Tepat sepekan sebelum tulisan ini dikerjakan, di sore yang serupa dengan sore ini, redaktur media tempat kolom ini dimuat mengajak saya untuk bertemu.

“Tidak sibuk, Cak?” tanyanya. Itu pertanyaan yang terdengar lucu. Tak ada orang yang lebih nganggur dibanding saya di kota ini, dan ia tahu itu. Namun, pada saat yang sama, ia juga tahu bahwa saya belum mengirim tulisan untuk kolom yang mesti terbit besok paginya. “Tapi tulisanku belum selesai. Gimana?” saya bertanya balik. Ketika ia bilang “santai”, dengan bergegas saya mengiyakan. Saya akhirnya punya alasan untuk tak terburu-buru menyelesaikan tulisan—bahkan di jam-jam deadline. Apalagi saya diberi tahu bahwa beberapa anak muda yang biasa mengirim tulisan ke media ini juga akan bergabung.

Saya tak terlalu menyukai kumpul-kumpul dengan sesama penulis. Namun, berjumpa dengan para penulis yang lebih muda selalu menyenangkan. Pada diri mereka saya bisa menemukan kembali diri saya 15-17 tahun lalu, juga yang bukan diri saya. Saya menyukai semangat sekaligus kenaifan, sikap menantang-nantang sekaligus semacam rasa segan yang coba disembunyikan, kepercayaan diri sekaligus kecerobohan, dan hal-hal paradoks lain, yang biasa ada pada mereka yang melewati tahun-tahun awal mengidentifikasi diri, biasanya dengan nada rendah hati tapi sekaligus angkuh, bahwa mereka adalah “penulis pemula”.

Saya jumpa apa yang saya bayangkan. Dari beberapa pertanyaan yang kebetulan mereka ajukan, atau obrolan di antara mereka sendiri (tentang tema, tentang teknik, tentang penulis lain) yang saya curi dengar, saya mencium hawa keras semangat menggebu itu. Bersikap sinis (“Ah, kalian belum rasakan sih”) atau mengangguk-angguk setuju (“Oh, betul juga”) sama-sama menyenangkannya.

Yang sedikit meleset (dalam arti yang baik), selain beberapa kenaifan yang standar, paradoks-paradoks yang bisa saya temukan pada para penulis muda tak begitu saya jumpai. Mereka tampak begitu bersemangat untuk menulis dan sangat yakin ingin jadi penulis, seyakin bahwa mereka akan memperoleh manfaat dari itu. Tak terlihat keraguan dan kegentaran yang lazimnya bisa dan biasa saya temukan pada para pemula di usia dan kondisi mereka. Salah seorang di antara mereka mengaku sedang mengikuti sebuah kelas menulis, dan saya rasa itu sangat terlihat dampaknya pada gestur yang mereka tunjukkan.

Mungkin karena itu, salah satu sisi dari diri saya di masa lalu tak saya temukan pada mereka, sebuah paradoks yang paling paradoks yang pernah, dan masih, saya rasakan sebagai seorang penulis: bahwa sebesar keinginan saya untuk menulis dan menjadi penulis, sebesar itu pula upaya saya mencari alasan untuk tak melakukannya. Bayangkanlah tentang seseorang yang ingin memetik kelapa yang, sembari mendongak ke tandan buah kelapa yang paling ranum dengan tenggorokan naik-turun, pun telah membayangkan dunia macam apa yang akan dilihatnya dari ketinggian, terus saja menggerutu mencari-cari tangga yang tak dimilikinya, dan akhirnya ia hanya berpuas diri memberakoti butir kelapa yang telah tua dan kering yang dijatuhkan angin.

Ini pasti sebuah kabar baik. Sebab, saya kira, penulis yang tak terjangkiti paradoks brengsek semacam itu pastilah penulis yang jauh dari kerumitan yang biasa diidap para penulis. Dan saya kira dunia kepenulisan akan terlihat lebih cerah.

