Warung Sate Crepeh Tenda Biru Rembang, Ketiban Hoki Desy Ratnasari

Sudah turun temurun empat generasi

Pelanggan Sate Crepeh Tenda Biru.

Ada cukup banyak warung sate srepeh bertebaran di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun, Warung Sate Crepeh Tenda Biru menjadi yang paling ramai di antara yang lain. Sempat tidak memiliki banyak pelanggan, warung legend ini lalu digandrungi banyak kalangan lantaran ketiban hoki dari Desy Ratnasari.

***

Tidak sulit untuk menemukan lokasi Warung Sate Crepeh Tenda Biru karena letaknya yang berada di pusat Kota Rembang. Tepatnya di Jl. Raden Saleh, Sawahan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Atau mudahnya, setelah Perempatan Jaini kalau merujuk kode yang digunakan oleh orang-orang Rembang sendiri.

Persis di pinggir jalan utama ada warung—tak terlalu besar, tapi juga tak kecil-kecil amat—bertuliskan “Lontong Tahu Crepeh Tenda Biru”. Jangan terkecoh dengan tulisan “Kantor Pos” yang terpampang besar di atas warung. Dulunya lokasi tersebut memang digunakan sebagi kantor pos. Namun, setelah kantor pos di situ berhenti beroperasi, lokasi tersebut kemudian menjadi tempat dibukanya Warung Sate Crepeh Tenda Biru.

Biasanya akan ada tukang parkir yang berjaga di depan warung sesaat setelah Warung Sate Crepeh Tenda Biru buka pukul 16.00 WIB. Karena tidak lama setelah dibuka, warung tersebut bisa dipastikan akan selalu ramai dengan hilir-mudik para pembeli. Situasi yang bakal terus berlanjut—bahkan cenderung makin ramai—hingga warung ditutup pukul 21.00 WIB.

Kurang lebih demikianlah yang diakui Muhammad Jakfar (53), pemilik Warung Sate Crepeh Tenda Biru yang saya temui Selasa, (6/01/2022) pukul 16.20 WIB.

Sedikit, laki-laki yang akrab dipanggil Lik Jakfar ini juga menjelaskan alasan disebut dengan sate srepeh. Menurutnya, dinamakan demikian karena satenya terbuat dari daging ayam yang diiris tipis-tipis/pipih.

“Pipih itu kalau kata orang sini kan srepeh atau crepeh. Dinamakan sate srepeh atau sate crepeh karena dagingnya diiris tipis-tipis. Saya sendiri pakai istilah crepeh,” tuturnya menjelaskan mengapa menggunakan kata crepeh untuk nama warungnya.

“Dulu yang ngurus warung ini cuma berdua saja, saya dan istri saya. Tapi kok tambah ramai-tambah ramai, jadi kewalahan. Akhirnya minta sepupu buat bantu-bantu,” ujarnya saat saya mengambil duduk persis di hadapan meja menu yang ia tunggui.

Di hadapan Lik Jakfar, tersaji beraneka macam pilihan lauk dan sayur. Ada tempe, tahu, sambal kecap, sayur lodeh, dan tentunya menu andalan; beberapa tusuk sate srepeh beserta bumbu khususnya.

“Untuk sate srepeh beserta bumbunya memang sengaja diolah dari rumah. Jadi sampai di sini tinggal santap, tidak usah bakar-bakar lagi,” terang Lik Jakfar.

Ada dua alasan kenapa sate srepeh di Warung Sate Crepeh Tenda Biru diolah dari rumah. Pertama, kaitannya dengan bumbu dan resep rahasia. Tentu agar tidak diketahui publik. Kedua, mengantisipasi ramainya pembeli yang datang. Jika sate srepeh sudah siap saji, tentunya pembeli bisa langsung menikmati tanpa harus menunggu lama.

“Itu yang membedakan Sate Crepeh Tenda Biru dengan sate dari daerah-daerah lain. Proses pembuatannya sudah sangat berbeda,” ucap Lik Jakfar.

Perbedaan lain, tak seperti kebanyakan sate yang menggunakan bumbu kecap atau bumbu kacang, sate srepeh justru menggunakan bumbu santan. Dijelaskan Lik Jakfar, bumbu santan tersebut diolah dengan campuran gula merah, kemiri, dan bahan-bahan dapur lainnya. Lalu tidak lupa diolah dengan menggunakan resep rahasia agar memiliki cita rasa yang khas.

Ketiban hoki dari Desy Ratnasari

Kepada saya Lik Jakfar bercerita agak panjang mengenai keberadaan Warung Sate Crepeh Tenda Biru.

