MOJOK.COHarus diakui, tak ada ihwal yang menarik dari Pak Ma’ruf Amin kecuali pernyataan beliau yang unik-unik. Apalagi yang terakhir, soal K-pop.

Pagi itu orang-orang besar tengah berkumpul di Istana Negara dalam acara “kick off meeting” pemeriksaan keuangan negara. Satu demi satu orang disapa oleh Pak Jokowi, terutama jajaran BPK, jelas sembari menjura.

Sampai kemudian, ada satu hal penting yang terlewat, “Yang saya hormati, mohon maaf, Pak Wapres, hampir kelupaan. Yang saya hormati, Bapak Wakil Presiden RI.”

Di titik itulah saya akhirnya sadar pada lelucon garing di tongkrongan, yang biasanya menyasar orang-orang introvert, “Diem aja nih, Buos, kayak Pak Ma’ruf Amin.”

Dan ternyata asosiasi “pendiam” kini bagi netizen memang tidak lagi merujuk secara langsung pada batu, patung, atau manekin di swalayan, tetapi bergeser pada sosok Pak Wapres kita semua, Pak Ma’ruf Amin.

Duh, duh emang pada kurang ajar sekali netizen kita ini ya, Pak? Meski begitu, ya mohon untuk dimaklumi aja sih kalau rada kurang ajar begitu.

Lah gimana? Jangankan kita yang tidak punya hubungan langsung dengan Pak Ma’ruf Amin. Pak Jokowi, rekan seperjuangan yang kerja bareng, saja pernah hampir luput pada kehadiran Pak Ma’ruf Amin di Istana Negara.

Apalagi intensitas Pak Ma’ruf Amin kan memang sangat minim menghiasi perbincangan kita di lini masa, media massa, sampai di warung kopi. Ini kan jadi aneh banget untuk ukuran orang terpenting nomor dua di Indonesia setelah Pak Jokowi.

Saya menduga, mungkin ini karena nama Pak Ma’ruf Amin sangat tidak ghibah-able. Jauh lah kalau dibandingkan dengan nama-nama beken kayak Pak Luhut Binsar Panjaitan atau Pak Mahfud MD misalnya.

Ibarat suara mesin, kedua nama tadi itu kayak suara motor knalpot blombongan yang berisik sehingga mampu menghiasi segala lini kehidupan masyarakat. Sedangkan Pak Ma’ruf Amin? Ya mungkin mirip suara mesin Isuzu Panther. Mesin tetep nyala, nggak kedengaran aja.

Bahkan kalaupun ada informasi atau berita soal Pak Ma’ruf Amin yang muncul ke permukaan, selalu yang hadir justru berita-berita kurang sedap alias sedikit kontroversial. Sedikit, sedikit doang kok tapi.

Kayak waktu Pak Ma’ruf Amin menyebutkan bahwa doa kiai dan doa qunut merupakan jawaban Covid-19 mau menyingkir dari Indonesia, uniknya pernyataan itu disampaikan sebelum ada kasus pertama di Indonesia. Atau ketika beliau meminta India mencontoh kehidupan toleransi di Indonesia, saat di mana kasus intoleransi di Indonesia pada periode itu kebetulan lagi sering-seringnya.

Selain perkara-perkara itu tadi, harus diakui, tak ada lagi ihwal yang betul-betul menarik dari Pak Ma’ruf Amin.

Saya sih berbaik sangka, mungkin memang begitulah karakteristik beliau. Sosok misterius yang gemar bekerja di balik layar. Tidak ingin menarik perhatian, menyembunyikan kebaikan, bahkan sampai tidak mau kelihatan kalau sedang bekerja keras mengurusi negara.

Malah, kalau boleh jujur, justru ketika Pak Ma’ruf Amin muncul ke publik, kita sebagai rakyat harus hati-hati dan khawatir. Jangan-jangan ada masalah serius ini kok Pak Wapres sampai harus ikut turun langsung muncul ke publik?

Dan kekhawatiran itu ternyata terbukti.