***

Saya mengawali menulis dengan sebuah mesin tik manual pinjaman dan satu rim kertas buram ukuran folio, ditambah segulung pita hitam Daito paling murah dan sebotol tipe-x Kenko. Tak ada yang lain lagi—benar-benar tak ada yang lain. Saya tinggal di sebuah loteng yang cukup luas, dan menjadi jauh terasa lebih luas karena di kamar itu hanya ada sebuah meja lesehan kecil dan selembar tikar plastik dan sebuah sajadah aus, sebelum sebulan kemudian ketua takmir masjid tempat saya biasa menjadi muazin meminjami saya sebuah radio gantung. Saya mestinya mengetik di atas meja, tapi meja itu jauh lebih dibutuhkan untuk menaruh buku-buku catatan kuliah dan koleksi bacaan saya yang sangat sedikit, juga menumpuk beberapa lembar pakaian yang tak berlemari. Maka, mesin tik itu saya taruh di lantai dan saya menulis dengan bersila—atau bahkan berjongkok seperti orang berak kalau sedang bosan. Ketika menulis cerpen “Yang Hilang Telah Hilang” (cerpen yang memberi saya trofi ala juara gerak jalan, yang kemudian saya ubah menjadi “Anas Abdullah dan Mesin Ketiknya” [yang terbit dalam Belajar Mencintai Kambing]) saya sepenuhnya mengkhayal manakala Anas, tokoh cerpen itu, membanting mesin tiknya ke lantai dari atas meja. Sebab, kamar itu memang tak punya meja untuk mengetik. Dan, karena itulah, di cerpen itu tak ditemukan kursi, yang mestinya bisa dipakai Anas untuk menghancurkan mesin tiknya, alih-alih sebuah palu yang, karena tak bisa menjelaskan asal-usulnya, saya sebut saja “entah bagaimana dan dari mana”. Tanpa meja, tanpa kursi, dan masih terus belajar menghapal urutan dan tempat masing-masing huruf di tuts, menulis terasa menjadi sangat berat namun sekaligus heroik. Setelah semalaman begadang menyelesaikan sebuah cerpen atau tugas kuliah, saya akrab dengan rasa kebas di ujung kuku, ngilu di buku jari, dan linu di pergelangan tangan ketika bangun pagi dan mencegat bus kota Jalur 2 menuju kampus. Saat seorang karib berhasil menerbitkan tulisan pertamanya di sebuah tabloid olahraga terkenal, sembari menyembunyikan rasa iri, saya membuat pemakluman bagi diri sendiri dengan membandingkan mesin ketik listriknya dan mesin ketik manual saya. Dan ketika empat tahun awal kepenulisan saya cuma menghasilkan belasan cerpen, dengan sebagian kecil di antaranya terbit di media islami dan koran-koran kecil, saya memberi penjelasan pada diri sendiri: “Coba kalau aku ngetiknya di komputer, pasti nulis akan lebih gampang!” Penjelasan kosong itu biasanya berguna untuk para penulis yang tak ingin menulis. Dan itulah saya.

Baca juga:  Kolom: Membaca Ulang ‘Hujan Kepagian’

Ketika merantau di Jakarta saya dikelilingi oleh banyak komputer. Tentu saja bukan punya saya, tapi tak akan ada yang menghalangi jika saya memakainya untuk menulis, asal di luar jam kerja dan pekerjaan yang menjadi tanggungan saya sudah beres. Sangat bisa dimengerti saat itulah saya memulai menulis novel pertama saya. Saya mau membuktikan bahwa apa yang dulu saya bayangkan—bahwa menulis dengan peranti yang lebih canggih akan membuat lebih produktif—memang benar; dan memang benar. Saya menulis dengan produktivitas jauh di atas standar saya. Sampai kemudian saya mampat di halaman 60-an. Saya tahu saya memiliki beberapa persoalan teknik (dalam kepenulisan) yang belum benar-benar saya tuntaskan, tapi saya lebih menyukai menunjuk halangan yang lebih teknis: bagaimanapun, menulis di komputer kantor tetap tak akan senyaman menulis di komputer sendiri. Apalagi, di luar ruangan saya bisa melihat “bukti”-nya.

Saat itu saya bekerja di Gedung 68-H Utan Kayu yang terkenal itu. Masuk kerja jam tiga sore, saya biasanya sudah datang di kantor pada saat jam makan siang. Sambil menunggu waktu masuk, saya nongkrong di Kedai Tempo yang angker dan mahal. Kadang untuk membaca, sesekali untuk menulis (dengan tangan), tapi lebih sering hanya bengong—dan jarang sekali jajan. Dari meja paling jauh dan paling luar, saya biasa mencuri pandang ke meja tempat orang-orang paling berkuasa di kesusastraan/kebudayaan Indonesia tengah mengobrol: GM, Sitok, Hasif, Nirwan, Sahal, Hamid, Tony, dan beberapa yang lain. Meski kerap juga terlihat di meja yang sama di antara orang-orang tersebut di atas, Ayu Utami sesekali saya lihat duduk sendiri menghadapi komputer jinjingnya. Saya tak pernah melongok langsung untuk memastikan apa yang sedang dikerjakannya, tapi tentu saja ia menulis—ia novelis paling dikenal tahun-tahun itu, jadi pastilah ia menulis. Di meja saya, dengan oret-oretan pulpen di kertas bekas blangko survei berita Pemilu 2004, saya menyeringai kepada penulis pemula manja dalam diri saya: “Ah, kalau punya laptop, aku juga bisa menang DKJ.”

Apakah saya memang sudah memikirkan DKJ? Tentu saja tidak. Saya hanya baru menemukan alasan novel saya macet di halaman ke-60, dan itu membuat saya merasa baik-baik saja hingga bertahun-tahun ke depan.