Lik Jakfar sendiri merupakan generasi keempat yang memegang warung sate tersebut. Awal mula yang membuka usaha adalah kakek buyutnya. Sayangnya ia tidak tahu kapan persisnya sang kakak buyut mulai berjualan. Yang ia tahu dari Pakliknya, dulu sekali, kakek buyutnya berjualan dengan cara dipikul. Keliling dari satu titik lokasi ke titik lokasi yang lain.

warung sate srepeh, desy ratnasari
Lik Jakfar (53) generasi keempat pemilik Warung Sate Crepeh Tenda Biru. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Saat usaha sate srepeh dipegang generasi kedua, yakni di tangan kakek Lik Jakfar, barulah mulai membuka warung. Namun, masih sering berpindah-pindah tempat.

“Pindah ke sini kurang strategis, pindah ke situ kurang strategis. Pelanggannya tidak banyak, Mas, jadi ya sering sewa tempat pindah-pindah,” tutur Lik Jakfar.

Pada saat-saat itu pun masih belum menggunakan nama “Tenda Biru”. Memang layar penutup warung adalah terpal berwarna biru. Hanya saja masih belum terbesit nama “Tenda Biru” untuk digunakan sebagai nama warung.

Nama yang digunakan masih seada-adanya, yaitu “Lontong dan Nasi Tahu Srepeh”. Nama itu digunakan hingga warung tersebut dipegang oleh generasi ketiga, yakni Paklik Lik Jakfar.

“Loh, kok mboten dipegang bapak Jenengan, Lik?” tanya saya di antara jeda cerita Lik Jakfar.

“Bapak saya tidak mau. Alhasil dipegang oleh Paklik saya,” jawab Lik Jakfar dengan gaya berceritanya yang flamboyan.

Pria asli Sawahan, Kabupaten Rembang itu melanjutkan, di masa-masa awal Pakliknya memegang warung memang terkesan tidak ada perubahan berarti dibanding dengan masa kakeknya dulu; masih tidak terlalu dilirik banyak orang.  Namun, warung sate srepeh itu seperti ketiban hoki di tahun 1996. Tahun di mana penyanyi Desy Ratnasari tengah ngehits dengan lagu “Tenda Biru”-nya.

Pada tahun tersebut, lagu “Tenda Biru” yang dibawakan oleh Desy Ratnasari memang sedang sangat digandrungi oleh masyarakat Rembang. Lagu “Tenda Biru” bahkan menjadi playlist wajib yang mesti diputar saat sedang ada hajatan warga. Dari khitanan hingga acara kawinan.

Dari situ Paklik Lik Jakfar lantas terinspirasi untuk memberi nama warungnya dengan embel-embel “Tenda Biru”. Di samping karena penutup warung yang berupa terpal berwarna biru, Tenda Biru akan terdengar sangat familiar di telinga masyarakat Rembang. Tiap kali mendengar “Tanda Biru”, ya apalagi kalau bukan Tenda Biru-nya Desy Ratnasari.

Dan siapa nyana, nama “Tenda Biru” kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Rembang. Berangsur-angsur Warung Sate Crepeh Tenda Biru—yang saat itu masih dikelola Paklik Lik Jakfar—mulai diminati banyak kalangan.

“Sejak dikasih nama Tenda Biru ndilalah jadi ramai sekali, Mas. Hari ke hari tambah ramai terus, sampai akhirnya bisa punya pelanggan tetap,” ungkap Lik Jakfar.

“Ketiban hoki dari Mbak Desy, hehehehe,” sambungnya dengan sedikit tergelak.

Sempat tutup beberapa tahun

Lik Jakfar mengungkapkan, ia sebenarnya tidak pernah punya bayangan akan meneruskan usaha sate srepeh yang turun-temurun dari kakek buyutnya tersebut. Ketika ia masih remaja, seturut pengakuannya, sesekali ia memang ikut bantu-bantu di warung Pakliknya. Namun, ia mengaku hanya ingin sekadar membantu, tidak ingin terlibat terlalu jauh.

Bahkan ketika beranjak dewasa, ia memilih jalannya sendiri dengan menjadi karyawan di salah satu toko elektronik di Rembang.

Warung Sate Crepeh Tenda Biru yang dipegang Pakliknya pada masa-masa itu sebenarnya sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat Rembang. Akan tetapi, warung itu terpaksa harus tutup selama beberapa tahun lantaran Paklik Lik Jakfar meninggal dunia. Sementara dari anak-anak Pakliknya tidak ada yang mau meneruskan.

“Entah berapa tahun tidak jalan, saya agak lupa. Cuma akhirnya saya buka lagi pada tahun 2012,” tutur Lik Jakfar.