Pasalnya, saya baru saja dipertemukan dengan sekumpulan akun yang tengah menggelar perdebatan sengit di Facebook yang tiba-tiba pada berseloroh cukup agresif ke Pak Wapres.

“Masak anak-anak disuruh nonton paha,” tulis salah satu di antara mereka. “Wakil Presiden kok nggak punya kebanggaan sama karya bangsa,” yang lain menimpali.

Bahkan sosok Ahmad Dhani juga kepancing mengomentari Pak Ma’ruf Amin.

“Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik,” kata Mas Ahmad Dhani agak nyebelin.

Awalnya saya duga, komentar-komentar keras ini berasal dari ibu-ibu yang menolak goyangan lincah Lisa Blackpink tampil di televisi, atau Pak Wapres dikomentari Ahmad Dhani karena ada isu politik tertentu yang berkaitan dengan industri musik.

Saya mengambil ancang-ancang, bencana apa lagi gerangan yang akan menimpa Indonesia nih? Kok pada galak betul sama Pak Ma’ruf Amin?

Ternyata, pendapat itu mencuat karena Pak Ma’ruf memberikan pidato atas peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia.

Dalam pernyataan resminya beliau mengatakan bahwa, “Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.”

Jika pada umumnya kata-kata itu akan ditafsirkan sebagai basa-basi biasa dalam jalinan bilateral, dalam hal ini Korea Selatan dengan Indonesia, namun karena Pak Ma’ruf Amin yang bicara tiba-tiba sambutan ini jadi ramai dan kontroversial.

Lazim kiranya kita mengatakan, “Hei, Bung, kami sangat memuja setandan pisang yang rasanya lezat ini,” saat berhadapan dengan orang-orang Honduras. Atau memuji rasa kurma Arab, ketika ketemu orang Arab. Jadi ketika memuji K-pop untuk seremoni yang ditujukan ke masyarakat Korea Selatan, mulut manis basa-basi itu juga seharusnya biasa saja.

Akan tetapi, itu tak bisa kalau kamu seorang seperti Pak Ma’ruf Amin. Seorang yang terbiasa berada di balik layar, kiai berpengaruh, dan pada saat bersamaan juga menjadi Wakil Presiden Indonesia. Segala tutur kata akan dikomparasi, sebagai seorang ulama plus sebagai umara’ (pemimpin). Tidak ada garis pemisah di situ.

Soalnya, meski ucapan itu lumrah sebagai seorang yang mewakili kepala negara, Pak Ma’ruf Amin kan tetap saja seorang kiai. Dua identitas ini jelas mengganggu dan sepertinya malah mempersulit beliau menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Wabilkhusus kalau ngomongin soal K-pop yang kental dengan aroma joget-jogetnya itu.

Ketika bicara sebagai Wakil Presiden Indonesia, setiap pernyataan Pak Ma’ruf bakal dikaitkan dengan statusnya sebagai ulama dan kiai. Sebaliknya, ketika bicara atas nama kiai, setiap pernyataannya akan jadi bahan baku untuk ghibah politik.

Apalagi kalau urusannya K-pop beginian, makin gayeng lah pasti. Mau hubungan antar-negara baik dengan basa-basi, atau mau jagain citra ulama dengan pernyataan yang hati-hati?

Meski begitu, menyandang nama dari kata ma’ruf yang berarti “baik” itu, hal semacam ini tentu bukan masalah besar bagi beliau. Sebab saya yakin beliau pasti bisa mengatasinya dengan ma’ruf.

Apalagi saya sih percaya dengan pepatah lama, bahwa Pak Ma’ruf Amin adalah emas.

Jadi ketika riak-riak ini muncul dan jadi masalah baru di antara masyarakat. Udah, cukup diemin aja. Minggu depan juga rakyat bakalan lupa.

Baik sama pernyataannya maupun sama orangnya.

BACA JUGA Jokowi Disebut Sudah Sadar dan Siuman dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.

Baca juga:  Hina Jokowi Kafir, Pemuda Bangka Belitung Diciduk Polisi