Novel yang macet itu selesai lima tahun kemudian. Sudah pasti tidak menang DKJ karena tak pernah diikutkan, dan sama sekali tak membuat nama saya didengar oleh orang-orang yang pernah saya tatap dari kejauhan di Kedai Tempo itu, bahkan sekadar sayup-sayup. Sangat mungkin karena novel itu ditulis di sela-sela kerja kantor atau diupayakan dengan sisa-sisa tenaga seorang buruh berupah UMR, dengan komputer tua ber-hard disk 15 GB, yang suara CPU duduknya mendesis-desis ribut, dengan kondisi pantat yang mulai diganggu gejala ambeien dan punggung yang telah dihampiri nyeri setelah seharian tegak tak bergerak di ruangan berpendingin. Lagi pula, dibanding ditujukan untuk para dewa sastra di Jakarta, saya kuatir selesainya novel itu lebih karena saya ingin keluar dari pekerjaan dengan cara paling elegan yang bisa saya bayangkan. Sebab, saya berpikir, saya tak akan menjadi pengarang yang baik jika masih menjadi karyawan dengan jam kerja lebih dari lima puluh jam per pekan.

Baca juga:  Kolom: Hasil

(Eureka! Kalian tahu kan sekarang kenapa saya menulis begitu lambat?)

Saya akhirnya menang DKJ, persis sepuluh tahun dari sejak saya melirik Ayu Utami dengan laptopnya di Utan Kayu. Novel yang menang itu saya tulis dengan laptop yang telah jauh melambat dan saya ganti baru begitu saya pastikan bahwa menang lomba novel ternyata ada hadiahnya. Apakah laptop itu kepayahan karena saya memakainya semaksimal mungkin untuk menulis? Hahaha… ngarang! Dalam sebuah tulisan tentang proses kreatif, saya pernah menjelaskan bahwa novel yang menang itu adalah naskah yang sudah berumur sembilan tahun, berpindah-pindah dari satu disket ke disket lain, kemudian ngendon di CPU komputer kantor dan nyaris saya anggap tak bisa diselesaikan, sampai kemudian di pengujung 2013 saya kebut selama tiga bulan setelah sebuah penerbit berjanji untuk menerbitkannya. Maka, sebenarnya, nyaris cuma dalam tiga bulan itulah laptop itu benar-benar berperan bagi selesainya novel DKJ tersebut.

Laptop itu begitu kepayahan di usianya yang baru tiga tahun karena hal lain, dan cuma sedikit yang berkait dengan menulis (novel). Ia saya pakai untuk mengunduh ratusan lagu India per harinya dari situs-situs penyedia MP3 ilegal berbasis di Pakistan dan Afganistan yang berisiko, menonton film-film India dalam file-file ukuran besar, menerjemahkan subtitel belasan film, dan hal-hal sejenis yang jauh lebih berperan menunda dibanding menyelesaikan sebuah novel.

Dan ketika mesin ketik manual, komputer milik kantor, hard disk yang terlalu kecil, laptop yang lambat, atau tetek bengek lain berkait peranti dan perkakas menulis tak bisa lagi saya pakai untuk membenarkan kemalasan dan mengesahkan saya menunda-nunda menulis, saya tetap saja gigih untuk menemukan hal-hal lain yang bisa menggantikannya.

Saya sangat menyukai menulis. Saya mencintainya, dan sudah bertahun-tahun bertahan untuknya. Tapi, bisa menemukan alasan untuk tidak melakukannya kadang jauh lebih menyenangkan.

***

Cerita saya tentang upaya-upaya untuk tidak menulis di atas memberikan setidaknya dua gambaran jelas: 1) menulis itu perbuatan baik; 2) menulis itu berat.

Dua hal itu, dengan cara sangat mudah, bisa saling menjelaskan. Namun, saya mau memberi sedikit penjabaran. Menengok kembali betapa kerasnya saya berusaha menemukan alasan, pembenaran, untuk tidak menulis, saya sedikit yakin bahwa menulis boleh jadi memiliki kedudukan sejajar dengan perbuatan-perbuatan baik yang lain, atau bahkan dengan ibadah—jika pakai terma agama. Itulah kenapa—katakanlah seperti salat tepat waktu, puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, bersedekah, membayar zakat, dll.—menulis selalu menghadapi godaan begitu ia hendak ditunaikan. Selalu ada setan untuk setiap langkah menuju menulis. Jika bukan sejenis iblis durhaka yang mengajak orang-orang beriman kepada dosa, pastilah setan itu berbentuk manusia, yang wajah dan cara berpikirnya serupa penulisnya.

Lalu, kenapa menulis itu berat? Karena tak ada kebaikan yang bisa dilakukan dengan gampang. (Kecuali Anda percaya betul dengan lirik lagu Rhoma Irama.)

Oh ya, tulisan ini saya kirimkan ke redaksi di saat yang jauh lebih terlambat dari biasanya. Tahu kenapa? Saya kira karena saya mulai menjadi semakin tua dan melambat, semakin mudah capek dan gampang diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saja saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.

BACA JUGA Ideal dan Ironi dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.