Seporsi sate crepeh Tenda Biru. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

“Pikir saya, eman eg, Mas. Secara, warung ini sudah ada sejak zaman kakek buyut, mosok tidak ada yang meneruskan. Lagipula waktu itu toko elektronik tempat saya bekerja kebakaran. Saya nganggur. Jadi ya sudah saya putuskan buka warung sate srepeh ini lagi,” lanjutnya.

Setelah resmi menjadi pemegang Warung Sate Crepeh Tenda Biru per 2012 itu, Lik Jakfar mengaku melakukan sedikit modifikasi terhadap resep yang diturunkan oleh kakek buyutnya. Ia memberi sedikit tambahan bumbu yang bisa membuat sate srepehnya jadi lebih gurih dan bikin nagih.

Katanya, dalam keluarganya memang tidak ada masalah jika ingin memodifikasi resep yang sudah ada. Karena menurutnya, orang itu lain masa lain selera. Perubahan resep yang dilakukan bertujuan untuk menciptakan cita rasa yang lebih nikmat dan lebih bisa diterima oleh lidah semua kalangan.

“Soal rasa sudah beda antara olahan saya dengan punya Paklik dulu. Pelanggannya pun lebih banyakan di masa saya,” ucap Lik Jakfar dengan agak kikuk.

Tidak hanya dari kalangan masyarakat umum, Warung Sate Crepeh Tenda Biru juga sering disinggahi pejabat daerah, food vlogger, traveler, hingga tokoh publik. Dua yang menurutnya paling berkesan adalah ketika ia kedatangan Andi F Noya dan seniman tari Didik Nini Thowok. Momen saat Andi F Noya dan Didik Nini Thowok singgah di warungnya sampai ia abadikan dalam sebuah bingkai foto yang ia pajang di dinding warung.

“Wartawan kuliner, terus anak-anak dari sekolah tata boga juga ada yang datang untuk ngobrol-ngobrol mengenai sate srepeh ini,” imbuhnya.

Pelukis yang lebih lihai meracik bumbu

Keberadaan beberapa lukisan yang dipajang di dinding Warung Sate Crepeh Tenda Biru cukup mencuri perhatian saya.

Diakui Lik Jakfar, lukisan itu bukan semata sebagai hiasan dinding belaka. Lebih dari itu, lukisan-lukisan itu menyimpan banyak memori ihwal masa muda Lik Jakfar dengan segala idealisme yang ia miliki.

“Itu lukisan dari teman baik saya yang seorang pelukis dari Sidoarjo. Saya pajang sebagai kenang-kanangan,” tuturnya.

Lik Jakfar bercerita, dulu sekali ia sempat menekuni dunia seni lukis. Ia menyebut, kecenderungannya pada seni lukis sedikit banyak dipengaruhi oleh sang ayah yang katanya juga memiliki atensi tersendiri terhadap kesenian. Ia bahkan mengaku sempat punya bayangan ingin menjadi pelukis. Makanya ia memiliki beberapa teman dari kalangan pelukis yang rata-rata berasal dari luar Rembang.

Hanya saja ia akhirnya sadar, tangannya ternyata jauh lebih lihai meracik bumbu ketimbang menabur warna di atas kanvas. Toh baginya, menjadi penjual sate pun pada dasarnya juga layak disebut sebagai seniman. Karena dalam meracik bumbu atau mengolah masakan kan termasuk seni juga; seni meramu rasa.

“Kalau melukis bisa nggeh bisa, Mas. Tapi ya cuma sekadar bisa, tidak terlalu mendalami (teknik-tekniknya). Jadi ya sudahlah, tidak saya teruskan. Ya sudah begini (jualan sate) saja,” ujarnya dengan pandangan menelisik satu per satu lukisan yang terpajang di dinding warung.

“Tapi sampai sekarang saya masih suka sekali dengan seni lukis. Mungkin karena saya punya darah seni dari bapak,” sambungnya sesaat setelah mengalihkan pandangan matanya ke arah saya, memastikan kalau saya masih khusyuk menyimak.

Ngalap cukup jadi prinsip hidup

Petang itu saya juga berbincang dengan Nanik Sri Lestari, istri Lik Jakfar. Sementara Lik Jakfar sibuk melayanai pembeli, Bu Nanik yang gantian bercerita.

Lik Jafar, menyajikan menu sate crepeh. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Ibu-ibu berkacamata itu mengatakan, sebenarnya ia dan Lik Jakfar sering mendapat permintaan membuat sate untuk acara-acara besar. Mulai dari hajatan (kawinan, khitanan, dan sejenisnya), acara temu keluarga besar, hingga acara yang digelar oleh pejabat di lingkungan Pemkab Rembang. Namun, hingga saat ini tidak satu pun ia terima.

