak Kuat Dipakai Ngebut dan Lemah Saat Tanjakan dan nyinyiran seru lainnya di rubrik OTOMOJOK.