Bu Nanik mengaku sudah merasa cukup dengan hanya julan di jam buka warungnya saja (16.00 WIB-21.00 WIB). Di luar jam itu baginya sudah menjadi waktu untuk istirahat dan kumpul dengan anak-anak di rumah.

“Sering dapat permintaan yang modelnya kayak prasmanan. Cuma ribet, Mas, jadi tidak kami ambil. Baru saja kemarin Pak Bupati minta kami buat menyiapkan (sate srepeh) pas ada acara di kediamannya. Itu saja kami tolak,” ucapnya.

“Tapi misalnya diterima kan uangnya gede, Bu?” pancing saya.

Nggeh gede, Mas. Tapi tidak usah lah. Kami tidak mau ngoyo-ngoyo kalau cari uang. Pokoknya ngalap (merasa) cukup. Wong rezeki sudah ada yang ngatur,” jawabnya dengan mengulum senyum.

Tak hanya itu, Bu Nanik juga tidak tertarik untuk memasarkan sate srepehnya melalui  media online. Di samping karena ribetnya persoalan teknis, Bu Nanik mengaku lebih suka melayani pembeli di warungnya secara langsung. Karena dengan begitu ia bisa berinteraksi dengan pembeli, saling bertegur sapa, dan sesekali bertukar cerita tentang urusan pekerjaan, keluarga, juga tentang apa saja.

Selain itu, baginya, ada perasaan lega tersendiri tiap kali melihat orang-orang singgah ke warungnya; melihat mereka duduk dan bercengkerama sambil menunggu pesanan mereka dibuat. Pemandangan yang tentu tidak akan ia dapat jika ia menggunakan sistem delivery order. Karena pastinya akan lebih banyak orang yang lebih nyaman memesan secara online ketimbang repot-repot datang ke warung. Apalagi jika sedang turun hujan seperti sore itu.

“Kalau mau menikmati sate srepeh ya langsung saja ke sini. Tenda Biru, ada tulisannya di depan,” tuturnya.

Kalau ada yang ia inginkan untuk Warung Sate Crepeh Tenda Biru, Bu Nanik berharap suatu saat dua anaknya—atau salah satunya—mau meneruskan usaha sate srepeh yang sudah turun-temurun di keluarganya tersebut. Meski satu sisi ia dan Lik Jakfar juga ingin memberi kebebasan bagi dua anaknya untuk menentukan jalan hidup seperti apa yang hendak mereka pilih kelak.

“Kami nikahnya telat, Mas. Dua anak kami masih SMP. Satunya sudah kelas tiga, kalau yang kecil masih kelas satu. Ya nanti sedikit-sedikit kami arahkan juga buat meneruskan (Warung Sate Crepeh Tenda Biru). Eman kalau tidak diteruskan,” kata Lik Jakfar memotong obrolan antara saya dengan Bu Nanik.

Sesaat sebelum beranjak pulang, saya sempat sedikit meminta testimoni dari Purnomo (58), salah satu pelanggan tetap Lik Jakfar.

Pak Pur, sapaan akrabnya, mengaku sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan di Warung Sate Crepeh Tenda Biru. Dalam sepekan, ia bisa datang dua hingga tiga kali. Ia dan istrinya biasanya akan mengambil duduk persis di hadapan Lik Jakfar. Sembari mengganyang sate srepeh yang ia pesan, ia akan menghabiskan sisa sore hari dengan ngobrol tentang banyak hal bersama Lik Jakfar.

“Karena bumbunya pakai santan ya jadinya unik. Itu pertama. Kedua, rasanya gurih kalau menurut saya. Sayur lodeh yang diguyur pakai sambal kecap juga suweger. Tambah suwger karena alas makannya pakai daun jati,” ungkapnya.

Sebagai tambahan informasi, sate srepeh bisa dinikmati dengan nasi atau lontong. Nasi atau lontong tersebut kemudian akan diguyur dengan sayur lodeh, sambal kecap, dan ditaburi beberapa topping tambahan seperti kecambah dan irisan daun seledri.

“Oh ya, satu lagi. Penjualnya (Lik Jakfar) ini orangnya ramah. Jadinya suasana makan di sini terasa lebih nikmat,” tandas Pak Pur.

Reporter : Muchamad Aly Reza
Editor      : Agung Purwandono

BACA JUGA  Kampung Kemasan, Potret Kejayaan Perdagangan Gresik di Masa Silam dan  liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version